Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

KAI Perluas Pemanfaatan Energi Terbarukan, Biodiesel B50 Mulai Digunakan pada Lokomotif dan Kereta Pembangkit

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 15 Juli 2026 | 06:55 WIB
KAI Daop 8 Surabaya uji coba Biodiesel B50 pada lokomotif CC206. (KAI)
KAI Daop 8 Surabaya uji coba Biodiesel B50 pada lokomotif CC206. (KAI)

RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50 secara bertahap pada sarana diesel sejak 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut mencakup lokomotif dan kereta pembangkit setelah melalui serangkaian pengujian teknis untuk memastikan aspek keselamatan, keandalan, serta kesiapan operasional tetap terjaga.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, penerapan B50 menjadi bentuk dukungan perusahaan terhadap kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya domestik.

"Sejak 1 Juli 2026, KAI mulai menerapkan B50 secara bertahap pada sarana diesel sesuai kebijakan pemerintah. Setiap tahap kami persiapkan melalui pengujian teknis dan evaluasi operasional agar transisi energi tetap berjalan selaras dengan keselamatan perjalanan serta keandalan sarana," ujarnya, dikutip Antara.

B50 merupakan bahan bakar dengan komposisi 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen solar. Peningkatan kandungan biodiesel diharapkan mampu memperbesar pemanfaatan energi terbarukan dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dari sisi lingkungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan implementasi B50 secara nasional mampu menekan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan potensi penurunan emisi melalui penerapan B40 yang mencapai 39,66 juta ton.

Sebelum diterapkan, KAI melakukan pengujian menyeluruh pada mesin diesel lokomotif maupun kereta pembangkit. Pengujian meliputi performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas pembakaran, emisi gas buang, kondisi filter, pelumas, hingga komponen sistem bahan bakar.

Pada kereta pembangkit, pengujian difokuskan untuk memastikan genset tetap mampu menyuplai kebutuhan listrik selama perjalanan. Sementara pada lokomotif, evaluasi diarahkan untuk mengukur respons mesin terhadap karakteristik operasional kereta dengan variasi beban dan durasi perjalanan.

"Pemantauan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kualitas bahan bakar, kondisi mesin, filter, hingga pola perawatan. Evaluasi akan terus dilaksanakan agar penerapan B50 dapat mendukung operasional kereta api secara aman, andal, dan terukur," kata Anne.

KAI menyebut pengalaman menggunakan biodiesel pada tahap sebelumnya, mulai dari B35 hingga B40, menjadi bekal penting dalam implementasi B50. Setiap peningkatan kadar biodiesel diikuti penyesuaian prosedur pemeriksaan, pemeliharaan, pengelolaan bahan bakar, serta peningkatan kompetensi pekerja yang menangani sarana diesel.

Selain menerapkan energi yang lebih ramah lingkungan pada armada kereta, KAI juga terus memperkuat perannya dalam mendukung distribusi energi nasional melalui layanan logistik berbasis rel.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, KAI mengangkut 1.338.180 ton bahan bakar minyak (BBM). Jumlah tersebut meningkat 4,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 1.278.621 ton.

Salah satu layanan strategis yang dijalankan adalah distribusi avtur dari Stasiun Cilacap menuju Stasiun Rewulu. Selanjutnya, avtur didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan operasional penerbangan di Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport) di Kulon Progo.

Menurut Anne, layanan logistik berbasis kereta api menjadi bagian penting dalam rantai pasok energi nasional karena mampu mengangkut muatan dalam jumlah besar dengan jadwal yang terukur, sekaligus membantu mengurangi beban distribusi melalui jalur darat.

"KAI menjalankan peran dari dua sisi. Pada operasional sarana diesel, kami menerapkan B50 sebagai bagian dari transisi energi. Pada layanan logistik, KAI menjaga kelancaran distribusi BBM, termasuk avtur yang mendukung aktivitas penerbangan di Bandara YIA," jelasnya.

Ia menambahkan, penerapan B50 dan peningkatan layanan distribusi BBM menunjukkan eratnya keterkaitan sektor transportasi dengan ketahanan energi dan aktivitas ekonomi nasional. Keandalan sarana kereta api mendukung mobilitas masyarakat, sementara distribusi logistik yang lancar membantu menjaga pasokan energi bagi industri, masyarakat, dan sektor transportasi lainnya.

"KAI akan terus meningkatkan kesiapan sarana, kualitas pemeliharaan, kompetensi pekerja, dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan. Langkah tersebut penting agar dukungan KAI terhadap kebijakan energi nasional berjalan dengan tetap mengutamakan keselamatan, keandalan operasi, dan kualitas layanan," pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
KAI