RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat KA Joglosemarkerto sebagai salah satu layanan kereta api komersial paling diminati masyarakat sepanjang Semester I 2026. Selama periode Januari hingga Juni 2026, seluruh perjalanan Joglosemarkerto melayani 730.575 pelanggan atau meningkat 10,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 662.409 pelanggan.
Dominasi Joglosemarkerto juga terlihat dalam daftar kereta api komersial dengan volume pelanggan tertinggi. KA 187 Joglosemarkerto menempati posisi pertama dengan melayani 268.545 pelanggan, sedangkan KA 193 Joglosemarkerto berada di peringkat kedua dengan 253.411 pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan tingginya minat masyarakat terhadap Joglosemarkerto tidak terlepas dari pola perjalanan melingkar yang menghubungkan sejumlah kota strategis di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut Anne, layanan tersebut mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan perjalanan masyarakat, mulai dari bekerja, menempuh pendidikan, menjalankan usaha, mengakses layanan kesehatan, mengunjungi keluarga hingga berwisata.
"Joglosemarkerto menjawab kebutuhan perjalanan antarkota yang sangat beragam. Pelanggan dapat menggunakannya untuk bekerja, menempuh pendidikan, menjalankan usaha, mengunjungi keluarga, memperoleh layanan kesehatan, maupun menikmati destinasi wisata," ujarnya, dikutip Antara.
KA 187 Joglosemarkerto melayani relasi Solo Balapan–Semarang Tawang–Tegal–Purwokerto–Solo Balapan–Semarang Tawang. Sementara KA 193 melayani relasi Solo Balapan–Purwokerto–Tegal–Semarang Tawang–Solo Balapan.
Rute tersebut menghubungkan berbagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial, mulai dari Solo dan Yogyakarta sebagai kota pendidikan, budaya, dan pariwisata, Purwokerto sebagai pusat aktivitas masyarakat Banyumas, Tegal dan Pekalongan sebagai kawasan perdagangan dan industri, hingga Semarang sebagai pusat pemerintahan, industri, perdagangan, konstruksi, dan jasa di Jawa Tengah.
Keunggulan lain Joglosemarkerto terletak pada pola operasional yang memungkinkan satu kursi digunakan secara bergantian oleh beberapa pelanggan dalam satu perjalanan. Setelah pelanggan turun di kota tujuan, kursi yang sama dapat kembali digunakan oleh pelanggan lain pada segmen berikutnya.
Sistem tersebut tercermin dari tingkat okupansi KA 187 yang mencapai 255 persen dan KA 193 sebesar 241 persen selama Semester I 2026. Angka okupansi di atas 100 persen tidak menunjukkan jumlah penumpang yang berada di dalam kereta secara bersamaan, melainkan menggambarkan tingginya pergantian penggunaan kursi pada berbagai segmen perjalanan.
Sebagai ilustrasi, kursi yang digunakan pelanggan dari Solo menuju Semarang dapat kembali dimanfaatkan pelanggan lain untuk perjalanan Semarang menuju Pekalongan atau Tegal. Pola ini memungkinkan kapasitas kereta melayani lebih banyak perjalanan antarkota dalam satu rangkaian perjalanan.
"Tingginya pergantian penggunaan kursi menunjukkan bahwa layanan ini relevan untuk perjalanan jarak pendek, menengah, maupun perjalanan yang lebih panjang," kata Anne.
KAI menilai tingginya mobilitas di sepanjang lintasan Joglosemarkerto juga didukung pertumbuhan aktivitas ekonomi di berbagai daerah yang dilaluinya. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,89 persen pada triwulan I 2026, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta meningkat 5,84 persen pada periode yang sama. Di kedua wilayah tersebut, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi.
Sementara itu, ekonomi Kota Semarang sepanjang 2025 tumbuh 6,49 persen dengan industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan sebagai penyumbang utama produk domestik regional bruto. Kota Pekalongan juga ditopang sektor perdagangan dan industri, sedangkan Kabupaten Banyumas mencatat lebih dari 1,13 juta perjalanan wisatawan nusantara selama Januari hingga Februari 2026.
Di sisi lain, ekonomi Kota Surakarta pada 2025 tumbuh 5,63 persen dengan sektor informasi dan komunikasi menjadi lapangan usaha yang mencatat kenaikan tertinggi.
Menurut Anne, keragaman karakter ekonomi di sepanjang lintasan membuat Joglosemarkerto dimanfaatkan masyarakat untuk beragam kepentingan, mulai dari aktivitas perdagangan, kawasan industri, kampus, rumah sakit, perkantoran, hotel, pusat kuliner hingga destinasi wisata.
"Tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, akses antarkota yang baik juga membantu mempertemukan pelanggan dengan produk, jasa, pendidikan, pekerjaan, dan destinasi yang tersedia di masing-masing daerah," jelasnya.
Meningkatnya kinerja Joglosemarkerto juga sejalan dengan pertumbuhan penggunaan kereta api jarak jauh komersial KAI secara nasional. Selama Semester I 2026, layanan KA Jarak Jauh komersial melayani 19.230.100 pelanggan atau meningkat 8,8 persen dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 17.670.625 pelanggan.
Selain dua perjalanan Joglosemarkerto di posisi teratas, daftar 10 besar kereta komersial dengan volume pelanggan tertinggi juga diisi KA Jayakarta, Kertajaya, Logawa, Ambarawa Ekspres, serta Ranggajati.
KAI menilai tingginya volume pelanggan Joglosemarkerto menunjukkan bahwa kebutuhan perjalanan antarkota regional terus menguat. Konektivitas antara kota pendidikan, pusat perdagangan, kawasan industri, pusat pemerintahan, dan daerah wisata mampu membentuk pasar perjalanan yang besar tanpa seluruh arus mobilitas harus bertumpu pada Jakarta maupun Surabaya.
Anne menambahkan, pola naik-turun pelanggan pada setiap segmen perjalanan menjadi dasar penting bagi KAI dalam menyusun kapasitas, jadwal perjalanan, hingga penentuan titik pemberhentian agar semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat di setiap daerah.
Editor : Lugas Rumpakaadi