RADARBANYUWANGI.ID - Taman Sritanjung masih menjadi salah satu ruang terbuka hijau (RTH) paling ikonik di Kabupaten Banyuwangi.
Berlokasi di jantung kota, berdampingan dengan Masjid Agung Baiturrahman dan Pendapa Sabha Swagata Blambangan, taman ini tak hanya menjadi paru-paru kota, tetapi juga ruang interaksi sosial yang menyimpan kisah sejarah dan legenda yang melekat dengan nama Banyuwangi.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana taman tetap ramai sejak pagi hingga malam hari.
Pada siang hari, rindangnya pepohonan tua menciptakan suasana teduh yang dimanfaatkan masyarakat untuk beristirahat maupun berolahraga ringan.
Fasilitas jogging track dan batu refleksi kaki menjadi pilihan pengunjung yang ingin menjaga kebugaran di tengah aktivitas harian.
"Kalau siang suasananya segar buat istirahat sejenak, rindang sekali. Tapi yang paling dinanti biasanya sore menjelang malam," ujar Handoko, warga Kecamatan Giri yang datang bersama keluarganya.
Memasuki petang, wajah Taman Sritanjung berubah semakin semarak.
Lampu-lampu dekoratif yang menghiasi berbagai sudut taman menghadirkan suasana estetik sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Beragam kalangan, mulai komunitas anak muda, keluarga, hingga wisatawan luar daerah, memanfaatkan ruang publik tersebut sebagai tempat bersantai dan menikmati suasana pusat kota Banyuwangi.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi masyarakat juga tumbuh di kawasan sekitar taman.
Deretan pedagang kaki lima (PKL) yang tertata menyuguhkan aneka kuliner khas Banyuwangi, mulai makanan tradisional hingga kopi khas Osing.
Kehadiran sentra kuliner tersebut menjadi pelengkap bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana malam sembari mencicipi sajian lokal.
Penataan kawasan yang dilakukan secara konsisten oleh pemerintah daerah menjadikan Taman Sritanjung lebih dari sekadar ruang hijau.
Taman ini berkembang menjadi ruang berkumpul masyarakat, panggung berbagai aktivitas seni dan budaya, sekaligus wajah tata kota Banyuwangi yang nyaman dan humanis.
Namun, nama Sritanjung yang melekat pada taman tersebut bukan sekadar penanda lokasi.
Di baliknya tersimpan legenda yang diyakini menjadi asal-usul nama Banyuwangi.
Budayawan Banyuwangi, Aekanu Hariyono, menjelaskan kisah Sri Tanjung-Sidapaksa memiliki sejumlah versi karena diwariskan secara lisan sejak masa Kerajaan Majapahit.
Kendati demikian, inti ceritanya tetap sama, yakni tentang kesetiaan seorang istri yang harus menghadapi fitnah hingga kehilangan nyawa.
Dalam kisah tersebut, Raden Sidapaksa merupakan seorang ksatria yang mengabdi kepada Raja Sulakrama di Negeri Sindureja.
Saat menjalankan tugas mencari obat kepada Bhagawan Tamba Petra, Sidapaksa bertemu dengan Sri Tanjung, seorang gadis cantik yang merupakan putri dari seorang bidadari dan manusia.
Pertemuan itu berujung pada pernikahan keduanya.
Kecantikan Sri Tanjung kemudian membuat Raja Sulakrama jatuh hati.
Sang raja pun berupaya memisahkan pasangan tersebut dengan mengirim Sidapaksa menjalankan tugas ke kahyangan.
Ketika Sidapaksa pergi, Raja Sulakrama berusaha memaksa Sri Tanjung memenuhi keinginannya. Sri Tanjung menolak, tetapi situasi tersebut dimanfaatkan sang raja untuk memfitnahnya.
"Sidapaksa termakan hasutan sang raja dan mengira istrinya telah berselingkuh, sehingga dia terbakar amarah dan kecemburuan," tutur Aekanu.
Dalam keadaan dipenuhi amarah, Sidapaksa membawa Sri Tanjung ke sebuah telaga.
Sebelum dibunuh, Sri Tanjung bersumpah bahwa apabila dirinya tidak bersalah, darah yang keluar dari tubuhnya akan berubah menjadi air yang harum.
Setelah keris Sidapaksa menembus tubuhnya, keajaiban pun terjadi.
Dari luka Sri Tanjung tidak mengalir darah, melainkan air yang mengeluarkan aroma harum semerbak.
Peristiwa itulah yang menyadarkan Sidapaksa bahwa istrinya tidak bersalah.
"Dalam kisah itu, Sidapaksa tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berteriak 'Banyu Wangi'. Dari situlah nama Banyuwangi muncul," jelas Aekanu.
Konon, air yang harum tersebut menjadi asal-usul nama Banyuwangi, yang secara harfiah berarti air yang wangi.
Legenda Sri Tanjung-Sidapaksa hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Bumi Blambangan.
Editor : Lugas Rumpakaadi