RADARBANYUWANGI.ID - Lonjakan jumlah pengguna LRT Jabodebek sepanjang 2026 mendorong operator terus memperkuat kualitas pelayanan. Rata-rata penumpang pada hari kerja kini mencapai 115.095 orang per hari atau meningkat sekitar 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 94.553 pengguna. Seiring kenaikan tersebut, kompetensi Train Attendant sebagai petugas yang berinteraksi langsung dengan penumpang ikut diperkuat melalui pelatihan khusus.
Tidak hanya pada hari kerja, jumlah pengguna pada akhir pekan juga mengalami peningkatan. Rata-rata penumpang mencapai 45.436 orang, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 40.436 pengguna. Tren tersebut menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik berbasis rel terus meningkat, sekaligus menghadirkan tantangan agar kualitas pelayanan tetap terjaga di tengah mobilitas yang semakin tinggi.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, LRT Jabodebek menggelar Pelatihan Service Excellence bagi seluruh Train Attendant secara bertahap di Kantor LRT Jabodebek. Program ini dirancang untuk menyamakan standar pelayanan sehingga setiap petugas mampu memberikan layanan yang profesional, responsif, informatif, dan tetap mengutamakan keselamatan perjalanan.
Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan Train Attendant merupakan garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan pengguna selama perjalanan.
Selain memberikan informasi mengenai perjalanan, petugas juga bertanggung jawab membantu kebutuhan penumpang, menjaga keamanan dan ketertiban di dalam kereta, hingga menangani kondisi darurat sesuai prosedur operasional yang berlaku.
Menurutnya, pada sistem operasi otomatis atau Grade of Automation (GoA3), Train Attendant juga memiliki kompetensi untuk mengambil alih kendali kereta sesuai prosedur apabila dibutuhkan demi menjaga keselamatan perjalanan.
"Dengan rata-rata lebih dari 115 ribu pengguna LRT Jabodebek setiap hari kerja, kami ingin memastikan setiap Train Attendant mampu memberikan informasi yang jelas, membantu kebutuhan pengguna, serta menghadirkan pelayanan yang profesional agar masyarakat semakin percaya menggunakan transportasi publik," ujarnya, dikutip Antara.
Pelatihan menghadirkan konsultan dengan materi yang disusun berdasarkan karakteristik operasional transportasi berbasis rel. Peserta memperoleh pembekalan mengenai pola pikir pelayanan (service mindset), komunikasi operasional yang efektif, penanganan keluhan (handling complaint), service recovery, hingga pengendalian emosi ketika menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat.
Selain materi di dalam kelas, peserta juga mengikuti berbagai simulasi pelayanan. Mulai dari membantu penumpang lanjut usia, penyandang disabilitas, ibu hamil, maupun pengguna yang membutuhkan pendampingan selama perjalanan. Mereka juga berlatih memberikan informasi perjalanan secara tepat sekaligus menjalankan prosedur keselamatan sesuai standar operasional.
Melalui simulasi tersebut, setiap Train Attendant diharapkan mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat tanpa mengabaikan aspek keselamatan pengguna.
Pelatihan Service Excellence akan dilaksanakan secara bertahap hingga seluruh Train Attendant memiliki standar pelayanan yang sama. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya operator menjaga kualitas layanan di tengah peningkatan jumlah pengguna yang terus terjadi.
Editor : Lugas Rumpakaadi