Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

De Djawatan Banyuwangi Kini Jadi Langganan Syuting Film Horor Nasional, Wisatawan Berburu Atmosfer Mistis

Shinta Ayu Rahma Wardani • Rabu, 8 Juli 2026 | 21:27 WIB
De Djawatan Banyuwangi semakin dikenal sebagai lokasi syuting film horor nasional. (Banyuwangi Tourism)
De Djawatan Banyuwangi semakin dikenal sebagai lokasi syuting film horor nasional. (Banyuwangi Tourism)

RADARBANYUWANGI.ID - Hutan De Djawatan di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, memasuki babak baru dalam perjalanan pariwisatanya. Tak lagi sekadar dikenal sebagai destinasi wisata alam dengan panorama yang estetik dan romantis, kawasan hutan trembesi ini kini semakin sering dipilih sebagai lokasi syuting film horor nasional. Tren tersebut sekaligus memunculkan daya tarik baru bagi wisatawan yang ingin merasakan langsung atmosfer misterius yang selama ini hanya terlihat di layar lebar.

Keunikan De Djawatan terletak pada ratusan pohon trembesi raksasa yang telah berusia ratusan tahun. Batang-batang besar dengan kanopi yang saling bertaut membentuk lorong alami sehingga hanya sedikit cahaya matahari yang mampu menembus ke permukaan tanah. Benalu yang menyelimuti sebagian batang dan dahan semakin memperkuat kesan hutan purba yang sunyi, dramatis, sekaligus menyimpan nuansa magis.

Karakter visual itulah yang membuat kawasan ini semakin dilirik para produser film. Lanskap alaminya dinilai mampu menghadirkan suasana mencekam tanpa memerlukan banyak rekayasa artistik, sehingga menjadi nilai lebih dalam proses produksi film bergenre horor maupun misteri.

Atmosfer khas De Djawatan telah terekam dalam sejumlah produksi layar lebar. Di antaranya film Kupu-Kupu Kertas (2024), film horor Kafir Gerbang Sukma (2026), hingga film terbaru Badut Gendong (2026).

Dalam proses produksinya, pengambilan gambar dilakukan secara intensif pada siang hingga malam hari untuk menangkap perubahan suasana hutan yang berbeda di setiap waktu. Ketika cahaya mulai meredup, lanskap De Djawatan menghadirkan nuansa yang semakin dramatis dan sesuai dengan kebutuhan sinematografi film horor.

Semakin seringnya kawasan ini muncul dalam produksi nasional turut memperluas citra De Djawatan. Destinasi yang sebelumnya identik dengan wisata keluarga kini juga dikenal sebagai salah satu lokasi syuting yang memiliki karakter visual paling kuat di Banyuwangi.

Popularitas De Djawatan sebagai lokasi syuting rupanya ikut memengaruhi pola kunjungan wisatawan. Jika sebelumnya mayoritas pengunjung datang untuk berpiknik atau berburu foto berlatar hutan yang menyerupai dunia fantasi, kini mulai banyak wisatawan yang sengaja datang menjelang sore.

Mereka ingin menikmati kabut tipis yang perlahan turun di sela-sela pepohonan, menghadirkan panorama yang terasa magis sekaligus misterius. Momen tersebut juga menjadi waktu favorit para fotografer dan kreator konten digital untuk menghasilkan foto maupun video bertema sinematik yang kemudian dibagikan melalui media sosial.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daya tarik wisata Banyuwangi kini berkembang mengikuti tren industri kreatif. Lokasi yang tampil dalam film layar lebar mampu menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan yang ingin melihat langsung latar cerita dari karya yang mereka tonton.

Salah seorang pengunjung, Reni Setianingsih, 26, mengaku tertarik datang ke De Djawatan setelah sering melihat unggahan teman-temannya di media sosial.

Awalnya ia mengira keindahan yang terlihat di berbagai foto merupakan hasil penyuntingan. Namun setelah datang bersama beberapa rekannya, ia justru menemukan panorama yang dinilainya jauh lebih memukau.

"Awalnya penasaran karena sering melihat foto teman-teman. Setelah datang langsung, ternyata suasananya jauh lebih indah. Apalagi kalau diabadikan dengan kamera fotografer profesional, hasilnya sangat bagus," ujarnya.

Menurutnya, suasana hutan yang teduh dengan deretan pohon trembesi berukuran raksasa menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi wisata alam lainnya.

Selain menikmati panorama hutan, pengunjung juga dapat menjelajahi kawasan menggunakan dokar tradisional maupun menunggang kuda. Fasilitas tersebut menghadirkan pengalaman berbeda karena wisatawan dapat menyusuri lorong-lorong pepohonan dengan ritme yang lebih santai sambil menikmati suasana khas hutan trembesi.

Perpaduan lanskap alami, fasilitas wisata, dan popularitas sebagai lokasi syuting membuat profil pengunjung De Djawatan semakin beragam. Tidak hanya didominasi pencinta alam, kawasan ini juga mulai ramai dikunjungi pencinta film, komunitas fotografi, hingga kreator konten digital yang mencari latar visual unik.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana terbaik, waktu menjelang sore menjadi salah satu pilihan karena pencahayaan alami menghadirkan kesan dramatis pada setiap sudut hutan. Sementara pada siang hari, kawasan ini tetap nyaman untuk rekreasi keluarga berkat rindangnya pepohonan yang membuat udara terasa sejuk.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#De Djawatan Banyuwangi