RADARBANYUWANGI.ID - Agrowisata Tamansuruh (AWT), Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi unggulan di Banyuwangi. Memasuki pertengahan 2026, kawasan wisata berbasis agrikultur yang berada di ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut ramai dikunjungi wisatawan domestik hingga mancanegara, terutama saat digelarnya agenda rutin Senja di AWT.
Program yang berlangsung setiap akhir pekan pada awal bulan, yakni Jumat hingga Minggu, itu menjadi magnet baru karena memadukan wisata alam, seni budaya, kuliner, dan hiburan dalam satu kawasan.
Hamparan udara sejuk pegunungan berpadu dengan panorama Gunung Ijen dan Selat Bali menjadi daya tarik utama. Saat sore menjelang matahari terbenam, banyak pengunjung memilih bertahan hingga malam untuk menikmati suasana sekaligus menyaksikan berbagai pertunjukan yang disuguhkan pengelola.
"Pengunjung bisa menikmati suasana sore dari lereng gunung sembari berwisata kuliner dan menikmati aneka pertunjukan seni dan budaya lokal," ujar Hartono.
Beragam hiburan dihadirkan dalam program tersebut. Mulai Spectacular Show of Gandrung Dance, penampilan Vita Alfia bersama Mahendra Music, musik akustik, atraksi bela diri, hingga layanan terapi pijat. Konsep itu dirancang agar wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga memperoleh pengalaman wisata yang lebih lengkap.
Rangkaian kegiatan Senja di AWT juga menjadi ruang bagi pelestarian budaya sekaligus pengembangan kreativitas generasi muda. Dalam agenda Sepekan di AWT, misalnya, pengelola menggelar lomba Fashion on the Street yang diikuti pelajar tingkat TK, SD, dan SMP.
"Kegiatan ini sebagai panggung bagi anak-anak muda yang tertarik pada pengembangan bakat di bidang fesyen," kata Hartono.
Selain menikmati pertunjukan, wisatawan dapat mencoba sejumlah wahana rekreasi. Pengelola menyediakan ATV dan berkuda dengan tarif mulai Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per sesi, bergantung pada durasi dan lintasan yang dipilih.
Kawasan kuliner yang diisi pelaku UMKM lokal juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menikmati beragam makanan khas Banyuwangi, mulai jajanan tradisional seperti kucur dan cenil hingga menu andalan seperti Sego Tempong dan Pecel Pitik. Seluruhnya dijual dengan kisaran harga Rp5 ribu hingga Rp25 ribu per porsi.
Pengelola menerapkan tarif yang relatif terjangkau. Harga tiket masuk dipatok Rp10 ribu per orang untuk kunjungan reguler. Sementara pada momentum festival tertentu, seperti Sepekan di AWT, pengunjung dapat menikmati akses masuk secara gratis.
Adapun tarif parkir kendaraan roda dua berkisar Rp2 ribu hingga Rp3 ribu, sedangkan kendaraan roda empat dikenakan biaya Rp5 ribu. Fasilitas umum seperti toilet dan musala juga dapat dimanfaatkan pengunjung tanpa dipungut biaya.
Salah seorang pengunjung, Rahma, mengaku melihat perubahan signifikan di Agrowisata Tamansuruh dibanding beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, kawasan wisata tersebut kini tampil lebih tertata, bersih, dan nyaman sehingga semakin layak menjadi tujuan wisata keluarga.
"AWT di tahun 2026 ini benar-benar berubah drastis jadi makin rapi, bersih, dan hidup. Tempatnya sangat estetik dengan perpaduan rumah adat kayu khas Osing, taman bunga, dan latar Gunung Ijen yang terlihat semakin indah saat golden hour. Dengan tiket masuk Rp10 ribu dan parkir mobil Rp5 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati panorama alam, menyaksikan pertunjukan tari tradisional, sekaligus menikmati kuliner dengan harga terjangkau," ujarnya.
Keberhasilan Agrowisata Tamansuruh menghadirkan pengalaman wisata yang menggabungkan panorama alam, pertunjukan budaya, wahana rekreasi, serta pemberdayaan UMKM lokal menjadi bukti bahwa inovasi berbasis potensi daerah mampu meningkatkan daya saing sektor pariwisata Banyuwangi. Program Senja di AWT pun diharapkan terus menjadi agenda yang menarik lebih banyak wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Editor : Lugas Rumpakaadi