Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ojek Troli Gunung Ijen: Jasa Andalan Wisatawan yang Tak Kuat Mendaki, Tarif PP Capai Rp1,5 Juta

M Ksatria Raya • Selasa, 7 Juli 2026 | 05:00 WIB
Ojek troli sangat dibutuhkan wisatawan yang secara fisik tidak kuat mendaki puncak Ijen. Tarif dari loket menuju kawah Ijen dibanderol Rp 1 juta, sedangkan turunnya Rp 500 ribu. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
Ojek troli sangat dibutuhkan wisatawan yang secara fisik tidak kuat mendaki puncak Ijen. Tarif dari loket menuju kawah Ijen dibanderol Rp 1 juta, sedangkan turunnya Rp 500 ribu. (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di balik ramainya aktivitas pendakian di Taman Wisata Alam (TWA) Ijen, masih ada profesi yang bertahan dan menjadi bagian dari denyut wisata Gunung Ijen Banyuwangi. Mereka adalah para penarik ojek troli, layanan transportasi tradisional yang mengantar wisatawan naik maupun turun gunung dengan tarif mencapai Rp1,5 juta untuk perjalanan pulang-pergi.

Gerobak beroda dua yang ditarik manusia itu masih hilir mudik di jalur pendakian Ijen. Bagi wisatawan yang kelelahan, memiliki keterbatasan fisik, atau sudah lanjut usia, ojek troli menjadi solusi agar tetap bisa menikmati keindahan Kawah Ijen tanpa harus memaksakan diri berjalan kaki hingga puncak.

Menariknya, sebagian besar penarik troli merupakan mantan penambang belerang. Pengalaman bertahun-tahun menyusuri jalur terjal Kawah Ijen membuat mereka terbiasa menghadapi medan berat sambil menarik beban.

Salah satunya Wulan, warga Dusun Jambu, Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Sejak 2014, ia beralih profesi dari penambang belerang menjadi penarik ojek troli.

"Saya sudah jadi ojek troli sejak 2014. Sebelumnya merupakan penambang belerang di sini," ujarnya.

Menurut Wulan, tarif jasa troli disesuaikan dengan rute perjalanan. Untuk perjalanan naik dari Paltuding menuju kawasan puncak Ijen, wisatawan dikenai tarif Rp1 juta. Sementara perjalanan turun dipatok Rp500 ribu, sehingga tarif pulang-pergi mencapai Rp1,5 juta.

"Kalau naik sampai puncak Ijen tarifnya Rp1 juta, turunnya sekitar Rp500 ribu. Jadi pulang-pergi (PP) Rp1,5 juta," katanya.

Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga dan stamina yang tidak ringan. Saat membawa penumpang menuju puncak, troli umumnya ditarik oleh dua orang karena jalur terus menanjak. Sebaliknya, ketika perjalanan turun, satu orang penarik dinilai sudah cukup mengendalikan troli.

"Kalau untuk narik troli dari bawah biasanya dua orang, kalau turun cukup saya saja bisa," ungkapnya.

Meski tarifnya terbilang tinggi, permintaan jasa troli tetap stabil. Dalam satu pekan, Wulan rata-rata melayani empat hingga lima wisatawan. Sebagian pelanggan datang langsung, sedangkan lainnya diperoleh melalui pemesanan yang difasilitasi pemandu wisata atau agen perjalanan.

"Biasanya ada yang booking. Informasinya dari tour guide kalau ada tamu yang mau naik Ijen menggunakan troli," tuturnya.

Tarif juga dapat berubah sesuai kondisi penumpang. Jika berat badan wisatawan melebihi rata-rata atau satu troli digunakan oleh dua orang sekaligus, biaya yang dikenakan akan lebih tinggi.

"Biasanya harganya bisa berubah kalau orang yang naik beratnya di atas rata-rata ataupun satu troli dinaiki dua orang sekaligus, harganya bisa lebih tinggi," jelasnya.

Penarik troli lainnya, Samsudin, juga mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna jasa tersebut berasal dari luar negeri. Wisatawan asal Tiongkok menjadi pelanggan yang paling sering menggunakan layanan tersebut. Sementara dari Indonesia, sebagian besar berasal dari Jakarta.

"Biasanya kebanyakan wisatawan dari luar negeri yang naik ojek troli, terutama dari China. Kalau dari Indonesia biasanya orang dari Jakarta," ujarnya.

Menurut Samsudin, sebagian besar wisatawan memilih menggunakan troli karena tidak sanggup melanjutkan pendakian atau merasa kelelahan setelah mencapai puncak. Faktor usia juga menjadi alasan utama mereka memilih layanan tersebut.

"Biasanya orang naik ojek troli karena enggak kuat mendaki Ijen ataupun orang tua," katanya.

Untuk mendapatkan penumpang, ia harus terus menyusuri jalur pendakian. Dalam sehari, Samsudin bisa naik turun Gunung Ijen hingga dua kali demi menawarkan jasa kepada wisatawan yang mulai kehabisan tenaga di tengah perjalanan.

"Saya biasanya naik turun Ijen hampir dua kali untuk mencari orang yang mau naik troli. Karena wisatawan yang capek di tengah perjalanan saya tawarkan tumpangan untuk naik troli," tuturnya.

Keberadaan ojek troli juga mendapat apresiasi dari wisatawan. Sam, pelancong asal Thailand, mengaku memilih menggunakan troli saat perjalanan turun setelah kelelahan menikmati panorama Kawah Ijen.

"Saya sudah mendaki sampai puncak, tapi mau turun sudah capek, jadi saya putuskan naik ojek troli saja," katanya.

Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Banyuwangi, ojek troli menjadi lebih dari sekadar alat angkut. Profesi yang banyak dijalani mantan penambang belerang ini menjadi wajah lain wisata Ijen, sekaligus sumber penghidupan yang tetap bertahan di lereng gunung yang mendunia. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#pendakian Ijen #Ojek troli #Wisata Ijen #gunung ijen #Penambang Belerang