RADARBANYUWANGI.ID – Mendaki Taman Wisata Alam (TWA) Ijen bukan hanya menawarkan panorama kawah, udara pegunungan, dan fenomena blue fire. Di balik perjalanan menuju puncak, terdapat deretan warung kopi sederhana yang menjadi penyelamat para pendaki. Dari secangkir kopi hangat hingga mi instan, semuanya tersedia di ketinggian lebih dari 2.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), berkat perjuangan para pedagang yang rela mendaki sejak dini hari.
Warung-warung itu tersebar mulai Pos 2 hingga Pos 6 jalur pendakian Ijen. Bentuknya memang sederhana, tetapi keberadaannya menjadi bagian penting dari pengalaman wisata. Selain menjadi tempat mengisi tenaga, warung juga menjadi lokasi favorit pendaki untuk beristirahat sambil menikmati panorama pegunungan.
Salah satu sosok yang sudah akrab di kalangan pendaki adalah Pawisti Ningsih, yang lebih dikenal sebagai Bu Angga, sesuai nama anak pertamanya. Perempuan asal Desa Kampunganyar itu mengelola warung di Pos 6, titik tertinggi jalur pendakian menuju Kawah Ijen.
Ia mengaku mulai berjualan sejak 2019 atau sebelum pandemi Covid-19. Sejak saat itu, hampir setiap hari Bu Angga membuka warungnya, kecuali ketika ada keperluan pribadi atau saat jalur pendakian ditutup.
"Saya mulai berjualan di sini sebelum pandemi Covid-19 sekitar 2019. Hampir setiap hari buka, tutup kalau ada halangan saja atau kalau pendakian sedang ditutup," ujarnya.
Perjuangan membuka warung di puncak tidaklah ringan. Agar dapat melayani pendaki sejak dini hari, Bu Angga harus memulai perjalanan sekitar pukul 01.00 WIB. Dengan berjalan kaki, ia membawa stok dagangan sedikit demi sedikit menuju Pos 6 sebelum jalur pendakian dibuka pada pukul 02.00 WIB.
"Saya mendaki untuk sampai ke Pos 6 mulai pukul 01.00 sebelum pendakian dibuka pukul 02.00 dengan berjalan kaki sambil membawa stok dagangan sedikit-sedikit," katanya.
Di warungnya tersedia berbagai kebutuhan pendaki, mulai kopi saset, teh hangat, mi instan, gorengan, roti, air mineral hingga rokok. Meski berada di ketinggian sekitar 2.386 mdpl, harga yang dipatok tetap ramah di kantong.
Secangkir kopi hangat dijual Rp 5.000, Pop Mie Rp 15.000, sedangkan dua gorengan berukuran jumbo dibanderol Rp 5.000. Harga tersebut membuat banyak pendaki memilih menikmati makanan hangat di atas gunung daripada membawa bekal berlebih dari bawah.
Usaha itu juga menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan. Pada hari biasa, omzet kotor Bu Angga mencapai sekitar Rp 800 ribu per hari. Saat akhir pekan maupun musim libur panjang, pendapatannya bisa melonjak hingga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta dalam sehari.
"Kalau hari biasa biasanya pendapatan kotor saya sekitar Rp 800 ribu. Kalau weekend, terutama libur panjang, bisa sampai Rp 2 hingga Rp 3 juta dalam sehari," ungkapnya.
Setelah tiba di Pos 6, Bu Angga mulai melayani pembeli sekitar pukul 02.30 WIB. Warung biasanya tutup sekitar pukul 10.00 WIB ketika sebagian besar pendaki mulai turun meninggalkan puncak.
"Kalau saya jualan mulai sekitar pukul 02.30 sampai tutup sekitar pukul 10.00 karena jam segitu sudah banyak wisatawan yang mulai turun," ujarnya.
Baginya, membuka warung hampir setiap hari bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan pendaki yang berada jauh dari permukiman.
"Saya buka setiap hari. Kalau saya tutup banyak pendaki yang bingung nantinya mau beli-beli di mana lagi kalau sudah di puncak," katanya.
Cerita serupa disampaikan Misnadi, penjaga warung di Pos 5. Menurutnya, warung yang dikelolanya hampir tidak pernah sepi karena setiap hari selalu ada pendaki yang mampir untuk beristirahat dan menghangatkan badan.
"Kalau pendapatan kotor per harinya bisa satu jutaan karena setiap harinya mesti ada pembeli," ujarnya.
Menu yang disediakan pun hampir sama dengan warung lain di jalur pendakian, seperti kopi, Pop Mie, roti, hingga air mineral dengan harga yang relatif seragam.
Keberadaan warung-warung tersebut mendapat apresiasi dari wisatawan. Andi, pendaki asal Tuban, mengaku merasa terbantu karena tidak perlu membawa bekal makanan terlalu banyak saat mendaki Ijen.
"Enak kalau daki di Ijen enggak usah bawa makanan banyak dari bawah karena di atas banyak warung kopi sama harganya juga enggak mahal kayak sama di warung-warung kota," tuturnya.
Kini, warung-warung kopi di jalur pendakian Ijen tak sekadar menjadi tempat berjualan. Di tengah udara dingin pegunungan, secangkir kopi hangat yang disajikan para pedagang lokal telah menjadi bagian dari pengalaman yang selalu dikenang para pendaki saat menaklukkan salah satu destinasi wisata alam paling populer di Banyuwangi. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin