RADARBANYUWANGI.ID – Inovasi pariwisata Banyuwangi kembali mencuri perhatian. Program Senja di Agro Wisata Tamansuruh (AWT) semakin mengukuhkan diri sebagai destinasi favorit wisatawan setelah penampilan musisi legendaris Banyuwangi Catur Arum sukses menghibur ribuan pengunjung yang memadati kawasan wisata di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Sabtu (4/7/2026) sore.
Perpaduan panorama pegunungan, pertunjukan musik, kuliner khas, serta ruang ekspresi seni lokal menjadikan Senja di AWT bukan sekadar tempat menikmati matahari terbenam. Program ini berkembang menjadi wajah baru pariwisata Banyuwangi yang memadukan hiburan, budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam satu kawasan.
Sejak sore, ribuan wisatawan memenuhi area terbuka AWT untuk menyaksikan penampilan Catur Arum. Membawakan sejumlah lagu yang telah melekat di hati masyarakat Banyuwangi, sang maestro berhasil membangun suasana hangat yang membuat penonton larut bernyanyi bersama (sing along) di bawah langit senja.
Sorak penonton berpadu dengan semilir udara pegunungan menciptakan atmosfer yang berbeda dibanding pertunjukan musik pada umumnya.
Panorama Gunung Ijen hingga Selat Bali
Berada di ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut (mdpl) di kaki Gunung Ijen, Agro Wisata Tamansuruh menawarkan lanskap yang menjadi daya tarik tersendiri.
Dari kawasan tersebut, wisatawan dapat menikmati panorama megah Gunung Ijen di satu sisi dan hamparan Selat Bali di sisi lainnya. Udara pegunungan yang sejuk membuat pengalaman menikmati pertunjukan musik terasa semakin berkesan.
Keindahan alam itu menjadi pelengkap konsep wisata yang menggabungkan rekreasi, budaya, dan hiburan dalam satu paket.
Wisatawan Datang Bersama Keluarga
Konsep tersebut mendapat respons positif dari pengunjung. Salah satunya Rosy Angelina, wisatawan asal Jajag, Banyuwangi, yang datang bersama keluarganya.
Ia mengaku menikmati suasana berbeda yang ditawarkan Senja di AWT karena tidak hanya menghadirkan hiburan musik, tetapi juga berbagai atraksi budaya dan kuliner lokal.
"Acaranya seru sekali. Saya membawa keluarga ke sini sangat terhibur dengan sajian tradisional, musik, dan juga ada UMKM-nya. Mudah-mudahan terus konsisten memberikan keseruan seperti ini, jadi wisatawan lokal tidak perlu jauh-jauh lagi kalau mau liburan," ujarnya.
Lebih dari 50 UMKM Ikut Bergerak
Di balik kemeriahan pertunjukan, Senja di AWT juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Program yang digagas Pemerintah Kabupaten Banyuwangi itu melibatkan lebih dari 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan beragam produk kuliner.
Pengunjung dapat mencicipi berbagai hidangan khas Banyuwangi, seperti rujak soto dan kesrut, hingga jajanan tradisional seperti kue cucur gula merah. Tak hanya itu, tersedia pula aneka menu modern yang menyasar kalangan muda.
Keberadaan UMKM menjadikan kawasan wisata tidak hanya ramai oleh wisatawan, tetapi juga menghadirkan perputaran ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat lokal.
Panggung Baru bagi Seniman Banyuwangi
Tak hanya menjadi pusat kuliner dan wisata alam, Senja di AWT juga berkembang sebagai ruang ekspresi bagi pelaku seni Banyuwangi.
Sejak pertama kali diluncurkan pada 1 Mei 2026, program ini secara rutin menghadirkan pertunjukan seni tradisional maupun musik daerah sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Kehadiran Catur Arum menjadi bukti bahwa kolaborasi antara alam, budaya, dan musik mampu menciptakan daya tarik yang kuat bagi wisatawan.
Dengan konsep yang terus dikembangkan, Senja di AWT tidak hanya memperpanjang lama tinggal wisatawan di Banyuwangi, tetapi juga memperkuat posisi Agrowisata Tamansuruh sebagai destinasi wisata berbasis pengalaman (experience tourism). Perpaduan panorama alam, pertunjukan seni, kuliner khas, dan keterlibatan puluhan UMKM menunjukkan bahwa sektor pariwisata Banyuwangi terus berinovasi dengan mengedepankan budaya lokal sebagai kekuatan utama sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. (*)
Editor : Ali Sodiqin