RADARBANYUWANGI.ID – Setelah 140 tahun sejak jalur kereta api Medan–Labuhan mulai beroperasi, peran transportasi berbasis rel di Sumatera Utara terus berkembang. Tidak lagi sekadar menghubungkan kawasan perkebunan dan pelabuhan, kereta api kini menjadi penopang mobilitas jutaan warga sekaligus penggerak distribusi logistik yang menopang perekonomian daerah.
Momentum tersebut semakin menguat seiring arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan sistem perkeretaapian nasional sebagai salah satu fokus pembangunan. Dengan posisi strategis sebagai simpul konektivitas Trans Sumatera, Sumatera Utara dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat pengembangan transportasi rel dan logistik di Pulau Sumatera.
Data KAI Divre I Sumatera Utara menunjukkan minat masyarakat terhadap transportasi kereta api masih tinggi. Sepanjang 2025, jumlah pelanggan mencapai 2.638.592 orang. Sementara pada Mei 2026 saja, layanan kereta api di wilayah ini telah melayani 235.824 pelanggan.
Di sektor logistik, angkutan barang juga menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari–Mei 2026, volume angkutan barang mencapai 318.481,832 ton atau meningkat 2,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 312.169,979 ton.
Warisan Jalur Kereta Api Sejak 1886
Sejarah perkeretaapian Sumatera Utara berawal dari pesatnya perkembangan ekonomi Sumatera Timur pada akhir abad ke-19. Pada 1883, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), perusahaan kereta api swasta Belanda, mulai membangun jaringan rel untuk menghubungkan sentra perkebunan dengan pelabuhan dan pusat perdagangan.
Tonggak penting terjadi pada 25 Juli 1886 ketika jalur Medan–Labuhan sepanjang 16,743 kilometer resmi beroperasi. Jalur tersebut menjadi akses utama pengangkutan hasil perkebunan sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan ekonomi baru.
Seiring perkembangan zaman, jaringan rel terus meluas dan menjadi penghubung berbagai kota penting seperti Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, hingga Rantau Prapat. Dari komoditas tembakau Deli pada masa kolonial hingga kebutuhan masyarakat modern saat ini, kereta api tetap memainkan peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan sejarah panjang perkeretaapian di Sumatera Utara menunjukkan bahwa kereta api selalu hadir menjawab kebutuhan akses masyarakat dan dunia usaha.
“Rel Sumatera Utara lahir dari kebutuhan akses. Dulu menghubungkan perkebunan dan pelabuhan, hari ini melayani perjalanan masyarakat, rantai pasok, kawasan industri, bandara, dan pusat-pusat ekonomi,” ujarnya, dikutip Antara.
Simpul Penting Konektivitas Trans Sumatera
Saat ini jaringan aktif perkeretaapian di Sumatera Utara mencapai 476,460 kilometer dengan 43 stasiun aktif yang tersebar di 13 kabupaten dan kota.
Jaringan tersebut menghubungkan berbagai wilayah strategis, mulai Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Kisaran, Tanjungbalai, Rantau Prapat, Pematangsiantar, Belawan, Kuala Tanjung, hingga Bandara Internasional Kualanamu.
Menurut Anne, posisi geografis Sumatera Utara menjadikannya salah satu simpul penting dalam pengembangan konektivitas Trans Sumatera.
“Berangkat dari arahan Presiden, KAI melihat Sumatera Utara sebagai simpul penting Trans Sumatera. Penguatan layanan kereta api di wilayah ini harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan memperkuat efisiensi logistik daerah,” katanya.
Saat ini masyarakat dilayani melalui berbagai perjalanan kereta api seperti KA Putri Deli, KA Sribilah Utama, KA Siantar Ekspres, KA Datuk Belambangan, dan KA Sri Lelawangsa. Layanan tersebut mendukung mobilitas warga menuju pusat ekonomi, kawasan industri, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta akses menuju bandara.
Jutaan Warga Masih Mengandalkan Kereta Api
Tingginya jumlah pelanggan menunjukkan kereta api masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk bepergian antarkota maupun perjalanan harian.
Selain menawarkan jadwal yang lebih pasti, moda transportasi ini membantu masyarakat mengakses pusat pemerintahan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga kawasan pekerjaan dengan waktu tempuh yang relatif terukur.
“Bagi pelanggan, kereta api memberi kepastian perjalanan. Bagi pelaku usaha, kereta api membantu menjaga distribusi. Bagi daerah, stasiun membuka akses menuju layanan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan,” ujar Anne.
Fungsi sosial tersebut menjadikan stasiun bukan sekadar titik keberangkatan dan kedatangan, melainkan bagian penting dari penggerak aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
Angkutan Barang Terus Tumbuh
Peran kereta api dalam sektor logistik juga semakin penting. Sumatera Utara berada di antara kawasan perkebunan, pelabuhan, pusat industri, dan sentra konsumsi yang membutuhkan sistem distribusi efisien.
Sepanjang Januari–Mei 2026, komoditas terbesar yang diangkut melalui jalur rel terdiri dari BBM sebanyak 145.959,255 ton, peti kemas 130.012,781 ton, crude palm oil (CPO) 40.280,260 ton, Barang Hantaran Potongan (BHP) 1.692,906 ton, serta lateks 536,630 ton.
Data tersebut menunjukkan bahwa transportasi rel memiliki peran penting dalam mendukung distribusi energi, hasil perkebunan, produk industri, hingga kebutuhan masyarakat.
Keberadaan Pelabuhan Belawan, Kuala Tanjung, kawasan industri Sei Mangkei, serta kawasan pertumbuhan Medan-Binjai-Deli Serdang membuka peluang lebih besar bagi pengembangan logistik berbasis kereta api di masa mendatang.
Dengan jaringan yang telah terbentuk, kereta api berpotensi mengurangi beban jalan raya, mempercepat distribusi barang, sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Keselamatan Masih Menjadi Tantangan
Di tengah penguatan layanan, aspek keselamatan tetap menjadi perhatian utama.
Di wilayah Divre I Sumatera Utara terdapat 148 perlintasan sebidang terjaga yang terdiri atas 107 dijaga KAI, 15 dijaga pemerintah daerah, dua dijaga swasta, dan 24 dijaga secara swadaya. Selain itu masih terdapat 376 perlintasan sebidang yang belum terjaga, serta 17 flyover dan 17 underpass.
Kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, kepolisian, dinas perhubungan, dunia usaha, dan masyarakat agar peningkatan konektivitas berjalan seiring dengan peningkatan keselamatan perjalanan kereta api maupun pengguna jalan.
Masa Depan Perkeretaapian Sumut
Sementara itu, jalur dan stasiun yang saat ini belum aktif masih menjadi bagian dari inventarisasi dan kajian jangka panjang. Setiap rencana pengaktifan kembali akan mempertimbangkan aspek keselamatan, kesiapan infrastruktur, kebutuhan masyarakat, tata ruang, hingga potensi ekonomi wilayah.
Menurut Anne, sejarah panjang perkeretaapian Sumatera Utara harus menjadi modal untuk menghadapi kebutuhan transportasi masa depan yang semakin kompleks.
“KAI menjaga sejarah rel Sumatera Utara sebagai energi untuk melayani masa depan. Setiap peningkatan layanan akan dilakukan bertahap, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan serta kemajuan daerah,” tuturnya.
Memasuki usia 140 tahun jalur Medan–Labuhan, kereta api di Sumatera Utara terus menunjukkan perannya sebagai penghubung masyarakat, logistik, bandara, pelabuhan, dan kawasan industri. Dari jalur yang dahulu dibangun untuk mengangkut hasil perkebunan, kini jalur kereta api di Sumatera Utara bersiap mengambil peran yang lebih besar sebagai tulang punggung konektivitas Trans Sumatera dan penggerak pertumbuhan ekonomi kawasan.
Editor : Lugas Rumpakaadi