RADARBANYUWANGI.ID – Arahan Presiden untuk memperkuat konektivitas nasional kembali menegaskan pentingnya transportasi berbasis rel dalam mendukung mobilitas masyarakat dan kelancaran distribusi barang. Di Sumatera Selatan, peran tersebut telah berlangsung lebih dari satu abad dan terus berkembang mengikuti kebutuhan ekonomi serta pertumbuhan wilayah.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan sejarah panjang perkeretaapian di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa jalur rel sejak awal dibangun untuk menghubungkan pusat-pusat aktivitas ekonomi dengan kawasan produksi dan pelabuhan.
“Rel di Sumatera Selatan memiliki sejarah panjang sebagai penghubung masyarakat dan ekonomi daerah. Dengan kapasitas besar dan jaringan yang terhubung ke simpul produksi, kereta api membantu logistik lebih efisien, menjaga pasokan, serta mendukung harga yang lebih terkendali,” ujarnya, dikutip Antara.
Sejarah perkeretaapian di wilayah tersebut bermula pada 1914 saat pemerintah kolonial Belanda melalui Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) membangun jaringan rel yang menghubungkan Pelabuhan Panjang di Lampung dengan wilayah pedalaman Sumatera Selatan. Jalur tersebut dirancang untuk mendukung pengangkutan hasil bumi, hasil hutan, sumber daya alam, hingga batu bara.
Perkembangan penting terjadi pada 1 November 1915 ketika jalur Kertapati–Prabumulih sepanjang 78 kilometer mulai dioperasikan. Kehadiran jalur itu menjadikan Kertapati sebagai simpul utama transportasi rel di Palembang, sementara Prabumulih berkembang menjadi titik penghubung strategis menuju Lampung, Muara Enim, Lahat, dan Lubuklinggau.
Ekspansi jaringan terus dilakukan untuk menjangkau kawasan tambang dan sentra ekonomi. Pada 1916, jalur Prabumulih–Gunung Megang mulai beroperasi dan kemudian diperpanjang ke Muara Enim serta Tanjung Enim. Pengembangan berikutnya menjangkau Lahat, Tebing Tinggi, Muara Saling, hingga Lubuklinggau yang terhubung pada 1933.
Pasca kemerdekaan, pengelolaan jaringan rel beralih kepada bangsa Indonesia melalui Djawatan Kereta Api. Sejak saat itu, perkeretaapian tetap menjadi moda transportasi penting bagi masyarakat sekaligus mendukung distribusi berbagai komoditas di wilayah Sumatera bagian selatan.
Pada era modern, layanan kereta api di Sumatera Selatan semakin beragam. KAI mengoperasikan KA Sindang Marga dan KA Bukit Serelo dengan relasi Kertapati–Lubuklinggau pulang pergi, serta KA Rajabasa yang melayani rute Kertapati–Tanjungkarang pulang pergi.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, layanan kereta api penumpang di wilayah Divre III Palembang telah melayani 500.563 pelanggan. Sementara itu, layanan LRT Sumsel yang menghubungkan berbagai pusat aktivitas di Kota Palembang, termasuk akses menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, mencatat 1.815.017 pelanggan pada periode yang sama.
Dengan capaian tersebut, total pengguna layanan transportasi berbasis rel KAI Group di Sumatera Selatan mencapai 2.315.580 pelanggan selama lima bulan pertama tahun ini.
Tidak hanya melayani mobilitas masyarakat, perkeretaapian juga memegang peran strategis dalam mendukung logistik regional. Selama Januari–Mei 2026, volume angkutan barang Divre III Palembang mencapai 11,66 juta ton. Komoditas yang diangkut meliputi batu bara, bahan bakar minyak (BBM), pulp, dan berbagai komoditas lain yang menopang aktivitas industri.
Besarnya volume angkutan tersebut menunjukkan pentingnya kereta api dalam ekosistem logistik Sumatera bagian selatan. Kapasitas angkut yang besar, jadwal operasional yang terencana, serta konektivitas ke sentra produksi dan pelabuhan dinilai mampu menekan biaya distribusi dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Efisiensi tersebut memberi manfaat bagi dunia usaha karena membantu menjaga kelancaran pasokan, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung stabilitas harga barang di masyarakat.
Menurut Anne, kekuatan utama perkeretaapian Sumatera Selatan terletak pada kombinasi sejarah panjang, jaringan yang terhubung dengan pusat kegiatan ekonomi, serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat.
“Dengan sejarah yang kuat dan kebutuhan mobilitas yang terus tumbuh, rel di Sumatera Selatan menjadi bagian penting dalam menghubungkan masyarakat, kawasan ekonomi, pusat layanan, dan simpul transportasi utama,” tuturnya.
Ke depan, KAI Group menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran perkeretaapian di Sumatera Selatan sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan konektivitas nasional dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Editor : Lugas Rumpakaadi