Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dukung Program Energi Hijau, KAI Jalankan Uji B50 pada Kereta Api Sembrani dan Bogowonto

Lugas Rumpakaadi • Senin, 15 Juni 2026 | 15:12 WIB
KAI terus memantau hasil uji teknis biodiesel B50 pada lokomotif dan genset kereta api. (Antara)
KAI terus memantau hasil uji teknis biodiesel B50 pada lokomotif dan genset kereta api. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID – PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus memantau hasil pengujian teknis penggunaan bahan bakar biodiesel B50 pada sarana perkeretaapian. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari dukungan terhadap program transisi energi nasional sekaligus memastikan keselamatan dan keandalan layanan transportasi tetap terjaga.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan penggunaan biodiesel B50 tidak dilakukan secara instan. Perusahaan memilih menerapkan tahapan transisi secara bertahap melalui serangkaian pengujian teknis yang melibatkan koordinasi dengan pemerintah dan berbagai lembaga terkait.

Menurut Anne, setiap tahapan perlu diuji secara menyeluruh karena karakter operasional kereta api memiliki beban kerja tinggi, durasi operasi panjang, serta tuntutan keandalan sarana yang ketat.

“Kami mendukung kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan. Namun pada saat yang sama, seluruh tahapan penggunaan biodiesel harus melalui pengujian dan evaluasi agar layanan penumpang maupun logistik tetap aman dan andal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (15/6/2026), dikutip Antara.

KAI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memulai uji teknis penggunaan biodiesel B50 pada sektor perkeretaapian sejak April 2026. Pengujian tersebut mencakup lokomotif dan genset kereta api dengan fokus pada performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi gas buang, serta ketahanan sarana saat beroperasi.

Pada pengujian lokomotif, KAI menggunakan lokomotif CC206 yang dioperasikan bersama rangkaian KA Sembrani. Pengujian dilakukan dari Depo Sidotopo dengan membandingkan konsumsi bahan bakar antara biodiesel B40 dan B50.

Sementara itu, pengujian genset dilakukan pada unit MTU 2000 P02411 yang digunakan di KA Bogowonto. Kegiatan tersebut dipusatkan di Depo Kereta Yogyakarta dengan serangkaian pengujian meliputi performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, hingga ketahanan statis selama enam jam menggunakan kapasitas maksimum load bank.

Setelah tahapan tersebut selesai, pengujian berlanjut pada uji ketahanan dinamis selama 2.400 jam yang dimulai pada 27 April 2026 di PUK Lempuyangan.

Memasuki Juni 2026, KAI berada pada fase pemantauan dan evaluasi terhadap seluruh hasil pengujian. Hasil tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan kesiapan implementasi biodiesel B50 secara lebih luas di lingkungan operasional perusahaan.

Anne menjelaskan sejumlah aspek yang menjadi perhatian dalam evaluasi antara lain performa mesin, efisiensi konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, kondisi filter, tingkat emisi, serta kebutuhan perawatan sarana.

“Prinsip kami jelas, transisi energi harus berjalan sejalan dengan keselamatan dan keandalan operasi,” tegasnya.

Penggunaan biodiesel B50 juga menjadi bagian penting dari program aksi strategis dekarbonisasi KAI periode 2025–2030. Dalam program tersebut, perubahan penggunaan bahan bakar dari B35 menuju B50 ditargetkan mampu menurunkan emisi hingga 133.676 ton setara karbon dioksida (CO2e).

Angka tersebut menjadi kontribusi terbesar dari target tiga program utama dekarbonisasi KAI yang secara keseluruhan ditargetkan mampu menekan emisi sebesar 166.873 ton CO2e. Program lainnya meliputi konservasi dan kredit karbon serta peningkatan efisiensi penggunaan listrik.

Selain melakukan transisi energi, KAI juga memperkuat pengukuran jejak karbon berbasis data. Berdasarkan penilaian Life Cycle Assessment (LCA) yang dilakukan bersama BRIN, operasional KRL Jabodetabek menghasilkan jejak karbon sekitar 34,03 gram CO2e per penumpang-kilometer.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan transparansi dalam pemantauan dampak lingkungan dari layanan transportasi berbasis rel. Di sisi lain, langkah itu juga menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga keberlanjutan operasional sembari menyiapkan penggunaan energi yang lebih rendah emisi secara bertahap.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Dekarbonisasi Transportasi #biodiesel B50 #kereta api indonesia #KAI #emisi karbon