Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sumbar Simpan 312 Kilometer Rel Kereta Api, Jalur Nonaktif Berpotensi Dibangkitkan untuk Wisata dan Logistik

Lugas Rumpakaadi • Senin, 15 Juni 2026 | 15:03 WIB
Jejak rel kereta api Sumatera Barat dari tambang Ombilin hingga Teluk Bayur kini menjadi bagian penting pengembangan konektivitas Sumatra. (Antara)
Jejak rel kereta api Sumatera Barat dari tambang Ombilin hingga Teluk Bayur kini menjadi bagian penting pengembangan konektivitas Sumatra. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID – Rel kereta api di Sumatera Barat tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga menyimpan jejak panjang perkembangan ekonomi, industri, hingga mobilitas masyarakat. Dari kawasan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto, Pelabuhan Emmahaven yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur, hingga jalur menuju kawasan wisata dan pusat pendidikan, keberadaan rel telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan daerah tersebut.

Kini, jejak sejarah itu kembali mendapat perhatian seiring dorongan pemerintah untuk memperkuat konektivitas perkeretaapian di Pulau Sumatra. Melalui arahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan jaringan kereta api dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung menjadi salah satu agenda besar pembangunan transportasi nasional.

Dalam peta pengembangan tersebut, Sumatera Barat menempati posisi strategis. Selain memiliki sejarah panjang perkeretaapian, provinsi ini juga masih memiliki aset prasarana rel yang luas serta layanan yang aktif digunakan masyarakat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, Sumatera Barat memiliki karakter unik dalam perkembangan perkeretaapian nasional. Jalur rel yang dibangun sejak era kolonial awalnya digunakan untuk menghubungkan kawasan tambang, pelabuhan, dan pusat-pusat ekonomi. Namun seiring waktu, fungsi tersebut berkembang menjadi sarana mobilitas harian, pariwisata, hingga distribusi barang.

“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne, dikutip Antara.

Sejarah perkeretaapian di wilayah ini dimulai pada akhir abad ke-19. Jalur rel dibangun untuk mengangkut batu bara dari Ombilin menuju pelabuhan di Padang. Stasiun Padang mulai dibangun pada 6 Juli 1889, sementara Stasiun Pulau Air dibangun pada 1891 dan diresmikan pada 1 Oktober 1892.

Dari Padang, jaringan rel terus berkembang menuju Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Muaro Kalaban, Sawahlunto, Pariaman hingga Naras. Jalur tersebut melintasi bentang alam yang menantang berupa perbukitan dan lembah, sehingga melahirkan ikon perkeretaapian Sumbar, yakni lokomotif uap bergerigi Mak Itam yang dikenal sebagai bagian dari sejarah tambang Ombilin.

Data Divre II Sumatera Barat mencatat total panjang jalur kereta api di wilayah tersebut mencapai 312,232 kilometer spoor (kmsp). Dari jumlah itu, sekitar 110,9 kilometer masih aktif beroperasi, sedangkan 201,3 kilometer lainnya berstatus nonaktif.

Selain itu, terdapat 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun angkutan barang yang menjadi bagian dari jaringan perkeretaapian Sumbar.

Saat ini layanan penumpang meliputi KA Pariaman Ekspres relasi Pauh Lima–Padang–Naras, KA Minangkabau Ekspres yang menghubungkan Pulau Air, Kota Padang dan Bandara Internasional Minangkabau, KA Lembah Anai relasi Kayu Tanam–Duku–Padang, serta KA wisata Mak Itam yang melayani perjalanan sejarah di kawasan Sawahlunto.

Untuk sektor logistik, KAI melayani angkutan semen dan klinker melalui relasi Indarung–Bukit Putus. Kehadiran angkutan berbasis rel dinilai membantu mengurangi beban kendaraan berat di jalan raya sekaligus menjaga efisiensi distribusi industri.

Minat masyarakat terhadap kereta api di Sumatera Barat juga terus meningkat. Selama Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan kereta api mencapai 913.674 orang. Sementara sepanjang 2025, total pelanggan Divre II Sumatera Barat tercatat sebanyak 1.978.241 orang, meningkat sekitar 81 persen dibandingkan 2021 yang berada di kisaran 1,09 juta pelanggan.

KA Pariaman Ekspres menjadi layanan dengan jumlah pengguna terbesar. Pada 2025, kereta tersebut melayani 1.615.996 pelanggan atau meningkat 15,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan serupa juga terlihat pada KA Lembah Anai setelah dilakukan penyesuaian relasi perjalanan. Jumlah penumpang pada tiga bulan pertama 2026 tercatat meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Anne, tingginya minat masyarakat tidak terlepas dari peran kereta api yang dekat dengan aktivitas sehari-hari. Selain melayani perjalanan menuju pusat kota, kawasan pendidikan dan permukiman, kereta api juga menjadi akses menuju bandara serta destinasi wisata.

“Kereta api di Sumatera Barat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia melayani perjalanan harian, akses bandara, wisata, sekaligus mendukung distribusi barang,” katanya.

Potensi pengembangan perkeretaapian juga didukung sektor pariwisata yang terus tumbuh. Berdasarkan kajian reaktivasi jalur, jumlah perjalanan wisatawan nusantara di Sumatera Barat meningkat dari 8,4 juta perjalanan pada 2021 menjadi 20,7 juta perjalanan pada 2025.

Sejumlah destinasi unggulan seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang dan Bukittinggi dinilai memiliki peluang besar untuk diperkuat melalui konektivitas kereta api.

Sawahlunto sendiri memiliki nilai penting karena berkaitan dengan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2019. Di kawasan ini, rel kereta tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari warisan sejarah dan memori kolektif masyarakat.

Meski demikian, moda transportasi jalan masih mendominasi pergerakan penumpang dan barang di Sumatera Barat. Pangsa angkutan jalan mencapai sekitar 96 persen untuk penumpang dan 87 persen untuk distribusi barang.

Kondisi tersebut membuka peluang peningkatan peran kereta api, terutama untuk mendukung logistik dan perjalanan wisata yang lebih efisien.

Peluang terbesar berada pada jalur-jalur nonaktif yang berpotensi direaktivasi. Beberapa di antaranya adalah lintas Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanang, Muarokalaban–Sawahlunto, Padang Panjang–Batubual, Batubual–Solok, hingga Solok–Muarokalaban.

Salah satu proyek yang dinilai memiliki prospek kuat adalah lintas Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh sepanjang sekitar 67 kilometer. Jalur tersebut berpotensi memperkuat akses wisata, mendukung mobilitas masyarakat, sekaligus memperlancar distribusi barang.

Selain itu, gagasan pembangunan jalur pintas Padang–Solok juga dinilai strategis karena dapat menjadi pintu konektivitas menuju Lubuk Linggau di Sumatera Selatan.

Dalam konteks pengembangan jaringan rel Sumatra, keberadaan jalur kereta api tidak hanya dipandang sebagai sarana transportasi. Rel juga menjadi instrumen untuk memperpendek waktu tempuh, menekan biaya logistik, membuka akses wisata, serta mendorong pemerataan pertumbuhan wilayah.

Kajian reaktivasi menunjukkan bahwa ketika jalur Lembah Anai terputus, biaya operasional logistik dapat meningkat sekitar 22 persen akibat penggunaan rute alternatif yang lebih jauh. Kondisi tersebut menjadi gambaran pentingnya angkutan rel sebagai moda yang efisien dan berkelanjutan.

“Sejarah rel Sumatera Barat memberi pelajaran penting bahwa konektivitas selain sebagai jalur, juga menjadi akses, pertumbuhan wilayah, dan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakat,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#KAI Divre II Sumbar #Kereta Api Sumatera Barat #Reaktivasi Jalur Kereta #Konektivitas Rel Sumatra #Pariwisata dan Logistik Sumbar