RADARBANYUWANGI.ID – Kalimantan yang hingga kini belum memiliki satu kilometer pun jalur kereta api berpotensi memasuki babak baru dalam pengembangan transportasi nasional. Pemerintah membidik pembangunan jaringan rel sepanjang 2.772 kilometer yang dinilai mampu memperkuat distribusi logistik, meningkatkan konektivitas antarwilayah, sekaligus membuka peluang investasi dan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Rencana tersebut mendapat dukungan dari kalangan pengamat transportasi. Mereka menilai keberadaan kereta api akan menjadi infrastruktur strategis yang dapat mengubah pola distribusi barang di Pulau Kalimantan yang selama ini banyak bergantung pada transportasi sungai dan jalan raya.
Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan Kalimantan memiliki karakteristik transportasi yang berbeda dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia. Kondisi geografis yang didominasi sungai membuat transportasi air berkembang secara alami dan menjadi tulang punggung distribusi logistik selama puluhan tahun.
Namun, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan kebutuhan distribusi barang dalam volume besar, keberadaan moda transportasi tambahan dinilai semakin diperlukan.
“Yang jelas mengurangi kepadatan jalan. Dulu di Kalimantan banyak menggunakan sungai sebagai jalur logistik,” ujarnya, Minggu (15/6/2026), dikutip Antara.
Menurut Djoko, kehadiran jaringan kereta api tidak akan menggantikan peran sungai yang selama ini menjadi jalur utama distribusi barang. Sebaliknya, moda berbasis rel dapat menjadi pelengkap yang memperkuat sistem transportasi multimoda di Kalimantan.
Kereta api memungkinkan konektivitas yang lebih baik antara pusat produksi, kawasan industri, pelabuhan, dan pusat distribusi. Integrasi tersebut dinilai dapat menciptakan sistem logistik yang lebih efisien dengan kapasitas angkut besar serta waktu tempuh yang lebih terukur.
Mengapa Kalimantan Membutuhkan Kereta Api?
Kalimantan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan sumber daya alam terbesar di Indonesia. Berbagai komoditas unggulan seperti batu bara, mineral, hasil perkebunan, dan produk kehutanan membutuhkan dukungan transportasi yang andal agar distribusinya berjalan efisien.
Djoko menilai keberadaan kereta api dapat memperkuat rantai pasok komoditas tersebut. Pengangkutan dalam jumlah besar yang sebelumnya mengandalkan truk dapat dialihkan sebagian ke moda rel sehingga biaya logistik lebih terkendali.
Selain itu, pengurangan volume angkutan barang di jalan raya juga berpotensi memperpanjang umur infrastruktur jalan dan menekan risiko kecelakaan lalu lintas akibat kendaraan bertonase besar.
“Kereta api dapat menjadi tulang punggung baru distribusi logistik Kalimantan sekaligus mengurangi beban jalan raya,” katanya.
Potensi Mendorong Investasi dan Ekonomi Baru
Tidak hanya berdampak pada sektor logistik, pembangunan jalur kereta api Kalimantan juga diyakini mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
Konektivitas yang semakin baik akan memudahkan akses menuju kawasan industri, pelabuhan, pusat perdagangan, dan sentra produksi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik investasi karena biaya distribusi menjadi lebih efisien.
Sejumlah wilayah yang selama ini belum terhubung secara optimal berpeluang berkembang menjadi pusat ekonomi baru. Aktivitas usaha, perdagangan, dan jasa diperkirakan akan tumbuh seiring meningkatnya mobilitas barang dan manusia.
Bagi kawasan industri yang mengandalkan pasokan bahan baku dari Kalimantan, termasuk sejumlah sektor di Jawa Timur, peningkatan efisiensi distribusi juga berpotensi memperkuat rantai pasok nasional.
Perlu Studi Kelayakan yang Matang
Meski memiliki prospek besar, Djoko mengingatkan pembangunan jaringan kereta api Kalimantan tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa. Pemerintah perlu menyiapkan studi kelayakan serta desain teknis yang komprehensif agar jalur yang dibangun sesuai dengan kebutuhan logistik dan karakteristik geografis wilayah.
Menurutnya, dukungan pendanaan menjadi faktor penting dalam merealisasikan proyek tersebut. Ia bahkan mendorong alokasi anggaran infrastruktur yang lebih besar agar pembangunan berbagai proyek strategis dapat berjalan lebih cepat.
“Pembangunan infrastruktur transportasi harus menjadi perhatian karena berperan penting dalam meningkatkan efisiensi logistik dan daya saing ekonomi,” ujarnya.
Pemerintah Bidik Jalur 2.772 Kilometer
Sementara itu, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan kereta api sepanjang 2.772 kilometer di Pulau Kalimantan sebagai bagian dari penguatan konektivitas nasional.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap penghitungan dan perencanaan secara mendalam.
Pemerintah juga akan membentuk komite yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga guna menghimpun masukan serta menyempurnakan perencanaan jaringan perkeretaapian nasional.
Komite tersebut nantinya akan membantu penyempurnaan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas) agar selaras dengan kebutuhan pembangunan dan potensi ekonomi Kalimantan.
AHY mengungkapkan bahwa hingga saat ini panjang jaringan kereta api di Kalimantan masih tercatat nol kilometer. Padahal, pulau tersebut memiliki potensi besar di sektor sumber daya alam dan mineral yang membutuhkan dukungan transportasi berkapasitas tinggi.
Rencana pembangunan rel akan menghubungkan berbagai wilayah di Kalimantan, mulai dari bagian utara, timur, selatan, tengah, hingga barat. Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat konektivitas antarprovinsi sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi logistik.
Fakta Rencana Kereta Api Kalimantan
- Panjang jalur yang direncanakan: 2.772 kilometer
- Status proyek: tahap perencanaan dan penghitungan
- Panjang rel eksisting di Kalimantan: 0 kilometer
- Fokus utama: konektivitas dan logistik
- Wilayah layanan: Kalimantan Utara, Timur, Selatan, Tengah, dan Barat
- Komoditas potensial: batu bara, mineral, perkebunan, dan hasil industri
Jika terealisasi, proyek kereta api sepanjang 2.772 kilometer tersebut tidak hanya akan mengubah wajah transportasi di Kalimantan. Lebih dari itu, proyek ini berpotensi menjadi salah satu tonggak pembangunan infrastruktur terbesar di Indonesia yang mampu memperkuat daya saing logistik nasional, menarik investasi baru, dan mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.
Editor : Lugas Rumpakaadi