Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

KAI Targetkan Emisi Nol Bersih 2060, Siapkan Elektrifikasi Jalur Kereta Api dan Pengurangan Emisi Lebih dari 1 Juta Ton CO2e

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 12 Juni 2026 | 11:13 WIB
PT KAI menargetkan emisi nol bersih pada 2060. (Antara)
PT KAI menargetkan emisi nol bersih pada 2060. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan transformasi besar menuju transportasi rendah karbon di Indonesia. Melalui Strategi Net Zero Emission (NZE), perusahaan membidik penurunan emisi lebih dari 1 juta ton CO2e dan mencapai emisi nol bersih pada 2060.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung target dekarbonisasi nasional sekaligus memperkuat peran kereta api sebagai moda transportasi massal yang efisien dan ramah lingkungan.

Menariknya, berdasarkan kajian yang dipaparkan KAI, moda berbasis rel hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total emisi gas rumah kaca sektor transportasi nasional. Sebaliknya, kendaraan darat menyumbang sekitar 89 persen emisi sektor tersebut.

Karena itu, penguatan layanan kereta api dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk menekan emisi transportasi sekaligus memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat.

Strategi tersebut dipaparkan dalam kegiatan Towards a Green Rail Future: Delivering a Decarbonized Railway in Indonesia yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Kegiatan ini mendapat dukungan Pemerintah Inggris melalui program UK Partnering for Accelerated Climate Transition (UK PACT) yang diimplementasikan Palladium bersama Kynergy Consulting.

Penyusunan strategi NZE KAI juga sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang mitigasi perubahan iklim sektor transportasi yang mendorong percepatan transisi menuju sistem transportasi rendah karbon.

Emisi Kereta Api Jauh Lebih Rendah

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kereta api memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi dan tingkat emisi dibanding moda transportasi lainnya.

“Kereta api memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi dan emisi. Melalui Strategi Net Zero Emission, KAI menyiapkan langkah jangka panjang agar pengembangan layanan perkeretaapian selaras dengan target transisi energi nasional serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang,” ujarnya, dikutip Antara.

Kajian yang disusun bersama UK PACT dan Kynergy Consulting menunjukkan tingkat emisi moda berbasis rel berada pada level yang relatif rendah.

LRT Jabodebek menghasilkan emisi sekitar 15 gram CO2-eq per penumpang-kilometer. Sementara KA Antarkota sebesar 16,43 gram CO2-eq per penumpang-kilometer dan KRL Commuter Line sekitar 34,03 gram CO2-eq per penumpang-kilometer.

Data tersebut memperkuat posisi kereta api sebagai salah satu moda transportasi yang berpotensi menjadi tulang punggung dekarbonisasi sektor transportasi nasional dalam jangka panjang.

Elektrifikasi Rel Jadi Langkah Utama

Dalam strategi yang telah disusun, KAI menetapkan empat fokus utama pengurangan emisi, yakni elektrifikasi jalur rel, peningkatan efisiensi operasional, pemanfaatan energi yang lebih bersih, serta penyerapan karbon melalui program penghijauan.

Elektrifikasi menjadi salah satu program prioritas. Saat ini panjang jalur rel yang telah terelektrifikasi mencapai 1.038,7 kilometer yang melayani KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, hingga kereta cepat Whoosh.

Perluasan penggunaan tenaga listrik dinilai mampu menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan efisiensi energi operasional perkeretaapian.

Selain itu, KAI juga terus mendorong modernisasi sistem perkeretaapian, termasuk kajian percepatan transisi Kereta Rel Diesel (KRD) menuju Kereta Rel Listrik (KRL) dan pengembangan sistem persinyalan yang lebih modern dan efisien.

Biodiesel B50 dan Panel Surya Jadi Andalan

Upaya menekan emisi juga dilakukan melalui penggunaan energi yang lebih bersih.

KAI mencatat perkembangan signifikan dalam pemanfaatan biodiesel. Jika pada 2017 masih menggunakan B0, pada 2025 perusahaan telah menerapkan B40 dan ditargetkan meningkat menjadi B50 pada 2026.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pengurangan emisi berbasis energi yang lebih ramah lingkungan.

Selain biodiesel, perusahaan juga mengembangkan pemanfaatan energi surya. Hingga saat ini, panel surya dengan total kapasitas 3.435,5 kWp telah terpasang di 66 lokasi operasional KAI.

Pemanfaatan energi terbarukan tersebut diharapkan dapat menekan konsumsi energi konvensional sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang.

Efisiensi Operasional dan Penghijauan

Di sektor operasional, KAI menjalankan berbagai program efisiensi energi yang diterapkan di stasiun, depo, maupun kantor perusahaan.

Sejumlah fasilitas juga telah menerapkan sertifikasi Green Building EDGE untuk mendorong penggunaan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Sementara itu, program penghijauan menjadi bagian penting dalam strategi penyerapan karbon. Sepanjang 2021 hingga 2025, KAI telah menanam sebanyak 107.757 pohon di berbagai wilayah operasional.

Program tersebut tidak hanya mendukung pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat lingkungan yang lebih luas melalui peningkatan kualitas ruang hijau.

Target Turun 1 Juta Ton CO2e pada 2060

Melalui strategi yang telah disusun, KAI menargetkan penurunan emisi sebesar 25,76 persen atau setara 166.873 ton CO2e pada 2030 dari baseline emisi sebesar 647.785 ton CO2e.

Target tersebut meningkat menjadi 33,55 persen pada 2035 dan mencapai 78,17 persen pada 2050.

Pada 2060, KAI menargetkan tercapainya Net Zero Emission dengan total penurunan emisi mencapai 1.093.311 ton CO2e.

Vice President of Sustainability KAI Tria Mutiari Melian mengatakan KAI memiliki posisi penting dalam mendukung agenda dekarbonisasi sektor transportasi nasional.

“Sebagai tulang punggung transportasi massal nasional, KAI memiliki peran penting dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Kajian dan rekomendasi yang dihasilkan akan diselaraskan dengan pengembangan kebijakan dan peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional dalam jangka panjang,” katanya.

Perlu Kolaborasi untuk Percepat Transisi Energi

Dukungan UK PACT dan Kynergy Consulting dalam penyusunan strategi NZE mencakup kajian implementasi B50, analisis percepatan elektrifikasi, modernisasi sistem persinyalan, hingga pengembangan instrumen pembiayaan yang membuka akses terhadap berbagai sumber pendanaan hijau internasional.

Project Director Kynergy Consulting Rekyan Eckersley menilai penguatan layanan kereta api merupakan bagian penting dari peta jalan dekarbonisasi transportasi Indonesia.

“Kereta api adalah moda dengan emisi yang relatif rendah. Memperkuat kapasitas dan daya tarik layanannya menjadi bagian krusial dari peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional Indonesia dalam jangka panjang,” ujarnya.

Anne menambahkan bahwa keberhasilan transisi energi membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, mulai pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, hingga mitra pembangunan internasional.

Menurutnya, transportasi berbasis rel memiliki peluang besar untuk memperkuat kontribusi terhadap target penurunan emisi nasional sekaligus menghadirkan layanan mobilitas yang semakin efisien bagi masyarakat.

“Kereta api memiliki peluang besar untuk memperkuat kontribusinya terhadap target penurunan emisi nasional sekaligus mendukung mobilitas masyarakat yang semakin efisien,” pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Elektrifikasi Rel #Dekarbonisasi Transportasi #pt kai #net zero emission 2060 #transportasi hijau