RADARBANYUWANGI.ID – Sebanyak 908 unit kereta rel listrik (KRL) yang saat ini melayani penumpang di wilayah Jabodetabek telah berusia antara 34 hingga 41 tahun. Kondisi tersebut mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) mempercepat program regenerasi armada melalui proyek pengadaan sarana senilai Rp9,18 triliun yang didukung Penyertaan Modal Negara (PMN).
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keandalan layanan sekaligus mengantisipasi lonjakan jumlah pengguna KRL yang terus meningkat setiap tahun. KAI memproyeksikan jumlah penumpang akan mencapai 437 juta orang pada 2030.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan kebutuhan pengadaan armada baru menjadi semakin mendesak karena jumlah sarana yang memasuki masa konservasi terus bertambah.
“Kami sedikit memberikan gambaran bagaimana urgency kebutuhannya untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang, dan bertambahnya sarana KRL yang memasuki masa konservasi,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, dikutip Antara.
Mayoritas KRL Berusia Lebih dari Tiga Dekade
Berdasarkan paparan KAI, armada KRL Jabodetabek saat ini masih didominasi kereta bekas impor dari Jepang yang telah beroperasi selama lebih dari tiga dekade.
Sebanyak 780 unit merupakan armada eks JR East Seri 205 dengan usia antara 34 hingga 41 tahun. Selain itu, terdapat 128 unit armada eks Tokyo Metro yang juga memiliki rentang usia serupa.
Dengan demikian, total 908 unit KRL yang saat ini beroperasi telah memasuki usia yang tergolong tua untuk armada transportasi massal perkotaan.
Di sisi lain, armada generasi baru mulai ditambahkan secara bertahap. Saat ini telah beroperasi 11 trainset atau 132 unit KRL impor dari CRRC China yang berusia kurang dari satu tahun. Selain itu, tujuh trainset atau 84 unit KRL produksi PT Industri Kereta Api (INKA) juga telah melayani masyarakat.
Penumpang Sudah Lampaui Proyeksi
Kebutuhan penambahan armada tidak hanya dipicu oleh faktor usia kereta, tetapi juga pertumbuhan jumlah pengguna yang terus meningkat.
KAI sebelumnya memproyeksikan jumlah pengguna KRL pada 2025 berada di kisaran 339 juta orang. Namun realisasi di lapangan justru melampaui target tersebut.
“Di tahun 2025 kemarin realisasinya sebenarnya sudah lebih dari 339 juta, yaitu sekitar 357 juta realisasinya,” kata Bobby.
Angka tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap transportasi berbasis rel terus meningkat. Jika tren pertumbuhan rata-rata 4 persen per tahun berlanjut, jumlah pengguna diperkirakan mencapai 437 juta orang pada 2030.
Apa Dampaknya bagi Penumpang?
Regenerasi armada diharapkan memberikan sejumlah manfaat langsung bagi pengguna KRL Jabodetabek.
Selain meningkatkan keandalan operasional, kehadiran rangkaian baru dapat mengurangi risiko gangguan akibat usia sarana yang semakin tua. Kapasitas angkut juga berpotensi meningkat sehingga membantu mengurangi kepadatan penumpang pada jam-jam sibuk.
Di sisi lain, armada baru umumnya menawarkan sistem yang lebih modern, tingkat kenyamanan yang lebih baik, serta efisiensi operasional yang lebih tinggi dibandingkan kereta generasi lama.
Proyek Regenerasi Bernilai Rp9,18 Triliun
Untuk mendukung program tersebut, KAI bersama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menjalankan proyek pengadaan sarana KRL Jabodetabek senilai Rp9,18 triliun.
Pendanaan proyek berasal dari PMN sebesar Rp5,3 triliun atau sekitar 58 persen dari total nilai investasi. Sisanya berasal dari pinjaman perbankan sebesar Rp3,69 triliun dan kas internal KCI sekitar Rp190 miliar.
Komponen PMN terdiri atas PMN 2024 sebesar Rp2 triliun, PMN 2025 sebesar Rp1,8 triliun, serta PMN 2026 sebesar Rp1,5 triliun yang masih berupa proyeksi.
Program tersebut mencakup pengadaan 16 trainset atau 192 unit KRL baru produksi INKA senilai Rp3,85 triliun. Selain itu terdapat tiga trainset atau 36 unit KRL impor dari CRRC Qingdao Sifang Co Ltd senilai Rp830 miliar.
KAI juga mengalokasikan pengadaan delapan trainset atau 96 unit KRL impor senilai Rp2,2 triliun untuk menggantikan program retrofit. Sementara itu, dua trainset atau 24 unit KRL retrofit dari INKA dianggarkan sebesar Rp250 miliar.
Tidak hanya itu, terdapat rencana pengadaan tambahan delapan trainset atau 96 unit KRL baru produksi INKA dengan nilai Rp2,05 triliun yang saat ini masih menunggu kontrak.
INKA Ditarget Rampungkan Produksi September 2026
KAI melaporkan PMN 2024 sebesar Rp2 triliun telah terserap seluruhnya untuk mendukung pengadaan sarana baru dan retrofit.
Sementara itu, PMN 2025 sebesar Rp1,8 triliun diterima perusahaan pada 31 Desember 2025 dan diteruskan kepada KCI pada 20 Mei 2026.
Dari dana tersebut, sekitar Rp744,46 miliar telah dibayarkan kepada INKA. Adapun sisa dana sekitar Rp1,05 triliun akan dicairkan bertahap sesuai perkembangan produksi rangkaian yang sedang dikerjakan.
Bobby mengatakan penyerapan dana akan mengikuti progres penyelesaian sembilan trainset yang saat ini diproduksi INKA.
“Proyeksinya akan kita spending sesuai dengan progres dari penyelesaian sembilan trainset yang sudah ada di PT INKA sesuai dengan recovery schedule-nya, yaitu diharapkan penyelesaiannya itu di bulan September tahun 2026,” ujarnya.
Dengan dominasi armada yang telah berusia lebih dari tiga dekade dan jumlah pengguna yang terus bertambah, program regenerasi KRL menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kualitas layanan transportasi massal di kawasan Jabodetabek dalam beberapa tahun mendatang.
Fakta Singkat
- Total KRL berusia 34–41 tahun: 908 unit
- Proyek regenerasi armada: Rp9,18 triliun
- Dukungan PMN: Rp5,3 triliun
- Realisasi penumpang 2025: 357 juta orang
- Proyeksi penumpang 2030: 437 juta orang
- Target penyelesaian 9 trainset INKA: September 2026