Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Okupansi Tembus 161 Persen, KAI Siapkan Kereta Lebih Panjang dan Jadwal Lebih Rapat di KRL Rangkasbitung

Lugas Rumpakaadi • Minggu, 7 Juni 2026 | 09:25 WIB
KAI bersama Kemenhub memperkuat layanan KRL Tanah Abang–Rangkasbitung melalui peningkatan daya listrik dan modernisasi persinyalan. (Antara)
KAI bersama Kemenhub memperkuat layanan KRL Tanah Abang–Rangkasbitung melalui peningkatan daya listrik dan modernisasi persinyalan. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID – Kepadatan penumpang KRL Rangkasbitung yang mencapai 161 persen saat jam sibuk akhirnya mendapat perhatian serius. PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan untuk meningkatkan kapasitas angkut serta mempercepat frekuensi perjalanan di salah satu jalur tersibuk di Jabodetabek tersebut.

Langkah tersebut dilakukan seiring lonjakan jumlah pengguna Commuter Line Rangkasbitung yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Jalur yang menghubungkan kawasan permukiman di wilayah barat Jabodetabek dengan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik di Jakarta itu kini menjadi tulang punggung mobilitas jutaan warga setiap hari.

Setiap pagi dan sore, ribuan pekerja, pelajar, mahasiswa, hingga pelaku usaha memadati rangkaian KRL dari Rangkasbitung, Parung Panjang, Cisauk, Serpong, hingga Tanah Abang. Tingginya mobilitas membuat tingkat kepadatan penumpang terus meningkat, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan peningkatan kapasitas dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

“Peningkatan kapasitas agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan,” ujarnya, dikutip Antara.

Jalur KRL Rangkasbitung Jadi yang Terpadat di Jabodetabek

Data KAI menunjukkan jumlah pengguna Commuter Line Rangkasbitung terus mengalami peningkatan signifikan. Pada 2022 jumlah pelanggan tercatat 43,3 juta orang. Angka tersebut melonjak menjadi 62,08 juta pelanggan pada 2023, kemudian meningkat lagi menjadi 69,99 juta pelanggan pada 2024.

Pada 2025, jumlah pengguna mencapai 77,55 juta pelanggan atau meningkat hampir 80 persen dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Sementara itu, sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah pengguna sudah mencapai 33,39 juta pelanggan.

Lonjakan tersebut berbanding lurus dengan tingkat okupansi kereta yang semakin tinggi. Saat ini okupansi puncak Rangkasbitung Line mencapai sekitar 161 persen, tertinggi di antara seluruh lintas Commuter Line Jabodetabek.

Sebagai perbandingan, okupansi puncak lintas Bogor berada di kisaran 130 persen, sedangkan lintas Bekasi/Cikarang sekitar 140 persen.

“Saat ini Rangkasbitung Line menjadi lintas dengan okupansi tertinggi. Karena itu peningkatan kapasitas menjadi kebutuhan yang harus segera dilakukan,” kata Bobby.

KAI Tambah 11 Gardu Traksi untuk Operasikan Kereta 12 Gerbong

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat sistem listrik aliran atas (LAA) pada lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.

Saat ini pasokan daya listrik di lintas tersebut masih berada pada level 3.000 volt. Angka itu lebih rendah dibandingkan lintas Bogor dan Bekasi yang telah menggunakan sistem berkapasitas 4.000 volt.

Perbedaan kapasitas listrik tersebut membuat rangkaian KRL dengan formasi 12 kereta belum dapat dioperasikan secara optimal. Akibatnya, kapasitas angkut masih bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta.

Untuk mendukung peningkatan kapasitas layanan, KAI akan menambah 11 gardu traksi di sepanjang lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Penguatan pasokan daya itu menjadi fondasi penting untuk mendukung operasional rangkaian 12 kereta.

Jika rangkaian yang lebih panjang dapat dioperasikan, jumlah penumpang yang terangkut dalam setiap perjalanan akan bertambah. Kondisi tersebut diharapkan mampu mengurangi kepadatan, terutama pada jam-jam sibuk.

Modernisasi Persinyalan Pangkas Waktu Tunggu Kereta

Selain penguatan kelistrikan, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan juga akan melakukan modernisasi sistem persinyalan.

Saat ini sebagian lintas Rangkasbitung masih menggunakan pola blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi. Dalam sistem tersebut, satu blok perjalanan yang mencakup beberapa stasiun hanya dapat dilalui oleh satu kereta pada waktu yang sama.

Kondisi itu membuat jarak waktu antarperjalanan kereta atau headway masih berada di kisaran 10 menit.

Sebagai perbandingan, lintas Bogor dan Bekasi saat ini sudah mampu melayani perjalanan dengan headway sekitar tiga hingga empat menit.

Melalui modernisasi persinyalan, kapasitas lintas akan meningkat sehingga frekuensi perjalanan dapat ditambah dan waktu tunggu penumpang menjadi lebih singkat.

“Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan,” tambah Bobby.

Apa Dampaknya bagi Penumpang?

Jika seluruh program peningkatan kapasitas berjalan sesuai rencana, masyarakat akan memperoleh sejumlah manfaat langsung.

Pertama, kapasitas angkut meningkat melalui pengoperasian rangkaian 12 kereta. Kedua, kepadatan penumpang saat jam sibuk berpotensi berkurang. Ketiga, frekuensi perjalanan bertambah sehingga waktu tunggu menjadi lebih singkat. Keempat, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan jadwal keberangkatan dan kepulangan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung mobilitas masyarakat yang terus berkembang.

“Kolaborasi antara KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan Commuter Line Rangkasbitung,” ujarnya.

Menurut Anne, penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih andal, nyaman, dan berkapasitas besar seiring pertumbuhan kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi di sepanjang koridor Tanah Abang–Rangkasbitung.

Proyek peningkatan kapasitas ini menjadi langkah penting untuk memastikan layanan transportasi massal tetap mampu memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat Jabodetabek di masa mendatang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#KRL Rangkasbitung Line #transportasi publik #kementerian perhubungan #KAI #commuter line jabodetabek