RADARBANYUWANGI.ID - Tingginya tingkat kepadatan penumpang pada layanan Commuter Line Rangkasbitung mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) melakukan penguatan infrastruktur secara bertahap. Langkah tersebut disiapkan untuk mengantisipasi pertumbuhan jumlah pengguna yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data yang dirilis KAI di Jakarta, Kamis (4/6/2026), jumlah pengguna Commuter Line Rangkasbitung sepanjang 2025 mencapai 77.552.716 orang. Tingginya mobilitas masyarakat membuat tingkat okupansi di lintas tersebut menyentuh angka 161 persen.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan lonjakan jumlah penumpang tidak terlepas dari tingginya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi massal. Namun, peningkatan tersebut masih dihadapkan pada keterbatasan sarana dan infrastruktur yang tersedia saat ini.
Menurut Bobby, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan terus mempercepat program modernisasi di lintas Rangkasbitung guna meningkatkan kapasitas layanan.
“Permintaan masyarakat terhadap layanan Commuter Line Rangkasbitung terus meningkat. Karena itu, KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menyiapkan berbagai langkah peningkatan kapasitas agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan,” ujarnya, dikutip RRI.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah pembangunan 11 gardu traksi baru untuk memperkuat pasokan listrik aliran atas. Penguatan sistem kelistrikan dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar operasional rangkaian kereta dengan stamformasi 12 kereta dapat berjalan optimal.
Saat ini kapasitas daya listrik di lintas Rangkasbitung masih berada pada level 3.000 volt. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan lintas Bogor yang telah menggunakan daya listrik 4.000 volt. Perbedaan kapasitas tersebut menjadi salah satu kendala dalam pengoperasian rangkaian kereta dengan kapasitas lebih besar.
Selain peningkatan daya listrik, KAI juga menyiapkan modernisasi sistem persinyalan. Saat ini jalur Rangkasbitung masih menggunakan sistem persinyalan blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintasan.
Modernisasi persinyalan diharapkan mampu meningkatkan frekuensi perjalanan sekaligus mengurangi waktu tunggu kereta di stasiun. Dengan demikian, distribusi penumpang pada berbagai jadwal perjalanan dapat berlangsung lebih merata.
“Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan. Dengan langkah tersebut, kapasitas angkut dapat bertambah dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin baik,” kata Bobby.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan bahwa proyek peningkatan kapasitas ini merupakan investasi jangka panjang. Penguatan infrastruktur tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan transportasi saat ini, tetapi juga mendukung pertumbuhan kawasan penyangga di wilayah barat Jakarta.
Menurut Anne, sinergi antara KAI dan DJKA menjadi faktor penting dalam pengembangan layanan Commuter Line Rangkasbitung. Melalui peningkatan infrastruktur dan sistem operasi yang dilakukan secara bertahap, kapasitas layanan diharapkan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik yang aman, nyaman, dan andal.
“Kolaborasi antara KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan Commuter Line Rangkasbitung. Melalui penguatan infrastruktur dan sistem operasi yang dilakukan secara bertahap, kapasitas layanan dapat terus ditingkatkan sehingga masyarakat memperoleh perjalanan yang semakin nyaman, aman, dan andal di masa mendatang,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi