Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Okupansi Tembus 161 Persen, KAI Siapkan Penguatan Infrastruktur untuk Tingkatkan Kapasitas KRL Commuter Line Rangkasbitung

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 4 Juni 2026 | 20:24 WIB
KAI dan DJKA Kemenhub menyiapkan penguatan listrik serta modernisasi persinyalan lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. (Antara)
KAI dan DJKA Kemenhub menyiapkan penguatan listrik serta modernisasi persinyalan lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Tingginya mobilitas masyarakat di koridor Tanah Abang–Rangkasbitung mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas layanan Commuter Line Rangkasbitung.

Penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan menjadi fokus utama dalam upaya menjawab pertumbuhan jumlah pengguna yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Jalur ini merupakan salah satu koridor penting yang menghubungkan kawasan permukiman di wilayah barat Jabodetabek dengan pusat ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan berbagai layanan publik di Jakarta serta sekitarnya.

Data KAI menunjukkan jumlah pengguna Commuter Line Rangkasbitung mengalami tren kenaikan yang konsisten. Pada 2022 tercatat sebanyak 43,31 juta pelanggan. Jumlah tersebut meningkat menjadi 62,08 juta pelanggan pada 2023, kemudian mencapai 69,99 juta pelanggan pada 2024 dan kembali naik menjadi 77,55 juta pelanggan sepanjang 2025.

Sementara itu, selama periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 33,39 juta orang. Angka tersebut mencerminkan semakin besarnya peran Commuter Line Rangkasbitung sebagai moda transportasi andalan masyarakat dalam mendukung aktivitas sehari-hari.

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan tingginya permintaan masyarakat terhadap layanan Commuter Line Rangkasbitung harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas sarana maupun infrastruktur.

“Permintaan masyarakat terhadap layanan Commuter Line Rangkasbitung terus meningkat. Karena itu, KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menyiapkan berbagai langkah peningkatan kapasitas agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan,” ujarnya, dikutip Antara.

Saat ini tingkat okupansi pada jam sibuk di Rangkasbitung Line mencapai sekitar 161 persen, tertinggi dibandingkan lintas Commuter Line lainnya. Sebagai perbandingan, okupansi puncak lintas Bogor berada di kisaran 130 persen dan lintas Bekasi/Cikarang sekitar 140 persen.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, KAI akan memperkuat sistem Listrik Aliran Atas (LAA) di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Saat ini daya listrik pada lintas tersebut masih berada pada level 3.000 volt, lebih rendah dibandingkan lintas Bogor dan Bekasi yang telah menggunakan daya 4.000 volt.

Kondisi itu menyebabkan rangkaian kereta dengan formasi 12 kereta belum dapat dioperasikan secara optimal. Akibatnya, kapasitas angkut masih mengandalkan rangkaian 8 dan 10 kereta.

Sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas, KAI akan menambah 11 gardu traksi di sepanjang lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Penambahan ini diharapkan mampu memperkuat pasokan listrik sehingga operasional rangkaian 12 kereta dapat diwujudkan.

Dengan kapasitas yang lebih besar, jumlah pelanggan yang dapat terangkut dalam setiap perjalanan akan meningkat. Dampaknya, tingkat kepadatan pada jam-jam sibuk dapat berkurang dan kenyamanan perjalanan masyarakat semakin baik.

Selain penguatan sistem kelistrikan, KAI dan DJKA juga akan melakukan modernisasi persinyalan. Saat ini sebagian sistem persinyalan di lintas Rangkasbitung masih menggunakan pola blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi.

Sistem tersebut membuat satu blok perjalanan yang mencakup beberapa stasiun hanya dapat dilalui oleh satu kereta dalam waktu bersamaan. Dampaknya, jarak antar perjalanan atau headway masih berada pada kisaran 10 menit.

Padahal, lintas Bogor maupun Bekasi telah mampu melayani perjalanan dengan headway sekitar tiga hingga empat menit. Melalui modernisasi persinyalan, kapasitas lintas diharapkan meningkat sehingga frekuensi perjalanan dapat ditambah dan waktu tunggu pelanggan menjadi lebih singkat.

“Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan. Dengan langkah tersebut, kapasitas angkut dapat bertambah dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin baik,” tambah Bobby.

KAI memandang peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line sebagai investasi jangka panjang untuk mendukung mobilitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan. Seiring berkembangnya pusat permukiman, aktivitas ekonomi, dan kegiatan sosial di sepanjang koridor tersebut, kebutuhan terhadap transportasi massal berkapasitas besar diperkirakan terus meningkat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan kolaborasi antara KAI dan DJKA menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan Commuter Line Rangkasbitung ke depan.

“Melalui penguatan infrastruktur dan sistem operasi yang dilakukan secara bertahap, kapasitas layanan dapat terus ditingkatkan sehingga masyarakat memperoleh perjalanan yang semakin nyaman, aman, dan andal di masa mendatang,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Infrastruktur Perkeretaapian #Commuter Line Rangkasbitung #DJKA Kementerian Perhubungan #transportasi jabodetabek #KAI