RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan transformasi layanan pada KA Cikuray relasi Garut–Pasar Senen pulang pergi mulai 10 Juni 2026. Melalui konsep Rel Ekonomi Rakyat, KAI mengoperasikan Kereta Ekonomi Kerakyatan yang dirancang untuk memperkuat akses transportasi masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi sektor riil di sepanjang jalur perjalanan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya KAI menghadirkan layanan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Garut yang dikenal sebagai daerah dengan basis pertanian, perdagangan, dan usaha rakyat membutuhkan konektivitas yang mampu mendukung pergerakan orang maupun aktivitas ekonomi antardaerah.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, KA Cikuray selama ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di wilayah yang dilaluinya. Karena itu, transformasi layanan dilakukan agar manfaat transportasi kereta api semakin dirasakan oleh berbagai kalangan.
“Melalui konsep Rel Ekonomi Rakyat, KAI ingin menghadirkan layanan yang mampu mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi yang dijalankan petani, pedagang pasar, pelaku UMKM, pekerja, pelajar, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya,” ujarnya, dikutip Antara.
Transformasi tersebut merupakan hasil inovasi Insan KAI melalui Balai Yasa Manggarai. Pengembangan dilakukan dengan menyesuaikan desain dan karakter layanan agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna utama KA Cikuray.
Antusiasme masyarakat terhadap layanan ini juga terus menunjukkan tren positif. Pada 2022, KA Cikuray melayani 293.265 pelanggan. Jumlah itu meningkat menjadi 514.767 pelanggan pada 2023 dan kembali naik menjadi 591.089 pelanggan pada 2024. Pada 2025, volume pelanggan mencapai 615.723 orang. Sementara selama Januari hingga Mei 2026, KA Cikuray telah melayani 266.993 pelanggan.
Peningkatan jumlah penumpang tersebut menunjukkan KA Cikuray semakin menjadi pilihan masyarakat untuk perjalanan antardaerah dengan biaya yang terjangkau. Sebagai layanan kereta api Public Service Obligation (PSO) yang mendapat dukungan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, KA Cikuray menawarkan tarif relasi terjauh Garut–Pasar Senen sebesar Rp45.000.
Konsep Kereta Ekonomi Kerakyatan dikembangkan sebagai layanan transportasi yang inklusif. Kehadirannya diharapkan mampu mengurangi hambatan geografis dan ekonomi sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih luas menuju pusat pendidikan, perdagangan, kawasan industri, maupun berbagai pusat aktivitas lainnya.
Selain menjaga keterjangkauan biaya transportasi, konektivitas yang semakin baik juga membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan memperluas jangkauan ekonomi. Hal itu dinilai penting bagi petani, pedagang pasar, serta pelaku UMKM yang sangat bergantung pada kelancaran mobilitas.
“Semakin baik konektivitas yang tersedia, semakin besar pula peluang yang dapat dijangkau masyarakat. Mobilitas yang lancar akan mendukung produktivitas usaha, memperkuat perdagangan, serta membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan lapangan pekerjaan,” jelas Anne.
Tidak berhenti pada pengoperasian Kereta Ekonomi Kerakyatan, KAI juga tengah menyiapkan pengembangan layanan Kereta Petani dan Pedagang sebagai tahap lanjutan konsep Rel Ekonomi Rakyat. Program tersebut dirancang untuk menjadi solusi mobilitas sekaligus pendukung aktivitas usaha bagi petani, pedagang pasar, dan pelaku UMKM.
Dalam operasionalnya, KA Cikuray melayani 12 stasiun pemberhentian, yakni Garut, Cibatu, Leles, Kiaracondong, Bandung, Cimahi, Purwakarta, Cikampek, Karawang, Cikarang, Bekasi, dan Pasar Senen. Jalur tersebut menghubungkan wilayah dengan karakter ekonomi yang beragam, mulai dari sentra pertanian dan hortikultura di Garut, pusat pendidikan dan perdagangan di Bandung Raya, kawasan industri strategis Karawang dan Cikarang, hingga Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional.
Koridor ini memperlihatkan peran penting transportasi kereta api dalam menghubungkan daerah penghasil komoditas, pusat perdagangan, kawasan industri, dan pasar konsumen dalam satu lintasan terintegrasi. Keterhubungan tersebut menjadi faktor penting dalam memperkuat aktivitas ekonomi sekaligus mendukung ketahanan ekonomi daerah.
“Kereta api tumbuh bersama masyarakat yang dilayaninya. Seiring berkembangnya mobilitas dan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah, KAI akan terus menghadirkan layanan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi pertumbuhan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Anne.
Editor : Lugas Rumpakaadi