RADARBANYUWANGI.ID - PT MRT Jakarta (Perseroda) memastikan rencana perpanjangan layanan hingga wilayah Bekasi dan Tangerang terus bergerak sesuai tahapan yang telah disusun. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari proyek MRT lintas Timur-Barat yang bertujuan memperkuat konektivitas transportasi umum di kawasan Jakarta dan daerah penyangga.
Mengutip DetikFinance, Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menjelaskan bahwa pengembangan jaringan MRT tidak hanya difokuskan untuk melayani mobilitas di dalam Jakarta. Menurutnya, integrasi transportasi dengan wilayah penyangga menjadi langkah penting untuk mengurangi beban kemacetan yang selama ini juga dipengaruhi oleh tingginya pergerakan masyarakat dari luar Jakarta.
Ia mengatakan, jalur MRT Timur-Barat telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025. Rute tersebut dirancang untuk menghubungkan Balaraja di sisi barat dengan Cikarang di sisi timur.
Secara keseluruhan, lintasan MRT Timur-Barat akan memiliki panjang sekitar 84 kilometer. Dalam rencana awal, jalur ini akan dilengkapi dengan 48 stasiun dan tiga depo untuk mendukung operasional kereta.
MRT Jakarta memperkirakan jumlah pengguna pada koridor tersebut dapat mencapai sekitar 600 ribu penumpang per hari. Angka itu mengacu pada hasil kajian awal yang dilakukan saat penyusunan proyek.
Pembangunan akan dilakukan secara bertahap. Pada fase 1 tahap 1, pekerjaan difokuskan pada koridor Tomang hingga Medan Satria, termasuk pembangunan depo MRT di kawasan Rorotan, Jakarta Utara.
Selanjutnya, fase 1 tahap 2 mencakup pembangunan jalur dari Tomang menuju Kembangan. Setelah itu, fase 2 akan melanjutkan pembangunan koridor Balaraja-Kembangan serta Medan Satria-Cikarang.
Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina, mengungkapkan bahwa proyek fase awal untuk koridor Tomang-Medan Satria telah memasuki tahapan lelang. Saat ini, proses pengadaan terutama dilakukan untuk paket pekerjaan persiapan.
Koridor Tomang-Medan Satria memiliki panjang sekitar 24,5 kilometer. Selain itu, akan dibangun jalur khusus sepanjang 5,7 kilometer yang menghubungkan lintasan utama dengan depo MRT di Rorotan.
Menurut Weni, konstruksi jalur akan memadukan struktur layang (elevated) dan bawah tanah (underground). Ruas Tomang-Grogol sepanjang sekitar 1,9 kilometer direncanakan menggunakan konstruksi layang.
Sementara itu, sejumlah segmen lainnya akan dibangun di bawah tanah, mulai dari kawasan Roxy hingga Galur. Total panjang jalur bawah tanah pada tahap awal diperkirakan mencapai sekitar 9 kilometer.
MRT Jakarta menargetkan pekerjaan konstruksi dapat dimulai pada akhir 2026. Saat ini proses tender masih berlangsung dan mayoritas peserta berasal dari Jepang karena proyek tahap awal masih menggunakan skema pembiayaan pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA).
Dengan pengembangan koridor Timur-Barat tersebut, pemerintah dan MRT Jakarta berharap masyarakat di wilayah Jakarta, Bekasi, Tangerang, hingga Cikarang memiliki alternatif transportasi massal yang lebih terintegrasi. Kehadiran jalur baru ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi sekaligus menekan tingkat kemacetan di kawasan metropolitan Jabodetabek.
Editor : Lugas Rumpakaadi