Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

KAI Siapkan Transformasi Besar, Jalur Kereta Api Nonaktif Akan Direaktivasi dan TOD Diperluas hingga Surabaya

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 4 Juni 2026 | 08:30 WIB
PT KAI menargetkan pendapatan Rp66 triliun pada 2030 seiring perluasan jaringan rel menjadi lebih dari 7.000 kilometer. (Pexels/Firman Marek_Brew)
PT KAI menargetkan pendapatan Rp66 triliun pada 2030 seiring perluasan jaringan rel menjadi lebih dari 7.000 kilometer. (Pexels/Firman Marek_Brew)

RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan lonjakan pendapatan hingga sekitar Rp66 triliun pada 2030. Target tersebut sejalan dengan rencana perluasan jaringan rel nasional yang diproyeksikan melampaui 7.000 kilometer dalam lima tahun ke depan.

Mengutip Antara, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menyampaikan, saat ini panjang rel aktif yang dikelola mencapai sekitar 6.700 kilometer dengan pendapatan perusahaan sebesar Rp35,7 triliun. Melalui roadmap perusahaan periode 2025-2045, KAI menargetkan peningkatan kapasitas jaringan dan layanan untuk memperkuat posisi sebagai operator perkeretaapian berkelas dunia.

Menurut Bobby, roadmap tersebut disusun mengacu pada standar International Union of Railways (UIC) dan dibagi dalam lima tahapan transformasi hingga 2045. Pada tahap awal atau establishment yang berlangsung sepanjang 2025, perusahaan fokus membangun fondasi transformasi serta memperkuat kredibilitas korporasi.

Selanjutnya, pada 2030, KAI menargetkan peningkatan kapabilitas inti perusahaan agar memenuhi standar operator kereta api kelas dunia. Fase ini disebut sebagai titik penting sebelum perusahaan memasuki tahap ekspansi jaringan yang lebih luas pada 2035.

Selain memperluas jaringan, KAI juga melihat peluang besar dari reaktivasi jalur kereta nonaktif, terutama di Pulau Jawa. Bobby mengungkapkan, panjang rel aktif di Jawa saat ini masih kurang dari 7.000 kilometer. Padahal, pada masa kolonial Belanda, jaringan rel di wilayah tersebut pernah mencapai sekitar 10.000 kilometer.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pengembangan jaringan tidak semata-mata dilakukan melalui pembangunan jalur baru, melainkan juga dengan menghidupkan kembali lintasan yang sebelumnya tidak beroperasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung kebutuhan jaringan rel nasional yang diperkirakan mencapai 37.000 hingga 60.000 kilometer pada 2045.

Memasuki tahap ketiga pada 2035, KAI menargetkan pengoperasian sistem perkeretaapian yang lebih terintegrasi dan produktif. Fokus pengembangannya mencakup ekspansi layanan penumpang, peningkatan kapasitas angkutan barang, pengembangan kawasan transit oriented development (TOD), serta penciptaan sumber pendapatan baru dari berbagai lini usaha.

Pengembangan TOD menjadi salah satu strategi utama perusahaan untuk meningkatkan kontribusi pendapatan nonangkutan. Saat ini, sekitar 96 persen pendapatan KAI masih berasal dari bisnis transportasi penumpang dan logistik. Sementara kontribusi TOD baru mencapai sekitar 4 persen.

KAI telah memulai pengembangan TOD di sejumlah lokasi strategis. Setelah kawasan Manggarai, proyek serupa akan berlanjut di Kampung Bandan, Semarang, Surabaya, dan Bandung. Di Manggarai sendiri, perusahaan tengah membangun hampir 5.000 unit hunian yang ditargetkan rampung pada 2027.

Pengembangan kawasan berbasis transportasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi aset perusahaan sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam. Model ini dinilai berhasil diterapkan oleh operator kereta di sejumlah negara maju, termasuk Jepang, yang memperoleh porsi signifikan pendapatan dari bisnis properti dan pengembangan kawasan.

Pada tahap berikutnya menuju 2040, KAI akan berfokus meningkatkan pangsa moda transportasi kereta api untuk penumpang maupun barang. Perusahaan juga akan memperluas pengembangan TOD serta memperkuat kontribusi pendapatan dari eksplorasi bisnis baru.

Salah satu agenda strategis yang disiapkan adalah integrasi ekosistem industri perkeretaapian antara KAI dan PT Industri Kereta Api (INKA). Integrasi tersebut diharapkan mampu menyatukan kemampuan manufaktur dan pemeliharaan sarana sehingga menghasilkan industri transportasi berbasis teknologi yang lebih kompetitif.

Dari sisi kinerja keuangan, KAI mencatat pendapatan sebesar Rp35,7 triliun pada 2025. Pendapatan angkutan penumpang tumbuh 8 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp12,9 triliun. Sementara pendapatan angkutan barang tercatat Rp12,7 triliun atau turun tipis 1 persen secara tahunan.

Profitabilitas perusahaan juga menunjukkan tren positif. Laba bersih meningkat 2 persen menjadi Rp2,3 triliun, sedangkan EBITDA tumbuh 7 persen menjadi Rp8,3 triliun. Kontribusi KAI terhadap penerimaan negara turut meningkat signifikan dari Rp4,4 triliun pada 2024 menjadi Rp6,8 triliun pada 2025.

Dengan target pendapatan hampir dua kali lipat dalam lima tahun mendatang, KAI menempatkan ekspansi jaringan rel, reaktivasi jalur nonaktif, pengembangan TOD, dan integrasi industri perkeretaapian sebagai pilar utama transformasi menuju operator transportasi kelas dunia pada 2045.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Pendapatan KAI 2030 #Infrastruktur Kereta Api #Transit Oriented Development #Transportasi Nasional #pt kai