Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

80 Persen Kecelakaan Terjadi di Perlintasan Kereta Api Tak Terjaga, KAI Intensifkan Penutupan Titik Berisiko Tinggi

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 3 Juni 2026 | 14:21 WIB
KAI telah menutup 116 dari 172 perlintasan sebidang prioritas berisiko tinggi hingga Juni 2026. (Antara)
KAI telah menutup 116 dari 172 perlintasan sebidang prioritas berisiko tinggi hingga Juni 2026. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Upaya meningkatkan keselamatan transportasi terus dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Salah satu langkah strategis yang saat ini dipercepat adalah penutupan perlintasan sebidang berisiko tinggi yang selama ini menjadi titik rawan kecelakaan antara perjalanan kereta api dan pengguna jalan.

Hingga 2 Juni 2026, KAI bersama berbagai pemangku kepentingan berhasil menutup 116 dari total 172 perlintasan prioritas yang menjadi target penanganan secara nasional. Jumlah tersebut setara dengan 67 persen dari target yang telah ditetapkan.

Sementara itu, sebanyak 56 titik lainnya masih dalam tahap penyelesaian melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat kewilayahan, serta masyarakat setempat.

Program tersebut merupakan bagian dari penanganan 1.810 perlintasan tidak terjaga yang tersebar di berbagai wilayah operasional KAI. Dari jumlah itu, sebanyak 172 perlintasan dengan lebar jalan kurang dari dua meter direkomendasikan untuk ditutup karena dinilai memiliki tingkat risiko tinggi terhadap keselamatan perjalanan kereta api maupun pengguna jalan.

Adapun 1.638 titik lainnya menjadi prioritas peningkatan keselamatan melalui berbagai langkah pengamanan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, setiap penutupan perlintasan dilakukan berdasarkan identifikasi serta kajian keselamatan yang menyeluruh. Tujuannya untuk mengurangi titik-titik yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Setiap perlintasan yang ditutup telah melalui proses evaluasi dan pertimbangan keselamatan. Fokus utama kami adalah mengurangi titik-titik risiko yang berpotensi menimbulkan kecelakaan. Semakin banyak perlintasan berisiko yang berhasil ditutup, semakin besar peluang kita menciptakan perjalanan yang lebih aman bagi masyarakat dan operasional kereta api,” ujarnya, dikutip Antara.

Menurut Anne, keberhasilan menutup 116 perlintasan menunjukkan semakin kuatnya kolaborasi antara KAI, pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat kewilayahan, hingga masyarakat dalam mendukung peningkatan keselamatan transportasi.

Kolaborasi tersebut dinilai penting karena setiap perlintasan memiliki karakteristik, kondisi lingkungan, dan kebutuhan penanganan yang berbeda-beda. Dengan dukungan seluruh pihak, proses penutupan maupun peningkatan pengamanan dapat berjalan lebih efektif.

Perlintasan sebidang sendiri merupakan titik pertemuan antara jalur kereta api dan jalan raya yang membutuhkan disiplin serta kewaspadaan tinggi dari seluruh pengguna jalan. Karena itu, pengurangan jumlah perlintasan berisiko menjadi salah satu langkah preventif untuk menekan angka kecelakaan.

Data KAI mencatat, sepanjang periode 2023 hingga 24 Mei 2026 terjadi 1.074 kecelakaan di perlintasan sebidang. Dari kejadian tersebut tercatat 964 korban, terdiri atas 370 korban meninggal dunia, 247 korban luka berat, dan 347 korban luka ringan.

Sebanyak 80 persen kecelakaan terjadi di perlintasan tidak terjaga. Sementara 88 persen insiden dipicu perilaku pengguna jalan yang tetap menerobos saat kereta api akan melintas.

Angka tersebut menjadi peringatan bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada penyediaan fasilitas, tetapi juga pada kepatuhan masyarakat terhadap aturan berlalu lintas.

Anne menegaskan, manfaat penutupan perlintasan memang tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, setiap titik yang berhasil ditutup berarti mengurangi satu potensi risiko kecelakaan di masa mendatang.

“Ketika sebuah perlintasan berisiko berhasil ditutup, yang sesungguhnya sedang dilakukan adalah mengurangi peluang terjadinya kecelakaan. Keselamatan selalu dimulai dari langkah pencegahan. Karena itu, dukungan masyarakat sangat penting agar perlintasan yang telah ditutup tidak dibuka kembali secara mandiri dan manfaat keselamatannya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

KAI menargetkan penyelesaian 56 titik yang masih berproses dalam waktu dekat. Dengan tercapainya target penutupan 172 perlintasan prioritas, perusahaan berharap semakin banyak titik rawan yang dapat diminimalkan sehingga perjalanan kereta api maupun aktivitas masyarakat di sekitar jalur rel berlangsung lebih aman, tertib, dan selamat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Kecelakaan Perlintasan #Keselamatan Kereta Api #KAI #perlintasan sebidang #transportasi indonesia