Menyusuri Priangan Bersama KA Siliwangi, Kereta Rakyat Penggerak Ekonomi dan Wisata Jawa Barat

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 12:45 WIB
KA Siliwangi melayani 457.890 pelanggan sepanjang Januari–April 2026. (Antara)
KA Siliwangi melayani 457.890 pelanggan sepanjang Januari–April 2026. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Pagi di lintas Sukabumi–Cianjur–Cipatat selalu menghadirkan cerita yang berbeda setiap harinya. Dari pedagang yang membawa hasil dagangan sejak subuh, pelajar yang berangkat sekolah, hingga pekerja yang mengejar waktu di hari pertama bekerja, seluruh aktivitas itu bertemu dalam satu perjalanan bersama Kereta Api (KA) Siliwangi.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat KA Siliwangi telah melayani sebanyak 457.890 pelanggan sepanjang Januari hingga April 2026. Tingginya jumlah pelanggan tersebut menunjukkan kereta api masih menjadi moda transportasi utama masyarakat di lintas Cianjuran karena aman, nyaman, dan terjangkau.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan KA Siliwangi memiliki kedekatan kuat dengan masyarakat karena telah lama menjadi penghubung berbagai aktivitas warga di wilayah Sukabumi, Cianjur, hingga Bandung Barat.

“Setiap perjalanan KA Siliwangi membawa banyak cerita kehidupan. Ada pelajar yang berangkat mengejar cita-cita, pedagang yang mencari nafkah untuk keluarganya, hingga masyarakat yang ingin bertemu orang-orang tersayangnya. Karena itu, KA Siliwangi memiliki arti yang sangat dekat bagi masyarakat,” ujar Anne, dikutip Antara.

Melalui skema Public Service Obligation (PSO), masyarakat dapat menikmati perjalanan sejauh sekitar 67 kilometer dengan tarif hanya Rp5.000. Tarif tersebut dinilai membantu masyarakat mengurangi biaya perjalanan harian, khususnya bagi pelanggan yang rutin bepergian untuk bekerja, sekolah, berdagang, maupun beraktivitas antarwilayah.

Perjalanan KA Siliwangi dimulai dari Stasiun Sukabumi dan melintasi sejumlah stasiun seperti Gandasoli, Cireungas, Cibadak, Karangtengah, Cianjur, Ciranjang, Cipeuyeum, Gekbrong, Lampegan, Cibeber, hingga berakhir di Stasiun Cipatat.

Setiap stasiun memiliki karakter dan aktivitas masyarakat yang berbeda. Di kawasan Cibadak dan Cireungas, kereta api menjadi penopang mobilitas perdagangan dan pertanian. Sementara di wilayah Cianjur dan Ciranjang, perjalanan kereta membantu masyarakat menuju pusat pendidikan, layanan kesehatan, serta aktivitas ekonomi lainnya.

Berbeda lagi dengan kawasan Lampegan dan Cibeber yang menawarkan suasana pegunungan sejuk dan tenang. Dari balik jendela kereta, pelanggan dapat menikmati hamparan sawah, perbukitan hijau, hingga udara khas pegunungan Priangan.

Perjalanan semakin berkesan ketika kereta memasuki Terowongan Lampegan yang legendaris. Terowongan bersejarah tersebut menjadi salah satu ikon perjalanan KA Siliwangi sekaligus pengingat panjangnya sejarah perkeretaapian di wilayah Jawa Barat.

Tidak hanya menjadi sarana transportasi harian, KA Siliwangi juga mendukung sektor pariwisata di Jawa Barat. Dari Stasiun Cibeber, pelanggan dapat melanjutkan perjalanan menuju Situs Megalitikum Gunung Padang. Sedangkan dari Stasiun Cipatat, wisatawan bisa menikmati kawasan Stone Garden dan Goa Pawon yang terkenal dengan bentang alam karst purba bernilai sejarah tinggi.

Anne menambahkan, keberadaan KA Siliwangi turut membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat di sepanjang lintas Cianjuran. Kemudahan mobilitas dinilai mendorong perkembangan perdagangan lokal, distribusi hasil pertanian, hingga sektor wisata daerah.

“Banyak pelanggan yang sudah saling mengenal karena bertemu hampir setiap hari di perjalanan yang sama. Ada rasa dekat yang tumbuh di dalam kereta. Karena itu, KA Siliwangi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di lintas ini,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Transportasi Jawa Barat KA Siliwangi Sukabumi Cianjur Cipatat Kereta Api PSO KAI