RADARBANYUWANGI.ID - Libur panjang Iduladha selalu menjadi momentum meningkatnya mobilitas masyarakat. Sebagian memilih pulang kampung, sementara lainnya memanfaatkan waktu libur untuk berwisata bersama keluarga. Dalam situasi tersebut, transportasi publik berbasis rel menjadi pilihan karena dinilai praktis, nyaman, dan memiliki kepastian jadwal perjalanan.
Di Jawa Timur, Blitar menjadi salah satu kota tujuan yang menunjukkan tren perjalanan terus meningkat. Kota yang dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kini semakin mudah dijangkau melalui layanan kereta api lintas Jawa.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat, selama Januari hingga April 2026, Stasiun Blitar melayani 70.638 pelanggan naik dan 75.761 pelanggan turun. Total terdapat 146.399 pergerakan pelanggan di stasiun tersebut selama empat bulan pertama tahun ini.
Khusus April 2026, volume pelanggan mencapai 17.497 pelanggan naik dan 17.698 pelanggan turun. Jumlah tersebut diperkirakan kembali meningkat pada periode libur panjang Iduladha Mei 2026 seiring tingginya minat masyarakat bepergian menggunakan kereta api.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan pola perjalanan masyarakat saat ini menunjukkan meningkatnya minat terhadap perjalanan jarak menengah dan wisata singkat memanfaatkan transportasi publik.
Menurut dia, Blitar memiliki daya tarik kuat karena menawarkan kombinasi wisata sejarah, budaya, alam, hingga kuliner dalam satu kawasan yang mudah dijangkau kereta api.
“Blitar memiliki karakter destinasi yang kuat karena menggabungkan wisata sejarah, budaya, alam, dan kuliner dalam satu kawasan yang relatif mudah dijangkau menggunakan kereta api. Konektivitas ini membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan perjalanan yang praktis dengan waktu tempuh yang terukur,” ujar Anne, dikutip Antara.
Ia menambahkan, posisi Stasiun Blitar cukup strategis karena dilalui berbagai layanan kereta api lintas selatan, tengah, hingga utara Jawa. Kondisi tersebut membuat akses menuju Blitar semakin fleksibel dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Purwokerto, hingga Malang.
Pada lintas selatan Jawa, Stasiun Blitar melayani KA Malabar relasi Bandung–Malang pp serta KA Kahuripan relasi Blitar–Kiaracondong pp. Sementara itu, lintas tengah dan utara Jawa dilayani sejumlah kereta seperti KA Gajayana, KA Brawijaya, KA Majapahit, KA Matarmaja, KA Brantas, KA Singasari, KA Kertanegara, hingga KA Malioboro Ekspres.
Mobilitas regional masyarakat juga ditopang layanan Commuter Line Dhoho dan Penataran yang menghubungkan sejumlah kota di Jawa Timur.
Kemudahan akses transportasi tersebut berdampak langsung terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Wisatawan yang datang ke Blitar umumnya mengunjungi sejumlah destinasi sejarah seperti Makam Bung Karno, Istana Gebang, dan Monumen PETA.
Selain itu, wisata alam dan keluarga seperti Pantai Serang, Rambut Monte, Kampung Coklat, hingga Blitar Park juga menjadi magnet kunjungan saat akhir pekan maupun musim liburan.
Anne menilai, kemudahan transportasi turut mengubah pola perjalanan masyarakat yang kini lebih spontan dan fleksibel.
“Kereta api kini menjadi bagian dari gaya mobilitas masyarakat modern karena perjalanan dapat direncanakan lebih efisien, nyaman, dan tetap terhubung dengan banyak destinasi. Pada masa libur panjang seperti Iduladha, tren short escape dan perjalanan keluarga biasanya mengalami peningkatan,” jelasnya.
KAI mengimbau masyarakat merencanakan perjalanan lebih awal dan melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi Access by KAI maupun kanal resmi lainnya agar memperoleh pilihan jadwal perjalanan yang lebih leluasa.
Editor : Lugas Rumpakaadi