Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

KAI Soroti Tingginya Aktivitas di Perlintasan Sebidang, Flyover dan Underpass Dinilai Jadi Solusi Jangka Panjang

Lugas Rumpakaadi • Senin, 25 Mei 2026 | 10:08 WIB
PT KAI mengingatkan masyarakat lebih waspada saat melintas di perlintasan sebidang kereta api di tengah meningkatnya mobilitas akhir pekan. (Antara)
PT KAI mengingatkan masyarakat lebih waspada saat melintas di perlintasan sebidang kereta api di tengah meningkatnya mobilitas akhir pekan. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Meningkatnya mobilitas masyarakat pada akhir pekan membuat aktivitas di sejumlah jalur transportasi semakin padat, termasuk di kawasan perlintasan sebidang kereta api. Kondisi tersebut mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengingatkan masyarakat agar lebih disiplin dan waspada saat melintas di jalur kereta.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan keselamatan di perlintasan sebidang sangat bergantung pada kedisiplinan pengguna jalan. Pengendara diminta berhenti sejenak, melihat kondisi jalur dari kanan dan kiri, serta memastikan tidak ada kereta api yang melintas sebelum menyeberang.

Menurut Anne, kebiasaan terburu-buru saat berkendara kerap membuat pengguna jalan mengabaikan aspek keselamatan. Padahal, beberapa detik untuk memastikan kondisi jalur aman dapat mencegah risiko kecelakaan.

Baca Juga: Kemenpar Resmi Luncurkan Geopark Run Series 2026, Banyuwangi Jadi Pembuka Lewat Ijen Geopark Run

“Kadang perjalanan terasa dekat dan terburu waktu, padahal beberapa detik untuk berhenti dan melihat kondisi jalur bisa menjaga keselamatan banyak orang. Kami mengajak masyarakat tetap disiplin dan lebih hati-hati saat melintas di perlintasan sebidang,” ujarnya, dikutip Antara.

KAI mencatat masih terdapat sekitar 40 titik perlintasan aktif dengan lebar jalan besar dan intensitas kendaraan tinggi di berbagai wilayah operasional. Sejumlah titik berada di kawasan yang menjadi akses utama masyarakat menuju permukiman, pasar tradisional, sekolah, hingga pusat perdagangan dan distribusi logistik.

Di wilayah Banten, misalnya, perlintasan di kawasan Tigaraksa hingga Rangkasbitung menjadi jalur mobilitas komuter harian masyarakat. Sementara di Jawa Barat, beberapa titik berada di kawasan Purwakarta dan lintas pedesaan yang ramai dilalui kendaraan roda dua maupun pengangkut hasil pertanian.

Baca Juga: Hasil SNBT 2026 Diumumkan Hari Ini Pukul 15.00 WIB, Berikut Link Resmi dan Puluhan Mirror PTN untuk Cek Kelulusan

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Daop 3 Cirebon. Perlintasan tersebar di kawasan Jatibarang, Kertasemaya, Pegadenbaru, Cipunegara, Arjawinangun, hingga Bangoduwa dengan aktivitas harian yang cukup tinggi. Jalur tersebut banyak digunakan kendaraan pengangkut hasil bumi, pekerja, hingga pelajar.

Di Jawa Tengah, kepadatan kendaraan terlihat di lintas Pemalang, Slawi, Prembun, Grobogan, Randublatung, hingga kawasan Pantura yang menjadi jalur penghubung aktivitas ekonomi masyarakat. Adapun di wilayah DI Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan, titik seperti Srowot, Brambanan, hingga Masaran juga berada di kawasan padat aktivitas warga.

Tidak hanya di Pulau Jawa, kondisi perlintasan padat juga ditemukan di Sumatra Selatan dan Lampung. Beberapa titik berada di jalur kendaraan antarkota dan distribusi logistik masyarakat dengan kondisi jalan cukup lebar namun belum dijaga penuh.

Salah satunya berada di perlintasan Sukamerindu–Tanjung Rambang dengan lebar jalan mencapai 13 meter. Selain itu, terdapat titik Air Asam–Sukamerindu dengan lebar jalan 12 meter yang setiap hari dilalui kendaraan logistik dan mobilitas masyarakat.

Anne menyebut pertumbuhan kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi membuat intensitas kendaraan di sejumlah perlintasan meningkat signifikan dibanding beberapa tahun lalu. Karena itu, kebutuhan peningkatan infrastruktur keselamatan dinilai semakin mendesak.

KAI pun mendorong percepatan pembangunan flyover maupun underpass pada titik-titik dengan lalu lintas kendaraan tinggi dan tingkat risiko besar. Langkah tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi potensi kecelakaan di perlintasan sebidang.

“Flyover dan underpass menjadi solusi jangka panjang untuk kawasan dengan mobilitas tinggi. Ketika perpotongan sebidang dapat dikurangi secara bertahap, keselamatan masyarakat dan perjalanan kereta api akan semakin terjaga,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Flyover Underpass #Mobilitas Akhir Pekan #Keselamatan Kereta Api #KAI #perlintasan sebidang