Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Frekuensi Perjalanan KRL Naik, KAI Siapkan Penguatan Suplai Daya dan Persinyalan

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 21 Mei 2026 | 05:57 WIB
Lonjakan mobilitas urban mendorong kebutuhan penguatan elektrifikasi KRL di kawasan metropolitan. (Antara)
Lonjakan mobilitas urban mendorong kebutuhan penguatan elektrifikasi KRL di kawasan metropolitan. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Pertumbuhan mobilitas masyarakat urban dalam satu dekade terakhir mendorong kebutuhan penguatan elektrifikasi perkeretaapian di kawasan metropolitan. Peningkatan jumlah perjalanan kereta rel listrik (KRL), berkembangnya kawasan permukiman penyangga kota, hingga bertambahnya pusat aktivitas ekonomi membuat kebutuhan pasokan daya listrik terus meningkat.

Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (KAI), Anne Purba mengatakan elektrifikasi memiliki peran penting dalam mendukung sistem transportasi urban modern. Menurut dia, penguatan sistem tersebut berkaitan langsung dengan kapasitas perjalanan, kestabilan operasional, hingga keandalan sistem persinyalan yang dikelola bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

“Ketika jumlah perjalanan KRL terus meningkat, kebutuhan daya listrik juga ikut bertambah. Penguatan elektrifikasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan operasional perjalanan, mendukung sistem persinyalan, serta memastikan perjalanan KRL tetap berjalan aman dan andal di lintas dengan trafik yang semakin padat,” ujar Anne, dikutip Antara.

Baca Juga: Penumpang KAI Tembus 500 Juta Perjalanan, Generasi Z Pilih Kereta Api demi Kurangi Jejak Karbon dan Polusi

Berdasarkan riset perjalanan urban dan elektrifikasi perkeretaapian, jumlah pengguna KRL meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pada 2015, jumlah perjalanan tercatat sebanyak 257 juta dan meningkat menjadi 401 juta perjalanan pada 2025. Dalam periode tersebut terjadi penambahan lebih dari 140 juta perjalanan masyarakat urban.

Pemulihan mobilitas pascapandemi juga berlangsung cepat. Pada 2022, pertumbuhan pengguna mencapai 50 persen dan kembali meningkat 31 persen pada 2023. Lonjakan tersebut turut berdampak pada meningkatnya frekuensi perjalanan KRL harian.

Jika pada 2015 jumlah perjalanan KRL mencapai 881 perjalanan per hari, maka pada 2025 meningkat menjadi 1.063 perjalanan per hari. Bogor Line menjadi lintas dengan frekuensi perjalanan tertinggi yakni 299 perjalanan per hari, disusul Bekasi Line sebanyak 232 perjalanan dan Serpong Line 204 perjalanan per hari.

Baca Juga: Polisi Bongkar Dugaan Haji dan Umrah Fiktif di Banyuwangi, Korban Terus Bertambah hingga Luar Daerah

Anne menjelaskan, semakin rapat headway perjalanan maka kebutuhan terhadap sistem elektrifikasi yang kuat dan stabil juga semakin besar. Pasokan daya dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga performa perjalanan KRL, termasuk mendukung perangkat persinyalan, gardu listrik, dan pengaturan operasional di lintas padat.

“Elektrifikasi berkaitan erat dengan kemampuan sistem menghadapi pertumbuhan perjalanan. Ketika mobilitas urban meningkat sangat cepat, infrastruktur daya perlu diperkuat agar operasional tetap stabil dan risiko gangguan perjalanan dapat ditekan,” jelasnya.

Riset tersebut juga menunjukkan mobilitas urban Jabodetabek berkembang menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Total pengguna pada 2025 diproyeksikan mencapai 349,3 juta perjalanan. Jumlah itu jauh melampaui wilayah urban lainnya seperti Bandung sebesar 18,7 juta perjalanan, Surabaya 16 juta perjalanan, dan Yogyakarta 10,1 juta perjalanan.

Pengembangan layanan perkeretaapian urban terus dilakukan DJKA bersama operator kereta api. Transformasi tersebut meliputi revitalisasi stasiun, integrasi antarmoda, digitalisasi layanan, penguatan konektivitas kawasan strategis, hingga pengembangan pusat mobilitas baru di kawasan metropolitan.

Sebagai bagian dari penguatan sistem kelistrikan perkeretaapian urban, KAI juga mendukung rencana pengembangan infrastruktur elektrifikasi di Stasiun Jatake. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu titik strategis penguatan suplai daya perjalanan KRL di masa mendatang.

Pengembangan itu diharapkan mampu menjaga stabilitas operasional perjalanan kereta, meningkatkan keandalan sistem persinyalan, sekaligus mengantisipasi pertumbuhan frekuensi perjalanan pada lintas perkotaan yang terus meningkat.

“Transportasi berbasis rel saat ini berkembang menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan. Karena itu, pembangunan elektrifikasi perlu dipandang sebagai penguatan sistem transportasi jangka panjang untuk menjaga kapasitas layanan, mendukung efisiensi perjalanan masyarakat, serta meningkatkan kualitas konektivitas kawasan urban,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Infrastruktur Perkeretaapian #elektrifikasi KRL #transportasi metropolitan #kai commuter #Mobilitas Urban