RADARBANYUWANGI.ID - Momentum long weekend mendorong perubahan pola perjalanan masyarakat Jabodetabek. Jika pada hari kerja mobilitas didominasi perjalanan menuju pusat ekonomi, masa libur panjang justru memicu pergerakan ke kawasan wisata dan kota penyangga yang lebih tenang.
Di jalur Bogor–Sukabumi, tren tersebut terlihat dari meningkatnya minat masyarakat menggunakan KA Lokal Pangrango. Hingga 15 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat sebanyak 17.689 pelanggan telah membeli tiket KA Pangrango untuk periode long weekend.
Lonjakan tersebut menunjukkan kereta lokal semakin menjadi pilihan masyarakat karena menawarkan kepastian waktu tempuh di tengah kepadatan jalur darat Bogor–Sukabumi yang kerap meningkat saat akhir pekan maupun musim liburan.
Baca Juga: Kemensos Pastikan Bansos Gagal Cek Rekening Akan Dicairkan Lagi
KA Pangrango melayani relasi Bogor Paledang–Sukabumi menggunakan rangkaian kelas eksekutif dan ekonomi dengan tarif mulai Rp40 ribu. Kereta ini menempuh perjalanan sekitar 1 jam 40 menit dengan melintasi sejumlah wilayah seperti Batutulis, Maseng, Cigombong, Cicurug, Cibadak, hingga Cisaat sebelum tiba di Sukabumi.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, KA Pangrango kini berkembang menjadi penghubung penting mobilitas masyarakat di lintas Bogor–Sukabumi.
“KA Pangrango memberikan pilihan perjalanan yang lebih efisien dan terjangkau bagi masyarakat. Saat volume kendaraan meningkat pada long weekend, kereta api menghadirkan kepastian waktu tempuh sehingga masyarakat dapat merencanakan perjalanan dengan lebih nyaman,” ujar Anne, dikutip Antara.
Menurut dia, keberadaan layanan kereta tersebut tidak hanya mendukung mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari penggerak ekonomi kawasan. Mobilitas wisatawan, pekerja harian, pelaku UMKM, hingga masyarakat antarwilayah dinilai semakin efisien berkat perjalanan yang terjadwal dan stabil.
Dari sisi pariwisata, KA Pangrango juga memperluas akses menuju berbagai destinasi di sepanjang lintas Bogor–Sukabumi. Wisatawan dapat menuju kawasan Lido melalui Stasiun Cigombong, mengakses wisata alam Situgunung dari Stasiun Cisaat, hingga menikmati kawasan heritage Batutulis di Kota Bogor.
KAI menilai pola perjalanan tersebut mendorong pemerataan pergerakan wisatawan sehingga aktivitas ekonomi lokal tidak hanya terpusat pada satu destinasi tertentu.
Kemudahan konektivitas turut memperkuat peran layanan ini. Kehadiran skybridge yang menghubungkan Stasiun Bogor dan Stasiun Bogor Paledang memudahkan pelanggan Commuter Line dari Jakarta melanjutkan perjalanan menuju Sukabumi. Integrasi dengan Trans Pakuan dan JR Connexion juga memperluas akses perjalanan masyarakat tanpa bergantung sepenuhnya pada kendaraan pribadi.
Pertumbuhan mobilitas tersebut tercermin dari meningkatnya volume pelanggan di Stasiun Bogor Paledang. Pada Triwulan I 2026, volume pelanggan naik tercatat mencapai 127.510 orang atau meningkat 410 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 24.979 pelanggan.
Sementara itu, volume pelanggan turun mencapai 130.515 orang atau naik 561 persen dibandingkan Triwulan I 2025 yang tercatat sebanyak 19.729 pelanggan.
Lonjakan tersebut menunjukkan Stasiun Bogor Paledang berkembang menjadi simpul mobilitas baru di wilayah selatan Jabodetabek, baik untuk perjalanan harian maupun wisata.
Baca Juga: Everton vs Sunderland: Duel Penentu Asa ke Kompetisi Eropa di Pengujung Musim Liga Inggris
“KAI melihat pertumbuhan pelanggan di lintas Bogor–Sukabumi sebagai indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik berbasis rel. KA Pangrango terus kami jaga keandalannya agar dapat mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan kawasan secara berkelanjutan,” pungkas Anne.
Editor : Lugas Rumpakaadi