RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember terus memperkuat pengawasan infrastruktur jalan rel guna memastikan keselamatan dan kenyamanan perjalanan kereta api. Salah satu langkah strategis yang dilakukan yakni pemeriksaan rutin geometri jalan rel menggunakan armada Kereta Ukur Jalan Rel (KUJR) berteknologi tinggi.
Pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lintasan agar tetap memenuhi standar Track Quality Index (TQI), yakni parameter deviasi yang digunakan sebagai acuan kualitas jalan rel di Indonesia.
Manager Hukum dan Humas Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro menjelaskan, pemeriksaan menggunakan KUJR memungkinkan evaluasi kondisi lintasan dilakukan secara akurat tanpa mengganggu operasional perjalanan kereta api reguler.
“Keselamatan adalah harga mati bagi KAI. Melalui Kereta Ukur ini, kami dapat mengevaluasi kondisi lintasan secara objektif, mulai dari Lebar Sepur (jarak antar rel), Angkatan (ketinggian vertikal), hingga Listringan (kelurusan horizontal). Data ini sangat penting bagi tim prasarana untuk melakukan perawatan yang presisi di titik-titik yang memerlukan perbaikan,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Menurut Cahyo, jalan rel merupakan konstruksi vital yang tersusun dari baja dan beton untuk mengarahkan jalannya rangkaian kereta api. Karena itu, kondisi rel harus selalu berada dalam batas toleransi teknis yang aman.
Untuk mendukung pemeriksaan tersebut, KAI Daop 9 Jember mengoperasikan sejumlah armada kereta ukur dengan spesifikasi berbeda. Salah satunya KUJR EM-120 Nomor 7190 “Arjuna”, armada terbaru buatan tahun 2022 yang dilengkapi teknologi laser optical contact untuk mengukur geometri rel, tingkat keausan rel, hingga kondisi listrik aliran atas secara presisi.
Baca Juga: Godzilla El Nino Mulai Mengintai, Indonesia Terancam Kemarau Panjang
Selain itu, terdapat KUJR EM-120 Nomor 109 “Bratasena” buatan tahun 1995 yang masih mengandalkan sistem pengukuran mekanik menggunakan troli. Armada lain yakni KUJR HKPW U-76501 “Yudistira”, sarana legendaris buatan tahun 1976 yang telah dimodifikasi pada 2007 dan dioperasikan dengan ditarik lokomotif.
Tak hanya mengandalkan kereta ukur, KAI juga memanfaatkan Accelerometer Portable. Perangkat sensor ini digunakan untuk mendeteksi perubahan percepatan pada sumbu x, y, dan z guna memantau kualitas guncangan kereta saat melintas di jalur tertentu.
Di wilayah Daop 9 Jember, pemeriksaan dilakukan di sepanjang lintas Pasuruan hingga Banyuwangi dengan panjang mencapai 261.103 Kilometer Sepur (Kmsp). Berbagai parameter teknis seperti Pertinggian rel di tikungan dan Skilu atau perbedaan ketinggian rel dalam jarak pendek dipantau secara detail agar tidak melampaui ambang toleransi keselamatan.
Cahyo menambahkan, pemeriksaan geometri jalan rel dilakukan secara berkala setiap tiga bulan. Sepanjang 2025, Daop 9 Jember telah melaksanakan empat kali pemeriksaan. Sementara pada 2026, dua kali pemeriksaan telah dilakukan sebagai bagian dari program pemeliharaan preventif.
“Hasil dari pemantauan ini memungkinkan kami melakukan perawatan preventif. Dengan mendeteksi gejala kerusakan lebih awal, kita bisa meminimalisir risiko gangguan perjalanan, sehingga masyarakat yang menggunakan jasa kereta api di wilayah Daop 9 Jember dapat sampai di tujuan dengan selamat, aman, dan tepat waktu,” pungkas Cahyo.
Editor : Lugas Rumpakaadi