RADARBANYUWANGI.ID – Di balik popularitas Kawah Ijen, tersembunyi sebuah lanskap perbukitan yang tak kalah memikat: Bukit Apetlepet. Hamparan bukit berlapis-lapis dengan kontur unik menjadikan destinasi ini kerap dijuluki “Bukit Teletubbies”-nya Bondowoso.
Berada di kawasan Curah Macan, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, Bukit Apetlepet menawarkan panorama alami yang masih relatif perawan. Jauh dari keramaian wisata massal, tempat ini menjadi surga tersembunyi bagi pencinta alam dan pemburu ketenangan.
Lanskap Berlapis yang Unik dan Ikonik
Nama “Apetlepet” sendiri berasal dari kondisi bukit yang tampak berlapis-lapis jika dilihat dari dekat. Kontur bergelombang dengan padang ilalang luas menciptakan pemandangan dramatis yang memanjakan mata.
Sekilas, lanskapnya mengingatkan pada perbukitan hijau di kawasan Bromo. Namun, lokasinya yang berada di kaki Gunung Ijen memberikan nuansa berbeda—lebih sejuk, lebih sunyi, dan terasa lebih eksklusif.
Di bagian depan bukit, hamparan ilalang luas menciptakan efek visual yang khas, terutama saat tertiup angin. Suasana ini menghadirkan pengalaman visual yang jarang ditemukan di destinasi wisata lain.
Eksotis di Musim Hujan maupun Kemarau
Keindahan Bukit Apetlepet tidak bergantung pada musim. Saat musim hujan, bukit akan diselimuti warna hijau segar yang menenangkan. Sebaliknya, saat kemarau, warna kecokelatan justru menghadirkan nuansa eksotis layaknya lanskap musim gugur di luar negeri.
Perubahan warna ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya pecinta fotografi yang ingin mendapatkan suasana berbeda dalam satu lokasi yang sama.
Hidden Gem, Masih Sepi dan Alami
Berbeda dengan Kawah Ijen yang selalu ramai, Bukit Apetlepet masih tergolong destinasi tersembunyi. Belum banyak wisatawan yang mengetahui keberadaannya, sehingga suasana di lokasi cenderung tenang dan jauh dari hiruk-pikuk.
Kondisi ini menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin menikmati alam secara lebih privat dan leluasa.
Akses Sederhana, Nuansa Lokal Kental
Untuk memasuki kawasan ini, pengunjung hanya perlu memberikan kontribusi seikhlasnya kepada petani kentang setempat yang mengelola lahan di sekitar bukit. Sistem ini mencerminkan kearifan lokal sekaligus keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata.
Meski aksesnya tidak terlalu sulit, pengunjung tetap disarankan menggunakan alas kaki yang nyaman, terutama jika ingin menjelajahi seluruh area perbukitan.
Spot Trekking dan Healing Favorit
Bukit Apetlepet juga cocok bagi pecinta aktivitas ringan seperti trekking santai. Tersedia gazebo kecil yang bisa digunakan untuk beristirahat sambil menikmati bekal.
Suara angin yang berhembus di antara ilalang, kicauan burung, serta udara sejuk pegunungan menghadirkan pengalaman relaksasi alami yang sulit ditemukan di perkotaan.
Sentuhan Sejarah di Guest House Jampit
Tak jauh dari lokasi, terdapat Guest House Jampit yang menjadi daya tarik tambahan. Bangunan peninggalan Belanda yang dibangun pada 1927 ini masih berdiri kokoh di kawasan Kebun Kopi Kalisat Jampit.
Arsitektur klasik dengan taman bernuansa Eropa di bagian depan menjadikan lokasi ini spot favorit untuk fotografi, sekaligus menambah nilai historis dalam kunjungan wisata.
Potensi Besar Wisata Alternatif
Dengan kombinasi lanskap unik, suasana tenang, serta sentuhan sejarah, Bukit Apetlepet memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alternatif di Bondowoso.
Jika dikelola secara berkelanjutan tanpa merusak keasliannya, tempat ini bisa menjadi magnet baru bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda—lebih dekat dengan alam, lebih tenang, dan lebih autentik.
Di tengah tren wisata “healing” dan eksplorasi alam, Bukit Apetlepet hadir sebagai jawaban: sederhana, alami, namun membekas. (*)
Editor : Ali Sodiqin