Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Stasiun Rogojampi Jadi Nadi Ekonomi Banyuwangi Selatan, Penumpang Kereta Api Naik Hampir 20 Persen

Lugas Rumpakaadi • Senin, 27 April 2026 | 08:12 WIB
Stasiun Rogojampi kini menjadi simpul vital mobilitas Banyuwangi. (Antara)
Stasiun Rogojampi kini menjadi simpul vital mobilitas Banyuwangi. (Antara)

RADARBANYUWANGTI.ID - Riuh aktivitas di kawasan Pasar Rogojampi tak pernah benar-benar berhenti. Di tengah deru kendaraan dan mobilitas warga, Stasiun Rogojampi berdiri sebagai simpul penting yang menggerakkan denyut kehidupan masyarakat Banyuwangi bagian selatan.

Sejak pagi buta hingga petang, stasiun ini menjadi titik temu beragam kepentingan. Pedagang, mahasiswa, hingga wisatawan berbaur dalam satu arus mobilitas yang dinamis. Stasiun Rogojampi menjelma menjadi penghubung aktivitas ekonomi dan sosial.

Stasiun ini memiliki sejarah panjang. Diresmikan pada 1903 oleh Staatsspoorwegen, jalur Mrawan–Rogojampi–Banyuwangi awalnya dibangun untuk memperlancar distribusi hasil perkebunan ke pelabuhan.

Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut bertransformasi. Kini Rogojampi berkembang menjadi kawasan strategis dengan populasi lebih dari 90 ribu jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024. Lokasinya yang menghubungkan pusat Kota Banyuwangi dengan wilayah Genteng dan Benculuk menjadikannya koridor vital bagi mobilitas warga.

Keunggulan Rogojampi semakin kuat dengan integrasi antarmoda. Stasiun ini hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari Bandara Internasional Banyuwangi, memungkinkan perpindahan cepat antara moda kereta api dan transportasi udara.

Kemudahan ini menjadi nilai tambah bagi pelancong maupun pelaku usaha. Efisiensi waktu perjalanan berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Dari peron Rogojampi, akses menuju berbagai destinasi unggulan terbuka lebar. Wisatawan dapat dengan mudah menjangkau Taman Nasional Alas Purwo, De Djawatan, hingga Pantai Pulau Merah.

Selain wisata alam, kekayaan budaya lokal juga ikut terangkat. Tradisi khas Osing seperti Kebo-keboan semakin dikenal luas berkat kemudahan akses transportasi.

Data menunjukkan tren pertumbuhan positif. Pada Triwulan I 2026, jumlah penumpang berangkat dari Stasiun Rogojampi mencapai 67.212 orang, meningkat 19,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara penumpang turun tercatat 67.109 orang atau naik 12,2 persen.

Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (KAI), Anne Purba, menegaskan bahwa kemudahan akses menjadi kunci penggerak ekonomi lokal.

“Perjalanan yang semakin mudah membantu masyarakat menjalankan aktivitas dengan lebih efisien. Akses yang dekat antara stasiun dan bandara membuka peluang usaha, memperkuat pergerakan ekonomi, serta mendukung pengembangan pariwisata dan budaya daerah,” ujarnya, dikutip Antara.

Dampak ekonomi turut dirasakan pelaku UMKM, khususnya sektor kuliner. Hidangan khas seperti Sego Cawuk, Rujak Soto, dan Pecel Pitik kini menjadi buruan para pendatang.

Mobilitas tinggi penumpang menciptakan pasar baru yang terus berkembang bagi pelaku usaha lokal.

“Kepercayaan masyarakat menjadi dorongan bagi KAI untuk terus menjaga kualitas layanan. Setiap perjalanan diharapkan memberi kemudahan, rasa aman, serta manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Stasiun Rogojampi #KAI #penumpang #Kereta Api #banyuwangi