RADARBANYUWANGI.ID - Perjalanan di Pulau Sumatera selalu menyimpan cerita.
Dari mereka yang berangkat pagi demi penghidupan, hingga yang menempuh jarak jauh untuk pulang ke rumah, kereta api menjadi penghubung penting berbagai langkah kehidupan.
Di lintasan Sumatra bagian selatan, kehadiran KA Rajabasa semakin menguatkan peran tersebut.
Sepanjang Triwulan I 2026, layanan KA Rajabasa mencatat 221.406 pelanggan.
Angka ini meningkat 36,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 162.230 pelanggan.
Lonjakan ini menandakan kebutuhan transportasi kereta api di wilayah Sumatra Selatan terus tumbuh seiring aktivitas masyarakat yang semakin dinamis.
Menurut Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia, Anne Purba, kereta api kini semakin menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
“Setiap perjalanan memiliki arti bagi setiap orang. Ada yang berangkat untuk bekerja, berdagang, menempuh pendidikan, atau pulang ke rumah. Kereta api hadir di tengah itu semua, menghubungkan langkah-langkah yang terus berjalan setiap hari,” ujarnya, dikutip Antara.
Untuk menjawab peningkatan kebutuhan tersebut, KAI menambah rangkaian KA Rajabasa dari lima menjadi delapan kereta ekonomi.
Penambahan ini memperluas kapasitas penumpang, sehingga lebih banyak masyarakat dapat menikmati perjalanan yang nyaman dengan biaya terjangkau.
Dengan tarif Rp32.000 untuk rute terjauh Tanjung Karang–Kertapati, KA Rajabasa menjadi pilihan transportasi yang inklusif.
Rute ini menghubungkan berbagai kota penting, mulai dari Bandar Lampung, Kotabumi, hingga Palembang, yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial.
Sepanjang perjalanan, kereta melintasi wilayah dengan karakteristik beragam.
Dari kawasan pertanian di Lampung, kota-kota berkembang seperti Baturaja dan Martapura, hingga wilayah industri di Prabumulih.
Setiap pemberhentian menghadirkan akses mobilitas yang semakin mudah bagi masyarakat setempat.
Selain fungsi transportasi, perjalanan KA Rajabasa juga menawarkan pengalaman khas Sumatera.
Penumpang dapat menyaksikan rumah panggung tradisional, hamparan kebun dan sawah, hingga nuansa budaya Palembang dengan rumah limas dan kuliner khas seperti pempek.
Anne menambahkan bahwa dalam satu rangkaian kereta, berbagai tujuan hidup berjalan berdampingan.
“Dalam satu perjalanan, kita bisa melihat banyak tujuan yang berbeda. Kereta api ini hadir untuk kita semua, digunakan bersama setiap hari, dan tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Dari situlah perjalanan ini menjadi bagian dari langkah kehidupan yang kita jalani,” pungkasnya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara