RADARBANYUWANGI.ID - Kereta api lokal semakin menegaskan posisinya sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat di Jawa Barat. Memasuki Triwulan I 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat lonjakan signifikan jumlah pengguna pada layanan KA Lokal Bandung Raya dan KA Lokal Garut.
Data operasional menunjukkan, KA Lokal Bandung Raya melayani 2.858.523 pelanggan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, sebanyak 2,45 juta pelanggan dan 1,96 juta pelanggan pada 2024. Tren ini mencerminkan pertumbuhan yang konsisten dalam pemanfaatan transportasi berbasis rel oleh masyarakat.
Peningkatan juga terjadi pada KA Lokal Garut dengan relasi Purwakarta–Garut pulang-pergi. Layanan ini mencatat 778.837 pelanggan pada Triwulan I 2026, naik dari sekitar 697 ribu pelanggan pada 2025 dan 620 ribu pelanggan pada 2024.
Lebih dari sekadar moda transportasi, kereta lokal kini menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Jalur Padalarang–Cicalengka hingga Garut–Purwakarta berfungsi sebagai urat nadi mobilitas bagi pekerja, pelajar, hingga masyarakat yang mengakses layanan kesehatan.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa keberadaan kereta lokal telah melekat dalam rutinitas warga.
“Setiap perjalanan yang terjadi di kereta lokal adalah bagian dari aktivitas masyarakat yang terus berjalan. Dari berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, hingga mengakses layanan kesehatan, semuanya saling terhubung dalam satu perjalanan yang terjangkau dan dapat diandalkan,” ujarnya, dikutip Antara.
Faktor efisiensi waktu dan keterjangkauan tarif menjadi pendorong utama pertumbuhan ini. KA Lokal Bandung Raya menetapkan tarif maksimal Rp5.000, sementara KA Lokal Garut sebesar Rp14.000. Harga tersebut dinilai memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap produktif tanpa beban biaya transportasi yang tinggi.
Selain itu, jalur yang dilalui mencakup berbagai titik strategis, mulai dari kawasan industri di Rancaekek, pusat pendidikan di wilayah timur Bandung, hingga simpul ekonomi seperti Stasiun Bandung dan Kiaracondong. Konektivitas ini menjaga pergerakan ekonomi di wilayah Priangan tetap dinamis.
Anne menambahkan, kereta lokal tidak hanya menghubungkan tempat, tetapi juga menyatukan berbagai tujuan dalam satu waktu yang sama.
“Di dalam satu perjalanan, ada banyak tujuan yang berbeda, namun semuanya bergerak dalam waktu yang sama. Di situlah peran kereta api hadir menjaga keterhubungan dan mendukung aktivitas masyarakat setiap hari,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi