RADARBANYUWANGI.ID - Aktivitas masyarakat di kawasan timur Jabodetabek menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Mobilitas lintas wilayah kini menjadi bagian dari keseharian, dengan perjalanan yang tidak lagi terbatas di sekitar tempat tinggal, tetapi meluas hingga ke Cikarang, Cikampek, dan wilayah sekitarnya.
Perubahan pola pergerakan ini tercermin dari meningkatnya layanan yang disediakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) melalui Cikarang Line. Jika pada 2015 frekuensi perjalanan hanya mencapai 158 perjalanan per hari, maka pada 2025 jumlah tersebut melonjak menjadi 281 perjalanan per hari.
Kenaikan frekuensi ini menjadi indikator meningkatnya kebutuhan masyarakat akan transportasi publik yang andal, terjangkau, dan memiliki jadwal yang lebih fleksibel. Seiring dengan itu, volume pengguna juga terus bertumbuh. Data menunjukkan jumlah pengguna KRL Cikarang Line mencapai 55,6 juta orang pada 2022, meningkat menjadi 71,6 juta pada 2023, lalu 84,4 juta pada 2024, dan menembus 85,9 juta pengguna pada 2025.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa peningkatan tersebut mencerminkan perubahan kebutuhan mobilitas masyarakat.
“Perjalanan masyarakat sekarang semakin luas. Banyak yang tinggal di satu wilayah dan beraktivitas atau bekerja di wilayah lain. Layanan transportasi perlu mengikuti kebutuhan tersebut agar perjalanan tetap nyaman dan terjangkau,” ujar Anne, dikutip Antara.
Penguatan layanan ini juga didukung pengembangan prasarana yang dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi antara KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) di bawah Kementerian Perhubungan. Saat ini, elektrifikasi jalur dari Tanah Abang hingga Cikarang telah mencapai total 40,310 km, mencakup beberapa segmen utama seperti Tanah Abang–Manggarai, Manggarai–Jatinegara, hingga Bekasi–Cikarang.
Tidak hanya di jalur utama, peningkatan mobilitas juga terlihat pada layanan lanjutan. KA Walahar Ekspres relasi Cikarang–Purwakarta mencatat kenaikan jumlah pengguna dari 2,1 juta pada 2022 menjadi lebih dari 4 juta pada 2025. Sementara itu, KA Jatiluhur relasi Cikarang–Cikampek mengalami lonjakan signifikan dari 219 ribu pengguna pada 2022 menjadi hampir 1,2 juta pengguna pada 2025.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pergerakan masyarakat terus meluas hingga ke wilayah yang lebih jauh dari pusat kota. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi rencana pengembangan lanjutan, termasuk perluasan elektrifikasi hingga Cikampek.
Anne menilai langkah ini penting untuk menjawab kebutuhan mobilitas yang terus berkembang.
“Dengan layanan yang semakin luas, masyarakat bisa menghemat waktu perjalanan, memiliki lebih banyak pilihan jadwal, dan tetap terhubung dengan berbagai pusat aktivitas seperti kawasan industri, pusat perdagangan, dan tempat bekerja sehari-hari,” jelasnya.
Penguatan sistem transportasi ini juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah. Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya perkeretaapian dalam pembangunan nasional saat meresmikan Stasiun Tanah Abang Baru pada 4 November 2025. Hal tersebut kembali ditekankan dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada 6 April 2026 yang membahas percepatan program perumahan rakyat.
Dalam konteks tersebut, transportasi massal dinilai menjadi faktor kunci dalam membuka akses hunian di berbagai wilayah.
“Transportasi yang terhubung dengan baik menjadi salah satu kunci agar masyarakat dapat tinggal di lebih banyak pilihan lokasi, tanpa harus jauh dari tempat kerja atau pusat kegiatan,” tutur Anne.
KAI menilai perluasan elektrifikasi hingga Cikampek akan menjadi langkah strategis untuk mendukung mobilitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan hunian baru di timur Jabodetabek.
“Harapannya, semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan perjalanan yang lebih mudah, nyaman, dan terjangkau,” pungkas Anne.
Editor : Lugas Rumpakaadi