RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus memperkuat layanan transportasi publik melalui pengembangan elektrifikasi jalur di kawasan urban dan wilayah penyangga. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar peningkatan konektivitas nasional sekaligus menjawab lonjakan mobilitas masyarakat yang terus meningkat.
Kebijakan ini selaras dengan arahan pemerintah. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa sektor perkeretaapian menjadi prioritas pembangunan nasional saat meresmikan Stasiun Tanah Abang Baru pada 4 November 2025. Fokus utama diarahkan pada penyediaan layanan transportasi yang menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.
Data KAI menunjukkan pertumbuhan signifikan jumlah pengguna di sejumlah lintas utama. Lintas Rangkasbitung mencatat peningkatan dari 43,3 juta pengguna pada 2022 menjadi 77,5 juta pada 2025. Pada triwulan I 2026 saja, jumlah pengguna telah mencapai lebih dari 20,1 juta.
Pertumbuhan serupa terjadi pada layanan KA lokal Rangkasbitung–Merak, yang naik dari 3,6 juta pengguna pada 2023 menjadi 4,46 juta pada 2025. Hingga Maret 2026, jumlahnya sudah mencapai 1,13 juta pengguna.
Di lintas Bogor, volume penumpang berada pada skala yang jauh lebih besar. Dari 102 juta pengguna pada 2022, jumlahnya melonjak menjadi 155 juta pada 2025. Pada tiga bulan pertama 2026, tercatat 38,2 juta pengguna.
Sementara itu, lintas Bogor–Sukabumi melalui KA Pangrango juga mengalami peningkatan stabil, dengan total 1,1 juta pengguna pada 2025. Hingga triwulan I 2026, jumlahnya mencapai 281 ribu pengguna.
Lintas Cikarang pun menunjukkan tren serupa. Dari 55,6 juta pengguna pada 2022, meningkat menjadi 85,9 juta pada 2025 dan mencapai 21,7 juta pengguna pada awal 2026.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menilai angka tersebut mencerminkan perubahan pola mobilitas masyarakat.
“Pergerakan masyarakat semakin meluas. Angka-angka ini menunjukkan kebutuhan layanan yang terus berkembang mengikuti aktivitas di berbagai wilayah,” ujar Anne, dikutip Antara.
Menurutnya, pertumbuhan kawasan hunian, industri, dan pusat ekonomi menjadi faktor utama meningkatnya kebutuhan transportasi massal yang efisien dan terjangkau.
Pengembangan elektrifikasi jalur memberikan dampak langsung terhadap kualitas layanan. Frekuensi perjalanan dapat ditingkatkan, kapasitas angkut bertambah, serta pola operasi menjadi lebih fleksibel.
Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi antara KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Berbagai pengembangan telah dilakukan, termasuk pembangunan jalur ganda, penguatan simpul integrasi seperti Manggarai, serta pengoperasian rangkaian berkapasitas besar dengan headway lebih rapat.
Selain meningkatkan layanan, elektrifikasi juga memberikan manfaat besar dari sisi lingkungan. Pada lintas Rangkasbitung, efisiensi emisi tercatat sekitar 2,69–2,83 juta ton CO₂e. Lintas Bogor mencatat efisiensi 4,16–4,37 juta ton CO₂e, sementara lintas Cikarang mencapai 1,37–1,44 juta ton CO₂e.
Secara total, ketiga lintas tersebut menghasilkan efisiensi emisi sekitar 8,22 hingga 8,64 juta ton CO₂e, menjadikannya kontribusi signifikan terhadap transportasi ramah lingkungan.
KAI menargetkan pengembangan lanjutan untuk memperluas jangkauan layanan. Lintas Rangkasbitung berpotensi diperpanjang hingga Merak, lintas Bogor hingga Sukabumi, dan lintas Cikarang menuju Cikampek.
Pengembangan ini diharapkan mampu membuka akses baru, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan penyangga.
“Pengembangan ini kami lanjutkan secara bertahap agar layanan bisa terus mengikuti kebutuhan masyarakat. Harapannya, perjalanan menjadi lebih mudah dijangkau, semakin nyaman, dan turut mendukung aktivitas ekonomi di berbagai wilayah,” pungkas Anne.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara