Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pengunjung Kawah Ijen Kecewa, Akses Dekat Blue Flame Dipagar, Ini Penjelasan BBKSDA Jatim

Bagus Rio Rohman • Kamis, 2 April 2026 | 04:24 WIB
DESTINASI FAVORIT: Sejumlah pengunjung antre di loket tiket masuk TWA Ijen. (Istimewa)
DESTINASI FAVORIT: Sejumlah pengunjung antre di loket tiket masuk TWA Ijen. (Istimewa)

RADARBANYUWANGI.ID - Sejumlah wisatawan yang berkunjung ke Kawah Ijen mengaku kecewa. Pasalnya, akses untuk mendekati lokasi fenomena api biru (blue flame) yang menjadi ikon wisata tersebut ditutup dalam beberapa hari terakhir.

Penutupan jalur menuju titik blue flame membuat pengunjung tidak dapat turun mendekati kawah.

Padahal, fenomena alam langka tersebut menjadi daya tarik utama yang hanya bisa disaksikan pada dini hari di kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen.

Wisatawan Gagal Nikmati Daya Tarik Utama

Salah satu pemandu wisata lokal, Nasih, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut banyak wisatawan yang merasa kecewa karena tujuan utama mereka tidak dapat terpenuhi.

“Banyak tamu yang kecewa karena tujuan utama mereka ke Ijen itu ingin lihat api biru. Tapi sekarang jalurnya ditutup, jadi tidak bisa turun ke kawah,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi seperti ini kerap terjadi saat aktivitas penambangan belerang meningkat atau ketika faktor keselamatan menjadi prioritas utama.

Harapan Pengaturan Akses Wisata dan Penambang

Nasih berharap ada solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan wisatawan tanpa mengganggu aktivitas penambang.

“Harapannya ada pengaturan yang lebih jelas, misalnya pembagian waktu antara wisatawan dan penambang, supaya semua bisa berjalan,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan salah satu wisatawan, Karisma. Ia mengaku hanya bisa menikmati panorama kawah dari puncak tanpa melihat blue flame dari dekat.

“Kami sebenarnya datang untuk melihat fenomena alam blue flame. Jadi ketika tidak bisa melihat dari dekat, kami cukup kecewa,” ungkapnya.

BBKSDA: Demi Keselamatan dan Aktivitas Penambang

Menanggapi hal tersebut, pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menegaskan bahwa pembatasan akses dilakukan bukan tanpa alasan.

Kepala Bidang KSDA Wilayah III BBKSDA Jatim, Purwantono, menjelaskan bahwa kawasan kawah memiliki risiko tinggi sehingga perlu pembatasan demi keselamatan pengunjung.

“Sebenarnya itu larangan supaya pengunjung tidak mendekat ke kawah. Karena kondisinya sangat berbahaya, apalagi di sana juga ada aktivitas penambangan belerang,” ujarnya.

Pagar Bambu Jadi Pembatas, Bukan Penutupan Total

Purwantono menambahkan, pemasangan pagar bambu di jalur menuju titik blue flame bukan berarti kawasan wisata ditutup sepenuhnya, melainkan hanya pembatasan akses.

“Kalau sudah dipagari, artinya memang untuk membatasi akses pengunjung supaya tidak benar-benar mendekati kawah dan mengganggu aktivitas di sana,” jelasnya.

Perbaikan Pipa Pengaruhi Munculnya Blue Flame

Selain faktor keselamatan, saat ini juga tengah dilakukan perbaikan pipa penyalur gas belerang di area kawah. Hal tersebut turut memengaruhi munculnya fenomena blue flame.

“Memang ada perbaikan pipa di sana. Asap belerang biasanya dialirkan melalui pipa agar menghasilkan blue flame. Jadi kalau ada perbaikan, kemungkinan fenomenanya tidak muncul seperti biasanya,” terangnya.

Radius Aman 500 Meter dari Kawah

Berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), jarak aman bagi pengunjung adalah sekitar 500 meter dari kawah.

Namun di lapangan, kondisi ini sering menimbulkan persepsi berbeda di kalangan wisatawan, terutama karena penambang terlihat bekerja lebih dekat ke kawah.

“Secara rekomendasi, radius aman itu sekitar 500 meter. Tapi memang sering dibandingkan dengan aktivitas penambang,” tambahnya.

Alternatif Wisata Selain Blue Flame

Sebagai solusi, BBKSDA Jatim mengimbau pengunjung untuk tetap menikmati keindahan lain di kawasan Ijen, seperti panorama matahari terbit (sunrise), puncak Ijen, hingga lanskap Gunung Ranti.

“Harapannya pengunjung tidak hanya mengejar blue flame saja. Banyak spot lain yang tidak kalah menarik,” pungkas Purwantono.

Meski demikian, keluhan wisatawan menjadi catatan penting bagi pengelola agar ke depan dapat menghadirkan sistem pengaturan yang lebih optimal antara aspek keselamatan, aktivitas penambang, dan kepuasan wisatawan. (rio/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#blue flame Ijen #BBKSDA Jatim #akses ditutup Ijen #kawah ijen #wisata banyuwangi