RADARBANYUWANGI.ID – Aktivitas pendakian Gunung Raung Banyuwangi kembali menggeliat setelah sempat ditutup selama momentum Lebaran.
Jalur pendakian via Dusun Wonorejo, Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru, resmi dibuka pada Selasa (24/3), dan langsung diserbu ratusan pendaki.
Memasuki hari keempat pembukaan, Jumat (27/3), jumlah pendaki yang menuju puncak gunung setinggi 3.332 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu terus meningkat.
Antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya pendaki yang sudah memadati basecamp sejak hari pertama dibuka.
Hari Pertama Tembus 400 Pendaki
Petugas Sekretariat Pendakian Gunung Raung, Eko Wahyudianto, mengungkapkan bahwa lonjakan signifikan terjadi pada hari pertama pembukaan.
“Untuk hari pertama dibuka, ada 400 pendaki. Selanjutnya sekitar 200 orang, lalu kemarin dan hari ini masing-masing sekitar 150 pendaki,” ujarnya.
Secara rata-rata, jumlah pendaki yang naik setiap hari mencapai 200 orang. Angka ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap aktivitas pendakian, khususnya di momen libur panjang Lebaran.
Booking Sudah Dilakukan Sejak Ramadan
Menurut Eko, tingginya jumlah pendaki bukan terjadi secara tiba-tiba. Banyak calon pendaki yang sudah melakukan pemesanan atau booking sejak sebelum penutupan selama Ramadan dan Lebaran.
“Sejak sebelum ditutup sudah banyak yang booking untuk pendakian setelah Lebaran. Itu untuk seluruh basecamp yang ada di Kalibaru,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Gunung Raung tetap menjadi destinasi favorit bagi para pecinta alam, meski sempat ditutup sementara.
Libur Lebaran Jadi Momentum Pendakian
Lonjakan pendaki pada periode ini dinilai sebagai hal yang wajar. Selain karena pembukaan kembali jalur pendakian, faktor libur panjang Lebaran juga menjadi pemicu utama.
Banyak pendaki memanfaatkan waktu libur untuk menyalurkan hobi sekaligus menikmati keindahan alam pegunungan.
“Memang selalu melonjak saat libur Lebaran. Tidak hanya di sini, kemungkinan juga terjadi di destinasi wisata lain,” tambah Eko.
Ramadan Picu Penurunan Hingga 70 Persen
Sebelumnya, selama bulan Ramadan, jumlah pendaki Gunung Raung mengalami penurunan drastis hingga 70 persen. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas wisata dan pendapatan para pemandu atau tour guide.
“Karena pendakian membutuhkan fisik yang kuat, banyak yang memilih tidak naik saat berpuasa,” jelasnya.
Penutupan jalur pendakian selama hampir dua pekan juga membuat para pendaki harus menahan keinginan untuk mencapai puncak Raung.
Alternatif Favorit Saat Semeru Ditutup
Selain faktor libur Lebaran, meningkatnya minat pendakian Gunung Raung juga dipengaruhi oleh kondisi Gunung Semeru yang beberapa kali mengalami erupsi dan penutupan jalur pendakian.
Hal ini membuat Raung menjadi salah satu alternatif utama bagi para pendaki di Jawa Timur.
“Semeru beberapa kali erupsi, sehingga Gunung Raung kini jadi salah satu tujuan favorit,” ungkap Eko.
Destinasi Menantang Favorit Pendaki
Gunung Raung dikenal sebagai salah satu gunung dengan tingkat kesulitan tinggi di Indonesia, terutama untuk mencapai puncak sejatinya yang memiliki jalur ekstrem.
Meski demikian, pesona alam yang ditawarkan, mulai dari savana, hutan tropis, hingga panorama kawah, tetap menjadi daya tarik utama bagi para pendaki.
Dengan dibukanya kembali jalur pendakian dan tingginya antusiasme masyarakat, Gunung Raung diprediksi akan terus menjadi destinasi unggulan wisata petualangan di Banyuwangi, khususnya selama musim liburan. (sas/aif)
Editor : Ali Sodiqin