RADARBANYUWANGI.ID – Aktivitas pariwisata di kawasan Pantai Lovina, Bali Utara, terpantau lesu selama libur Nyepi 2026 dan menjelang Lebaran.
Tingkat hunian akomodasi di kawasan tersebut dilaporkan mengalami penurunan signifikan.
Pantauan di lapangan menunjukkan suasana pantai relatif sepi. Hanya segelintir wisatawan yang terlihat berjalan santai di pesisir, sementara sebagian lainnya memilih menghabiskan waktu di restoran atau area penginapan.
Okupansi Hotel Anjlok hingga 25 Persen
Penurunan jumlah wisatawan berdampak langsung pada tingkat hunian hotel. Staf hotel dan restoran Sea Breeze Lovina, Ketut Raga Asih, mengungkapkan okupansi saat ini hanya berada di kisaran 25 persen.
“Tingkat hunian saat ini hanya sekitar 25 persen. Tahun lalu masih bisa mencapai 50 persen,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Menurutnya, penurunan ini sudah terasa dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Faktor Low Season dan Nyepi Picu Penurunan
Ketut menjelaskan, lesunya kunjungan wisatawan dipengaruhi beberapa faktor. Selain masih berada dalam periode low season, momentum libur panjang belum sepenuhnya dimulai.
Di sisi lain, perayaan Hari Raya Nyepi yang berlangsung selama 24 jam juga turut memengaruhi minat wisatawan.
Seperti diketahui, selama Nyepi seluruh aktivitas di Bali dihentikan. Wisatawan tidak diperkenankan keluar dari akomodasi, sementara operasional layanan juga dibatasi.
“Kami arahkan tamu untuk tetap berada di dalam. Layanan tetap tersedia, tetapi terbatas,” jelasnya.
Kunjungan Wisatawan Belum Pulih
Kondisi serupa juga diungkapkan Supervisor Spive Beach Lovina, Kadek Dodi Darma Jaya.
Ia menyebut kunjungan wisatawan sepanjang Maret 2026 belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
“Belum seramai tahun lalu. Kunjungan masih relatif rendah,” ujarnya.
Pihak pengelola juga secara rutin memberikan imbauan kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk mematuhi aturan selama Nyepi.
Wisatawan Diarahkan Kembali ke Penginapan Lebih Awal
Sebagai langkah antisipasi, pengelola restoran dan penginapan turut mengatur mobilitas tamu menjelang malam pengerupukan.
Wisatawan diminta kembali ke vila atau hotel lebih awal agar tidak melanggar aturan saat Nyepi dimulai.
“Tamu kami arahkan kembali ke vila sebelum pukul 22.00 Wita agar sudah berada di tempat saat Nyepi dimulai,” terang Kadek.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh tamu dapat mengikuti aturan dengan baik, sekaligus menjaga ketertiban selama perayaan berlangsung.
Pengerupukan dan Ogoh-Ogoh Tetap Semarak
Meski aktivitas wisata menurun, suasana budaya di sejumlah desa di Buleleng tetap terasa. Tradisi pengerupukan dengan arak-arakan ogoh-ogoh berlangsung meriah.
Ogoh-ogoh yang diarak keliling desa menjadi simbol pembersihan diri dari energi negatif sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.
Makna Nyepi: Refleksi dan Penyucian Diri
Hari Raya Nyepi merupakan momen sakral bagi umat Hindu di Bali. Dalam perayaan ini, umat menjalankan Catur Brata Penyepian.
Empat pantangan tersebut meliputi tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), serta tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).
Selama 24 jam, seluruh aktivitas di pulau Bali nyaris berhenti total, termasuk operasional bandara dan tempat wisata.
Harapan Pemulihan Pariwisata Pasca Nyepi
Pelaku usaha pariwisata di kawasan Lovina berharap kondisi akan segera membaik setelah Nyepi dan memasuki masa libur Lebaran.
Dengan meningkatnya mobilitas wisatawan domestik, diharapkan tingkat hunian hotel dan kunjungan wisata kembali naik seperti tahun-tahun sebelumnya.
Meski saat ini masih lesu, optimisme tetap terjaga bahwa sektor pariwisata Bali, khususnya di wilayah utara, akan kembali pulih dalam waktu dekat. (*)
Editor : Ali Sodiqin