RADARBANYUWANGI.ID - Siang itu, Rina (24) duduk sendiri di ruang tunggu keberangkatan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum kereta yang akan membawanya ke Purwokerto berangkat. Ia memanfaatkan waktu dengan menatap layar jadwal kereta sambil sesekali memeriksa ponsel.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Rina memilih mudik menggunakan kereta api. Selain lokasi stasiun yang lebih dekat dari rumahnya, moda transportasi ini dianggap lebih efisien. “Sekitar empat jam sudah sampai, dan bebas macet. Saya perkirakan tiba sebelum buka puasa,” ujarnya.
Namun, mudik tahun ini sedikit berbeda. Rina terpaksa memilih kelas eksekutif setelah kehabisan tiket ekonomi pada tanggal keberangkatan yang diinginkan. “Daripada tidak mudik, lebih baik naik kelas lain,” katanya.
Ia merogoh kocek sekitar Rp390 ribu, atau sekitar Rp100 ribu lebih mahal dibanding kelas ekonomi. Meski demikian, ia mendapatkan fasilitas kursi yang lebih nyaman, dengan ruang kaki lebih lega serta sandaran yang dapat disesuaikan.
Perubahan signifikan justru terlihat pada layanan kelas ekonomi melalui hadirnya kereta new generation (NG). Kursi yang sebelumnya tegak dan saling berhadapan kini diganti dengan model ergonomis yang dapat direbahkan dan diputar sesuai arah laju kereta.
Interior kereta pun mengalami peningkatan, mulai dari pencahayaan yang lebih lembut hingga desain modern dengan aksen kayu. Pada 2025, tercatat 35 rangkaian kereta tipe ini telah beroperasi di wilayah Daop 1 Jakarta untuk berbagai rute utama di Pulau Jawa.
Oshin (33), penumpang KA Progo relasi Pasar Senen–Lempuyangan, mengaku tertarik mencoba kereta NG setelah melihat ulasan di media sosial. Dengan tiket sekitar Rp250 ribu, ia merasakan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman.
“AC-nya dingin, kursinya empuk, dan fasilitasnya lengkap. Ada toilet bersih, tempat wudhu, hingga stop kontak,” ungkapnya.
Menurutnya, dibandingkan kereta ekonomi premium yang pernah ia naiki sebelumnya, kereta NG unggul dari sisi pendingin udara. Ia berharap layanan ini dapat diperbanyak dengan harga yang tetap terjangkau. “Biar makin banyak orang bisa merasakan kenyamanan,” katanya.
Meski demikian, kereta ekonomi bersubsidi atau kerakyatan masih menjadi pilihan banyak masyarakat. Salah satunya KA tambahan relasi Pasar Senen–Lempuyangan yang memiliki kapasitas 372 kursi ekonomi.
Kereta ini mencatat tingkat keterisian hingga 100 persen selama periode operasional 11 Maret hingga 1 April 2026. Dengan harga tiket sekitar Rp175 ribu setelah diskon, layanan ini menjadi alternatif bagi pemudik dengan anggaran terbatas.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menegaskan bahwa layanan ekonomi kerakyatan merupakan bagian dari komitmen perusahaan. “Kami ingin menghadirkan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, sebagian pemudik tetap memilih kelas eksekutif demi kenyamanan maksimal. Vita (25), misalnya, rela mengeluarkan sekitar Rp900 ribu untuk perjalanan ke Tulungagung.
“Selisih dua jam itu berarti. Bisa lebih cepat istirahat di rumah dan tidak terburu-buru saat sahur,” katanya.
Selain waktu tempuh yang lebih singkat, fasilitas tambahan seperti selimut gratis menjadi pertimbangan tersendiri.
Data per 19 Maret 2026 menunjukkan tingkat okupansi kereta api jarak jauh mencapai rata-rata 70 persen. Pada periode 11–20 Maret, sebanyak 480.540 tiket telah terjual, dengan sisa kursi di tanggal favorit kurang dari 500.
Secara keseluruhan, KAI Daop 1 Jakarta menyediakan lebih dari 1 juta kursi selama masa angkutan Lebaran tahun ini.
Pilihan masyarakat terhadap moda kereta api tidak lepas dari faktor kepastian perjalanan yang bebas macet, serta kemudahan akses menuju stasiun terdekat. Di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas saat Lebaran, kereta api tetap menjadi andalan berbagai kalangan, baik yang mengutamakan harga maupun kenyamanan.
Editor : Lugas Rumpakaadi