RADARBANYUWANGI.ID – Aktivitas pendakian di Taman Wisata Alam Kawah Ijen resmi dibuka kembali, Kamis (26/2).
Sebelumnya, kawasan wisata andalan Banyuwangi tersebut ditutup selama sepekan sejak Kamis (19/2) menyusul proses pencarian seorang pendaki yang dilaporkan hilang pada Rabu (18/2) oleh tim SAR gabungan.
Pembukaan kembali jalur pendakian disambut antusias sebagian wisatawan. Namun, pada hari pertama operasional, jumlah pengunjung masih terpantau sepi.
Data pengelola menunjukkan belum banyak pendaki yang kembali menjajal jalur menuju kawah dengan fenomena blue fire tersebut.
Dari 2.000 Kuota, Hanya 54 Pendaki
Berdasarkan data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA) melalui pengelola TWA Kawah Ijen, dari total kuota 2.000 pendaki per hari yang disediakan, hanya 54 orang yang tercatat melakukan pendakian pada hari pertama pembukaan.
Angka tersebut jauh di bawah kapasitas normal, terutama pada musim ramai kunjungan.
Penurunan jumlah pendaki diduga imbas dari peristiwa hilangnya seorang pendaki yang sempat menjadi perhatian publik dan memicu penutupan sementara kawasan.
Meski demikian, pengelola memastikan bahwa jalur pendakian telah dinyatakan aman untuk kembali diakses wisatawan.
Imbauan Tidak Mendaki Sendirian
Kepala Resort TWA Kawah Ijen, Rusdi, mengimbau para pengunjung agar lebih mengutamakan keselamatan saat melakukan pendakian, khususnya bagi yang memilih mendaki tanpa didampingi pemandu.
“Saya selaku Kepala Resort mengimbau kepada seluruh pengunjung TWA Kawah Ijen yang ingin melakukan pendakian tanpa didampingi pemandu, supaya jangan melakukan pendakian sendirian. Usahakan lebih dari satu orang,” ujarnya.
Menurutnya, pendakian seorang diri berisiko tinggi, terutama di jalur dengan kondisi medan menanjak dan potensi kabut tebal pada waktu-waktu tertentu.
Risiko tersesat atau mengalami insiden akan lebih sulit ditangani jika tidak ada rekan pendamping.
Rusdi juga menegaskan, apabila terpaksa melakukan pendakian secara mandiri, pendaki wajib mematuhi jalur resmi yang telah ditetapkan pengelola.
“Kalau terpaksa melakukan pendakian sendiri, jangan keluar dari jalur yang sudah ditetapkan oleh pengelola, sehingga tidak terjadi tersesat karena keluar dari jalur pendakian,” katanya.
Wajib Perlengkapan Standar dan Tiket Daring
Selain soal jalur, pengelola juga mengingatkan pentingnya penggunaan perlengkapan standar pendakian.
Sepatu yang sesuai, jaket hangat, senter atau headlamp, hingga masker pelindung gas menjadi perlengkapan yang wajib dibawa mengingat kondisi alam Ijen yang cukup ekstrem, terutama saat dini hari.
Pendaki juga diwajibkan membeli tiket secara daring serta melengkapi persyaratan administrasi sebelum memasuki kawasan. Salah satunya adalah surat keterangan sehat.
“Pakailah peralatan standar pendakian, jangan lupa beli tiket daring, dan dilengkapi surat keterangan sehat. Identitas pendaki akan tercatat di booking tiket, sehingga jika terjadi sesuatu, asuransi bisa meng-cover biaya,” pungkasnya.
Sistem tiket daring dinilai mempermudah pendataan pengunjung sekaligus menjadi langkah mitigasi risiko.
Dengan data yang tercatat, proses evakuasi atau klaim asuransi dapat dilakukan lebih cepat jika terjadi keadaan darurat.
Harapan Kunjungan Berangsur Normal
Dibukanya kembali jalur pendakian di Taman Wisata Alam Kawah Ijen diharapkan mampu memulihkan kepercayaan wisatawan.
Kawah Ijen selama ini menjadi salah satu destinasi unggulan Jawa Timur yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pengelola optimistis, jumlah kunjungan akan berangsur normal dalam beberapa hari ke depan. Namun demikian, aspek keselamatan dan kepatuhan terhadap aturan tetap menjadi prioritas utama.
Dengan pengalaman penutupan sepekan akibat insiden pendaki hilang, pengelola berharap seluruh pengunjung semakin sadar bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Keindahan alam Ijen memang memikat, tetapi kewaspadaan dan disiplin tetap menjadi kunci agar wisata tetap aman dan nyaman bagi semua. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin