RADARBANYUWANGI.ID – Fasilitas boarding mandiri melalui teknologi pengenalan wajah (face recognition) yang diterapkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mengalami perkembangan.
Tercatat, pemanfaatan layanan face recognition oleh sebanyak 890.165 pelanggan Kereta Api Jarak Jauh sepanjang Januari 2026.
Angka ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi yang praktis, cepat, dan nyaman, seiring dengan tingginya mobilitas perjalanan antarkota.
“Layanan face recognition merupakan bagian dari transformasi digital KAI yang memungkinkan pelanggan melakukan proses boarding tanpa harus menunjukkan tiket cetak maupun dokumen identitas secara manual,” terang Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, Jumat (6/2/2026).
Verifikasi identitas dilakukan secara otomatis melalui sistem pengenalan wajah, sehingga proses masuk ke area boarding menjadi lebih sederhana dan efisien.
Saat ini, fasilitas face recognition telah tersedia di 22 stasiun yang tersebar di berbagai wilayah, meliputi Bandung, Bekasi, Cirebon, Cirebon Prujakan, Gambir, Kiaracondong, Kutoarjo, Lempuyangan, Medan, Malang, Madiun, Pekalongan, Pasarsenen, Purwokerto, Surabaya Pasar Turi, Surabaya Gubeng, Solo Balapan, Semarang Poncol, Semarang Tawang, Tegal, serta Yogyakarta.
Dengan cakupan tersebut, pelanggan Kereta Api Jarak Jauh kini dapat menikmati pengalaman boarding yang lebih tertib, terutama di stasiun-stasiun dengan volume penumpang tinggi.
Dari perspektif pelanggan, penggunaan face recognition menghadirkan sejumlah manfaat nyata.
“Proses verifikasi identitas berlangsung lebih cepat, antrean di pintu boarding dapat ditekan, dan waktu tunggu menjadi lebih singkat,” ungkap Anne.
Kondisi ini berkontribusi pada kenyamanan perjalanan serta kelancaran arus penumpang, khususnya pada jam sibuk dan musim liburan.
Efisiensi waktu yang dihasilkan juga membantu pelanggan merencanakan perjalanan dengan lebih baik tanpa khawatir tertinggal kereta akibat antrean panjang.
Selain meningkatkan pengalaman pelanggan, layanan face recognition juga berdampak pada efisiensi operasional KAI.
“Boarding tanpa tiket cetak mengurangi kebutuhan penggunaan kertas secara signifikan,” kata Anne.
Dengan asumsi satu roll kertas sepanjang 7.200 cm dapat mencetak sekitar 400 tiket dan harga Rp14.765 per roll, biaya pencetakan setara sekitar Rp37 per tiket.
Berdasarkan perhitungan tersebut, penggunaan face recognition oleh 890.165 pelanggan selama Januari 2026 berpotensi menghemat biaya pencetakan tiket hingga sekitar Rp32,9 juta dalam ekuivalen penggunaan kertas dan material pendukung.
Pengurangan penggunaan kertas tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
“Berkurangnya kebutuhan bahan baku dan distribusi logistik sejalan dengan komitmen KAI dalam menghadirkan transportasi publik yang ramah lingkungan melalui digitalisasi layanan,” imbuhnya.
Anne juga menyampaikan bahwa pengembangan layanan face recognition berangkat dari kebutuhan pelanggan akan proses perjalanan yang semakin praktis dan nyaman.
“Bagi pelanggan, face recognition memberikan kemudahan karena proses boarding menjadi lebih cepat dan sederhana. Dari sisi KAI, layanan ini membantu kami menjaga kelancaran operasional sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” ujar Anne.
Menjelang periode mudik Lebaran, Anne menambahkan bahwa pemanfaatan layanan ini akan sangat membantu pelanggan dalam mengoptimalkan waktu perjalanan.
KAI pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas face recognition agar proses boarding berjalan lebih lancar dan perjalanan dapat dinikmati dengan lebih nyaman.
Editor : Lugas Rumpakaadi