RADARBANYUWANGI.ID - Kawasan wisata Gunung Bromo bersiap menyambut babak baru pariwisata dengan kehadiran Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel.
Berlokasi di Tosari, Kabupaten Pasuruan, properti ini tidak sekadar menambah pilihan akomodasi, tetapi menawarkan cara baru menikmati Bromo dengan tinggal lebih lama, lebih dekat dengan alam, serta memberi dampak langsung bagi masyarakat sekitar.
VP Marketing Jambuluwuk Hotels Group, Marchella Purwanaika, mengatakan proyek Jambuluwuk Bromo ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Februari hingga Maret 2026, setelah seluruh tahap akhir pembangunan rampung.
“Kehadiran Jambuluwuk di Bromo berangkat dari keyakinan bahwa kawasan ini sudah menjadi destinasi kelas dunia. Setiap ke Bromo, kita selalu bertemu wisatawan dari berbagai negara. Jambuluwuk ingin ikut menggerakkan pariwisata di sini, bukan hanya menghadirkan hotel,” ujar Marchella, Jumat (30/1/2026).
Dua Konsep Sekaligus: Resort dan Poshtel
Berbeda dengan hotel lain di kawasan Bromo, Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel mengusung dua konsep dalam satu kawasan.
Gedung pertama diisi Poshtel, akomodasi bergaya hostel modern yang dirancang khusus untuk solo traveler dan wisatawan muda.
Meski mengusung konsep hostel, kamar di Poshtel Jambuluwuk dibuat ringkas namun tetap privat, lengkap dengan kamar mandi dalam. Area komunal disiapkan sebagai pusat interaksi tamu.
“Ini hostel next level. Anak-anak muda bisa menginap sendiri tapi tetap punya ruang kumpul. Ada biliar, pingpong, karaoke, pantry, sampai vending machine. Suasananya hidup,” jelas Marchella.
Sementara itu, area resort menawarkan pengalaman menginap yang menyatu dengan lanskap alam Tosari.
Konsepnya bukan sekadar tidur dan sarapan, tetapi mengajak tamu tinggal lebih lama melalui berbagai aktivitas berbasis alam.
Pengalaman Alam dan Aktivitas Warga
Jambuluwuk Bromo merancang berbagai aktivitas untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Mulai dari trekking ringan di jalur pinus, program bertani bersama warga, hingga aktivitas edukatif bagi anak-anak kota yang jarang bersentuhan langsung dengan alam.
Salah satu daya tarik utama adalah Aviary terbuka bertingkat, ruang hijau berisi beragam pohon langka seperti baobab, bodhi, moringa, hingga kamboja fosil.
Area ini dirancang fleksibel untuk berbagai kegiatan, mulai dari sarapan, acara komunitas, hingga makan malam romantis dengan latar pegunungan Bromo.
Jawab Tren Value Added Tourism di Bromo
Menurut Marchella, perilaku wisatawan Bromo kini mulai bergeser. Wisatawan tak lagi sekadar datang untuk melihat matahari terbit lalu pulang, melainkan mencari pengalaman yang lebih bernilai.
“Banyak yang belum tahu daerah sekitar Tosari itu indah. Ada Bukit Premium, jalur trekking, dan spot foto yang belum ramai. Ini yang ingin kami perkenalkan,” ujarnya.
Konsep value added tourism inilah yang menjadi dasar pengembangan Jambuluwuk Bromo, dengan memadukan penginapan, alam, budaya, dan aktivitas lokal.
Fasilitas Lengkap untuk Staycation
Dari sisi fasilitas, Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel menyiapkan konsep staycation penuh. Berbagai fasilitas disediakan, di antaranya:
- Kolam renang indoor berpemanas
- Gym, sauna, dan spa
- Lapangan padel dengan latar hutan pinus
- Bowling mini dan amfiteater terbuka
- Area bermain anak indoor dan outdoor
- Ruang pertemuan berkapasitas hingga 150 orang untuk kebutuhan MICE
Untuk kuliner, Jambuluwuk membuka dua restoran, termasuk Frestro Hillsides, dengan menu yang mengangkat cita rasa lokal seperti ayam bawang dan nasi goreng khas Bromo.
Selama masa pre-opening, harga kamar resort ditawarkan mulai Rp1 juta per malam, dengan harga normal sekitar Rp1,7 juta. Sementara Poshtel dibuka dengan tarif promosi mulai Rp600 ribu per malam.
Dampak Langsung bagi Warga Tosari
Tak hanya menyasar wisatawan, proyek ini juga dirancang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Jambuluwuk berkomitmen menyerap lebih dari 50 persen tenaga kerja lokal, disertai pelatihan dasar hingga lanjutan di bidang perhotelan.
“Kami ingin tetangga ikut tumbuh. Dari petani, UMKM, sampai paguyuban jip. Tamu bisa ikut program warga, beli produk lokal, bahkan pasar dadakan,” kata Marchella.
Kerja sama dengan Paguyuban Jip Tosari memungkinkan tamu memesan paket sunrise, sunset, hingga eksplorasi kawasan tanpa harus membawa kendaraan pribadi.
Bidik Wisatawan Domestik dan Mancanegara
Berdiri di atas lahan hampir dua hektare, Jambuluwuk Bromo menyediakan 80 kamar resort dan 48 kamar Poshtel.
Target pasarnya tak hanya keluarga dan korporasi, tetapi juga wisatawan mancanegara, seiring ramainya agenda budaya dan olahraga seperti Yadnya Kasada, Bromo Marathon, hingga Bromo KOM.
“Bromo bukan cuma tempat datang sebentar lalu pergi. Di sini orang bisa tinggal, bernapas, dan pulang dengan cerita,” tutup Marchella. (*)
Editor : Ali Sodiqin