RADARBANYUWANGI.ID - Pada tahun 2025, peta pariwisata Asia mengalami pergeseran signifikan. China resmi tampil sebagai kekuatan pariwisata terbesar di kawasan, melampaui negara-negara mapan seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Lonjakan pendapatan pariwisata yang sangat tinggi menjadikan China kontributor utama pertumbuhan sektor pariwisata Asia.
Berdasarkan laporan UN Tourism, China mencatat pertumbuhan penerimaan pariwisata sebesar 39,1 persen sepanjang Januari hingga September 2025, tertinggi di Asia. Capaian ini menegaskan posisi China sebagai destinasi global yang mampu menarik wisatawan dengan daya belanja tinggi.
Daya Tarik Budaya dan Modernitas China
Keberhasilan China tidak terlepas dari kekayaan sejarah dan ragam atraksi wisatanya. Destinasi ikonik seperti Tembok Besar China dan Kota Terlarang di Beijing tetap menjadi magnet utama wisatawan mancanegara. Sementara itu, Shanghai menawarkan wajah modern China melalui kawasan Bund dan Oriental Pearl Tower yang futuristik.
Selain wisata perkotaan, China juga unggul dalam wisata alam dan budaya. Pasukan Terakota di Xi’an serta lanskap dramatis Zhangjiajie, yang dikenal sebagai inspirasi film Avatar, terus memikat wisatawan global. Seluruh potensi ini diperkuat dengan infrastruktur modern, transportasi efisien, hotel kelas dunia, serta komitmen terhadap pelestarian budaya dan ekowisata.
Jepang Tetap Kuat dengan Harmoni Tradisi dan Teknologi
Di posisi berikutnya, Jepang menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan sebesar 17,0 persen dan peningkatan pendapatan pariwisata 14,1 persen. Daya tarik Jepang terletak pada keseimbangan antara tradisi dan modernitas, mulai dari kuil-kuil bersejarah di Kyoto hingga kawasan urban Shibuya di Tokyo.
Investasi pemerintah Jepang dalam konektivitas transportasi, promosi wisata budaya, serta wisata kuliner khas seperti sushi, ramen, dan matcha turut memperkuat daya saing negara ini di Asia.
Korea Selatan Unggul Berkat Budaya Pop Global
Korea Selatan mencatat pertumbuhan kedatangan wisatawan 15,4 persen dan lonjakan pendapatan pariwisata 18,4 persen. Gelombang Hallyu atau K-pop menjadi faktor utama yang menarik wisatawan, terutama dari Asia Timur dan Asia Tenggara.
Destinasi seperti Istana Gyeongbokgung, Bukchon Hanok Village, dan lokasi syuting drama Korea semakin memperkuat citra Korea Selatan sebagai destinasi budaya modern dengan identitas global yang kuat.
Singapura Fokus pada Kualitas Wisatawan
Singapura menunjukkan tren unik dengan pertumbuhan kunjungan yang relatif stabil, namun peningkatan pendapatan pariwisata mencapai 8,8 persen. Hal ini mencerminkan keberhasilan strategi menarik wisatawan dengan tingkat belanja tinggi.
Atraksi unggulan seperti Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, dan ajang internasional seperti Formula 1 Singapore Grand Prix menjadi penggerak utama pendapatan pariwisata negara kota tersebut.
Indonesia Perkuat Wisata Berkelanjutan
Indonesia mencatat pertumbuhan kunjungan wisatawan 10,4 persen dan peningkatan pendapatan pariwisata 9,4 persen. Destinasi seperti Bali, Yogyakarta, Borobudur, dan Pulau Komodo tetap menjadi andalan.
Melalui kampanye Visit Indonesia 2025, pemerintah fokus meningkatkan infrastruktur, konektivitas internasional, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Malaysia Tumbuh Stabil dengan Daya Tarik Multikultural
Malaysia juga mencatat pertumbuhan positif dengan kenaikan pendapatan pariwisata 14,9 persen. Kota Kuala Lumpur, Pulau Langkawi, serta kawasan warisan budaya George Town menjadi magnet wisatawan. Fokus pada ekowisata dan keberagaman budaya memperkuat posisi Malaysia di pasar global.
China Jadi Pemimpin Baru Pariwisata Asia
Data UN Tourism 2025 menunjukkan bahwa negara-negara Asia tidak hanya meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga berhasil menaikkan nilai belanja per wisatawan. Namun, China tampil paling dominan dengan pertumbuhan pendapatan tertinggi di kawasan.
Dengan kombinasi warisan budaya, inovasi modern, dan investasi berkelanjutan di sektor pariwisata, China diproyeksikan akan terus menjadi motor utama pertumbuhan pariwisata Asia dalam beberapa tahun ke depan.
Editor : Lugas Rumpakaadi