Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pantai Pulau Santen Banyuwangi: Pesona Sunrise, Jejak Sejarah, dan Harmoni Hidup Nelayan Pesisir

Ali Sodiqin • Jumat, 23 Januari 2026 | 11:30 WIB
AKSES: Jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Santen dengan wilayah Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi.
AKSES: Jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Santen dengan wilayah Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Pesona ujung timur Pulau Jawa memang tak pernah kehilangan daya tariknya.

Deretan pantai yang menghadap langsung ke arah matahari terbit menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menikmati pagi dengan lanskap laut membentang dan siluet Pulau Bali di kejauhan.

Di antara banyak pilihan destinasi, Pantai Pulau Santen tampil sebagai salah satu titik terbaik menikmati panorama tersebut, dengan suasana yang lebih asri dan tenang.

Keistimewaan Pantai Pulau Santen tak hanya terletak pada keindahan alamnya.

Kawasan ini juga menyimpan lapisan sejarah panjang yang membuatnya kian eksotis sebagai destinasi wisata.

Perpaduan antara panorama pesisir, hutan mangrove, dan kehidupan nelayan menjadikan Pulau Santen berbeda dari pantai-pantai lain di Banyuwangi.

Dari Tanjung Pakem ke Pulau Santen

M Amir Mahmud dan Muhammad Endy Fadlullah menerbitkan jurnal tentang Pulau Santen. Judulnya “Mengintip Wisata Syariah di Pulau Santen Banyuwangi”

Di jurnalis tersebut dijelaskan, kawasan yang kini dikenal sebagai Pulau Santen dulunya bernama Tanjung Pakem atau “Pakem”.

Lokasinya yang berada di ujung timur Desa Karangrejo menjadikan wilayah ini sangat strategis pada masa lalu.

Tanjung Pakem pernah menjadi pintu masuk penting menuju bumi Blambangan, bahkan dimanfaatkan oleh prajurit Bugis dan Bali sebagai jalur akses.

Letaknya yang menghadap langsung ke Selat Bali menjadikan kawasan ini titik pengamatan sekaligus pengendali lalu lintas laut.

Saking strategisnya, VOC mendirikan benteng pengawas di lokasi ini pada Agustus 1774.

Benteng berbahan kayu jati tersebut dibangun di bawah arahan arsitek Baas d’Exter, melibatkan sekitar 200 tenaga kerja.

Fungsi utamanya kala itu adalah memantau kapal-kapal yang melintas di Selat Bali.

Denyut Ekonomi yang Pernah Hidup

Tak hanya berperan dalam urusan militer, Tanjung Pakem dulunya juga terintegrasi dengan Pelabuhan Boom, pusat aktivitas ekonomi Banyuwangi pada masanya.

Dari kawasan ini, berbagai komoditas penting seperti beras, rempah-rempah, hingga kayu dikirim ke berbagai daerah.

Jalur ini juga sempat menjadi salah satu lintasan utama penyeberangan menuju Pulau Bali.

Namun, memasuki awal abad ke-20, wajah kawasan ini mulai berubah.

Sedimentasi laut yang parah menyebabkan pendangkalan, membuat kapal-kapal besar tak lagi bisa bersandar.

Aktivitas pelabuhan perlahan meredup. Jalur penyeberangan akhirnya dipindahkan ke Ketapang, sementara aktivitas perdagangan bergeser ke Tanjung Wangi.

Asal-usul Nama Pulau Santen

Identitas Pulau Santen mulai dikenal sekitar tahun 1965-an. Saat itu, masyarakat setempat yang mayoritas nelayan asal Madura mulai menanam pohon santen (Kibatalia arborea) secara masif di sepanjang pantai hingga savana.

Pohon santen memiliki banyak manfaat bagi warga. Getahnya dipercaya dapat mengobati mata merah akibat air laut, sementara daunnya sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Karena tumbuh subur dan mendominasi lanskap kawasan, nama Tanjung Pakem perlahan ditinggalkan dan masyarakat lebih akrab menyebutnya Pulau Santen.

Dari Isolasi Menuju Destinasi Wisata

Meski hanya berjarak sekitar dua kilometer dari pusat Kota Banyuwangi, Pulau Santen sempat mengalami masa keterisolasian.

Pada masa lalu, warga harus menggunakan perahu untuk mengambil air bersih atau menyeberang ke daratan utama.

Perubahan signifikan terjadi pada era Bupati Samsul Hadi (2000–2005) dengan dibangunnya jembatan permanen serta instalasi air bersih.

Wajah Pulau Santen semakin tertata pada awal 2017, ketika Bupati Abdullah Azwar Anas melakukan penataan ulang kawasan dan menjadikannya sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya.

Keindahan Alam dan Aktivitas Khas Nelayan

Kini, Pantai Pulau Santen dikenal dengan nuansa pantainya yang hijau dan asri.

Kumpulan pohon santen yang tumbuh di kawasan pesisir menciptakan pemandangan unik yang jarang ditemui di pantai lain.

Jembatan yang menghubungkan Desa Karangrejo dengan Pulau Santen juga menjadi daya tarik tersendiri.

Dilansir dari laman Sidita Disbudpar, dari atas jembatan tampak sungai berarus tenang sepanjang lebih dari dua kilometer, diapit hutan mangrove berusia lima hingga sepuluh tahun.

Di tengah muara sungai, terdapat delta kecil yang membentuk pulau mangrove mini, menambah keindahan perjalanan menuju pantai.

Pantai Pulau Santen juga hidup dengan aktivitas tradisional nelayan, seperti jaring tarik.

Metode menangkap ikan ini dilakukan secara berkelompok, dengan memasang jaring panjang dari pantai ke laut menggunakan perahu, lalu menariknya bersama-sama dari bibir pantai.

Aktivitas lain yang sering dijumpai adalah mencari kerang remis di pantai, mencari kijing di muara sungai, hingga mengolah hasil laut menjadi aneka kuliner khas.

Harmoni Alam dan Budaya

Kehidupan keseharian masyarakat pesisir Pulau Santen menjadi pemandangan yang tak hanya indah, tetapi juga autentik dan eksotis.

Budaya yang terus berjalan di tengah modernisasi membuat pantai ini tetap hidup dan memiliki identitas kuat.

Dengan panorama sunrise yang memukau, latar sejarah panjang, serta harmoni antara alam dan budaya nelayan, Pantai Pulau Santen menawarkan pengalaman wisata yang sejuk, menenangkan, dan berbeda.

Sebuah potret kesejatian alam Banyuwangi di ujung timur Pulau Jawa. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Sunrise of Java #Pulau Santen #pantai #banyuwangi