RADARBANYUWANGI.ID - Rencana perpanjangan layanan Kereta Api Commuter Line Supas (Surabaya–Pasuruan) hingga Stasiun Probolinggo semakin mendekati tahap realisasi.
Pemerintah Kota Probolinggo menargetkan layanan transportasi publik tersebut sudah dapat beroperasi sebelum masa angkutan Lebaran 2026.
Target ini dinilai strategis untuk mendukung mobilitas masyarakat sekaligus mengurai kepadatan lalu lintas pada periode mudik dan liburan.
Kepastian tersebut mengemuka setelah audiensi resmi antara Pemerintah Kota Probolinggo dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang berlangsung di Jakarta.
Audiensi dipimpin langsung oleh Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, bersama jajaran Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA).
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari persetujuan prinsip atas usulan perpanjangan rute yang telah lama dinantikan masyarakat.
Dorong Mobilitas dan Efisiensi Perjalanan Harian
Wali Kota Probolinggo Aminuddin menegaskan bahwa kehadiran Commuter Line hingga Probolinggo akan memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat, khususnya mereka yang setiap hari melakukan perjalanan antarwilayah menuju Surabaya dan sekitarnya.
Layanan ini diharapkan mampu mempercepat waktu tempuh, meningkatkan rasa aman, serta menekan biaya transportasi.
Menurut Aminuddin, transportasi publik berbasis rel memiliki peran penting dalam menciptakan mobilitas yang efisien dan berkelanjutan.
Dengan konektivitas yang semakin terintegrasi, masyarakat dapat mengakses pusat-pusat ekonomi, pendidikan, dan layanan publik dengan lebih mudah.
“Dengan Commuter Line sampai Probolinggo, mobilitas masyarakat menjadi lebih cepat, aman, dan terjangkau. Ini menjadi fondasi penting bagi penguatan ekonomi dan kualitas hidup warga,” ujarnya, Senin (12/1/2026).
Dukungan Kemenhub dan Evaluasi Kesiapan Sarana
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono, menyatakan dukungan atas rencana perpanjangan layanan Commuter Line Supas.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa DJKA akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan sarana dan prasarana agar standar pelayanan tetap terjaga.
“Kami memastikan layanan commuter line yang sudah berjalan tetap memenuhi standar pelayanan. Jika ada perpanjangan rute dan kebutuhan tambahan sarana, semuanya akan dievaluasi bersama,” kata Allan.
Sebagai bagian dari persiapan, Kemenhub meminta adanya koordinasi lanjutan antara Pemerintah Kota Probolinggo, PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan KAI Commuter.
Beberapa fasilitas yang menjadi perhatian antara lain penambahan tempat duduk, peningkatan kualitas toilet, serta pengaturan alur penumpang di Stasiun Probolinggo.
Jarak 38,6 Kilometer dengan Potensi Penumpang Besar
Secara teknis, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api DJKA, Arif Anwar, menjelaskan bahwa perpanjangan rute dari Pasuruan ke Probolinggo mencakup jarak sekitar 38,6 kilometer.
Usulan ini didukung oleh data okupansi penumpang yang dinilai cukup tinggi.
Sepanjang Januari hingga November 2025, tercatat sebanyak 15.722 penumpang naik dan turun di Stasiun Probolinggo.
Saat ini, stasiun tersebut telah melayani berbagai kereta api jarak menengah dan jauh, seperti KA Pendalungan, Logawa, Sri Tanjung, hingga Mutiara Timur.
Data tersebut menunjukkan adanya permintaan yang kuat terhadap layanan kereta komuter.
“Demand cukup baik. Stasiun Probolinggo memiliki volume penumpang yang besar, sehingga layak dilayani commuter line,” jelas Arif.
Dampak Positif bagi Ekonomi dan Pariwisata
Selain meningkatkan konektivitas antarwilayah, kehadiran Commuter Line Surabaya–Probolinggo diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Akses transportasi yang lebih mudah dan terjangkau akan membuka peluang bagi pelaku usaha, memperluas pasar tenaga kerja, serta meningkatkan aktivitas perdagangan dan jasa.
Sektor pariwisata juga diprediksi turut terdongkrak. Probolinggo merupakan salah satu pintu masuk utama menuju kawasan wisata Gunung Bromo melalui jalur Cemorolawang.
Dengan adanya Commuter Line, wisatawan dapat mencapai Probolinggo dengan kereta, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan jip wisata menuju kawasan Bromo.
Kemudahan akses ini diharapkan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sekaligus memperkuat posisi Probolinggo sebagai simpul transportasi dan pariwisata di kawasan Tapal Kuda.
Kajian Teknis dan Standar Pelayanan
Untuk merealisasikan perpanjangan layanan tersebut, Kemenhub menekankan pentingnya kajian lanjutan yang komprehensif.
Kajian mencakup analisis potensi penumpang, kesiapan sarana dan prasarana, pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), penyesuaian izin operasi, serta skema Public Service Obligation (PSO) agar tarif tetap terjangkau bagi masyarakat.
Berdasarkan pembahasan awal, Kemenhub telah menetapkan rencana pola operasional sebanyak dua perjalanan pulang-pergi per hari.
Jadwal tersebut meliputi keberangkatan dini hari dan malam hari, yang dirancang untuk melayani kebutuhan perjalanan kerja, logistik, serta mendukung kelancaran arus mudik Lebaran 2026.
Menuju Transportasi Publik yang Lebih Terintegrasi
Dengan target operasional sebelum Lebaran 2026, perpanjangan Commuter Line Supas Surabaya–Probolinggo diharapkan menjadi solusi nyata dalam mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan kepadatan jalan raya nasional.
Pemerintah Kota Probolinggo menegaskan komitmennya untuk menyempurnakan seluruh persyaratan teknis agar proyek ini dapat segera diwujudkan.
Hadirnya layanan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat konektivitas wilayah, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di Jawa Timur.
Editor : Lugas Rumpakaadi