RADARBANYUWANGI.ID - Selama ini, Pelabuhan Jangkar di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, kerap dikenal sebatas sebagai tempat penyeberangan.
Banyak orang mengira, pelabuhan terbesar di Situbondo tersebut hanya diperuntukkan bagi calon penumpang kapal yang hendak bepergian ke sejumlah daerah tujuan.
Namun, anggapan itu tak sepenuhnya benar. Di balik fungsinya sebagai pelabuhan penyeberangan, Pelabuhan Jangkar ternyata memiliki sisi lain yang tak kalah menarik.
Pelabuhan yang berada di wilayah paling timur Situbondo ini kini dikenal sebagai salah satu spot menikmati matahari terbenam atau sunset yang memikat.
Keindahan panorama sore hari di Pelabuhan Jangkar diakui oleh banyak pengunjung.
Saat cuaca cerah dan langit tidak tertutup awan, pemandangan matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala laut menjadi daya tarik tersendiri.
“Sore biasanya ke sini (Pelabuhan Jangkar) buat nyunset, kalau tidak tertutup awan bagus,” kata Veni, seorang remaja asal Asembagus, Minggu sore (11/1).
Fenomena ini membuat Pelabuhan Jangkar tak pernah benar-benar sepi, terutama pada sore hari.
Meski tidak ada jadwal keberangkatan atau kedatangan kapal, kawasan pelabuhan justru ramai oleh masyarakat yang ingin menghabiskan waktu santai sambil menikmati suasana senja.
Kondisi tersebut juga membawa berkah bagi para pedagang di sekitar pelabuhan.
Mereka yang berjualan di area Pelabuhan Jangkar mengaku ketiban rezeki dari banyaknya pengunjung non-penumpang yang datang khusus untuk menikmati sunset.
Hal ini dimungkinkan karena sisi barat pelabuhan dibuka untuk umum. Artinya, masyarakat yang tidak memiliki kepentingan penyeberangan tetap bisa memasuki area pelabuhan tanpa harus menjadi calon penumpang kapal.
Sisi barat Pelabuhan Jangkar sendiri merupakan dermaga lama yang kini sudah tidak digunakan sebagai tempat kapal bersandar.
Alih-alih terbengkalai, dermaga lama tersebut justru dimanfaatkan masyarakat sebagai lokasi favorit untuk bersantai dan menikmati keindahan matahari tenggelam.
Pada sore hari, aktivitas di area ini tampak cukup padat. Pengunjung datang silih berganti, duduk di tepi dermaga, mengabadikan momen dengan ponsel, atau sekadar menikmati semilir angin laut.
Suasana semakin hidup dengan kehadiran pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman ringan.
Pelabuhan Jangkar pun perlahan berubah menjadi ruang publik alternatif bagi warga Situbondo.
Tak hanya sebagai simpul transportasi laut, pelabuhan ini kini juga menjadi tempat rekreasi sederhana yang mudah diakses dan gratis.
Ke depan, masyarakat berharap potensi Pelabuhan Jangkar sebagai destinasi wisata senja bisa mendapat perhatian lebih.
Dengan penataan yang tepat, pelabuhan terbesar di Situbondo ini dinilai mampu menjadi ikon baru wisata sore hari, sekaligus menambah daya tarik daerah pesisir di ujung timur Kabupaten Situbondo. (*)
Editor : Ali Sodiqin