RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan pariwisata nasional dan perekonomian daerah melalui layanan Kereta Panoramic.
Pada masa angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2025/2026, layanan ini mencatatkan kinerja positif dengan tingkat minat masyarakat yang tinggi, sekaligus menunjukkan transformasi kereta api sebagai bagian dari ekosistem pariwisata berbasis pengalaman.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa perjalanan kereta api kini semakin dipandang sebagai bagian integral dari aktivitas wisata.
Masyarakat tidak hanya berorientasi pada tujuan akhir, tetapi juga pada kualitas dan pengalaman selama perjalanan.
“Minat masyarakat untuk menikmati perjalanan kereta api sebagai bagian dari pengalaman wisata terus menunjukkan tren positif,” ujar Anne melalui keterangan tertulisnya, Jumat (9/1/2025).
Okupansi Tinggi Kereta Panoramic Selama Nataru
Selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2025/2026, Kereta Panoramic melayani 11.819 pelanggan.
Jumlah tersebut melampaui kapasitas yang tersedia, dengan tingkat okupansi mencapai 120 persen dari total 9.576 tempat duduk yang disediakan KAI.
Capaian ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta api sebagai moda transportasi yang andal, efisien, dan nyaman, khususnya untuk perjalanan wisata jarak menengah dan jauh.
Sejalan dengan Kebijakan Pariwisata Nasional
Kinerja positif Kereta Panoramic sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism), penguatan destinasi daerah, serta peningkatan konektivitas antardaerah.
Program tersebut menjadi bagian penting dari strategi pengembangan pariwisata nasional dan penguatan ekonomi kreatif.
Anne menegaskan bahwa Kereta Panoramic merupakan wujud nyata transformasi layanan KAI.
Kereta api tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, melainkan juga sebagai medium untuk menikmati keindahan alam dan budaya Indonesia.
“Kereta Panoramic menjawab tren perjalanan masa kini, di mana masyarakat ingin menikmati proses perjalanannya, bukan sekadar sampai di tujuan,” jelasnya.
Relasi Strategis Penghubung Destinasi Wisata
Saat ini, layanan Kereta Panoramic tersedia pada sejumlah kereta dan relasi strategis, yaitu:
- KA Argo Wilis relasi Bandung–Surabaya Gubeng (PP)
- KA Turangga relasi Bandung–Surabaya Gubeng (PP)
- KA Pangandaran relasi Gambir–Banjar (PP)
- KA Papandayan relasi Gambir–Garut (PP)
- KA Parahyangan relasi Gambir–Bandung (PP)
Relasi-relasi tersebut menghubungkan kota-kota besar dengan daerah tujuan wisata unggulan, sekaligus mendukung pemerataan pembangunan dan penguatan destinasi di luar kawasan metropolitan.
Pesona Jalur Selatan Pulau Jawa
Tingginya minat pelanggan Kereta Panoramic tidak terlepas dari daya tarik jalur selatan Pulau Jawa yang dilalui sebagian besar layanan ini.
Jalur tersebut dikenal memiliki lanskap alam yang beragam dan bernilai wisata tinggi.
Sepanjang perjalanan, penumpang dapat menikmati pemandangan perbukitan, hamparan persawahan, aliran sungai, jembatan ikonik, terowongan bersejarah, hingga panorama alam terbuka melalui kaca lebar Kereta Panoramic.
“Pengalaman visual ini menjadikan perjalanan sebagai bagian dari destinasi itu sendiri,” kata Anne.
Dampak Ekonomi dan Keberlanjutan
Kehadiran Kereta Panoramic memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah yang dilalui.
Meningkatnya kunjungan wisatawan turut menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, UMKM, serta industri kreatif lokal.
Hal ini selaras dengan program pemerintah dalam penguatan ekonomi lokal, UMKM, dan pengembangan desa wisata.
Selain itu, penggunaan kereta api sebagai moda wisata mendukung agenda transportasi rendah karbon dan pengurangan emisi.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perjalanan ramah lingkungan, kereta api menjadi solusi mobilitas yang berkelanjutan.
“Optimalisasi Kereta Panoramic pada relasi strategis merupakan komitmen kami untuk menghadirkan layanan yang relevan dengan tren pariwisata serta mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan,” pungkas Anne.
Editor : Lugas Rumpakaadi