Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kampung Blekok Situbondo, Harmoni Ekowisata Mangrove dan Surga Burung Air di Pesisir Utara Jawa

Ali Sodiqin • Jumat, 9 Januari 2026 | 08:00 WIB

Kampung Blekok Situbondo hadir sebagai ekowisata mangrove berkonsep Harmony of Life, menawarkan keindahan alam dan konservasi burung air.
Kampung Blekok Situbondo hadir sebagai ekowisata mangrove berkonsep Harmony of Life, menawarkan keindahan alam dan konservasi burung air.

RADARBANYUWANGI.ID - Kabupaten Situbondo terus menambah daftar destinasi wisata berbasis alam dan edukasi.

Salah satunya adalah Kampung Blekok, sebuah kawasan ekowisata mangrove yang mengusung branding “Harmony of Life”.

Destinasi ini dikembangkan tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai pusat konservasi keanekaragaman hayati serta upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Kampung Blekok terletak di Dusun Pesisir, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Dari pusat Kota Situbondo, jaraknya sekitar 10 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit perjalanan darat.

Akses yang mudah menjadikan kawasan ini cocok sebagai tujuan wisata keluarga maupun edukasi lingkungan.

Begitu menginjakkan kaki di kawasan ini, suasana tenang dan nyaman langsung terasa.

Hamparan laut berpadu dengan hijaunya hutan mangrove menciptakan lanskap alami yang menyejukkan mata.

Deretan mangrove yang tumbuh rapat di kawasan pesisir ini bukan hanya mempercantik panorama, tetapi juga menjadi habitat alami beragam jenis burung air.

Tak heran jika Kampung Blekok menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya pencinta alam dan pengamat burung.

Di kawasan ini, pengunjung dapat menjumpai berbagai spesies burung air yang hidup bebas dan berkoloni.

Nama Kampung Blekok sendiri diambil dari salah satu jenis burung yang banyak ditemukan di area tersebut.

Beberapa spesies burung air yang tercatat menghuni kawasan ekowisata ini antara lain blekok sawah (Ardeola speciosa), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax), cangak abu (Ardea cinerea), cangak merah (Ardea purpurea), serta kokokan laut (Butorides striatus).

Keberadaan burung-burung tersebut menjadi indikator baiknya kualitas ekosistem mangrove di kawasan pesisir Kendit.

Konsep Harmony of Life yang diusung Kampung Blekok merepresentasikan keselarasan antara manusia dan alam.

Selain menikmati keindahan alam, pengunjung juga diajak untuk memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir, mulai dari mangrove sebagai penahan abrasi hingga perannya sebagai rumah bagi satwa liar.

Untuk menikmati keindahan Kampung Blekok, wisatawan tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam.

Harga tiket masuk dewasa dipatok Rp 6.000, sementara tiket masuk anak-anak Rp 3.000.

Biaya parkir kendaraan pun relatif terjangkau, yakni Rp 5.000 untuk mobil dan Rp 2.000 untuk sepeda motor.

Dengan tarif yang ramah di kantong, Kampung Blekok menjadi destinasi wisata alternatif yang menarik, khususnya bagi wisatawan lokal dan rombongan pelajar.

Selain rekreasi, kawasan ini juga kerap dimanfaatkan sebagai lokasi pembelajaran lapangan terkait lingkungan, konservasi mangrove, dan keanekaragaman hayati pesisir.

Ke depan, Kampung Blekok diharapkan terus berkembang sebagai ikon ekowisata Situbondo.

Tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan refleksi tentang pentingnya menjaga harmoni kehidupan antara manusia dan alam.

Sebuah destinasi yang menyatukan wisata, konservasi, dan kesadaran lingkungan dalam satu pengalaman. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#situbondo #burung air #Ekowisata mangrove #kampung blekok #Pesisir utara Jawa