RADARBANYUWANGI.ID – Di balik rimbunnya hutan Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, tersembunyi sebuah goa alami yang hingga kini menyimpan kisah mistis dan jejak sejarah panjang. Goa Pawon, namanya.
Lokasinya yang terpencil dan jauh dari hiruk-pikuk permukiman membuat tempat ini memancarkan aura magis yang dipercaya istimewa oleh masyarakat sekitar.
Cerita yang berkembang turun-temurun di kalangan warga, Goa Pawon bukan sekadar rongga batu alam yang bisa dijelajahi.
Lebih dari itu, goa ini diyakini sebagai jalur spiritual yang menghubungkan manusia dengan keajaiban alam dan dunia gaib di berbagai goa yang tersebar di Banyuwangi.
Meski terkesan tersembunyi, akses menuju Goa Pawon sebenarnya relatif mudah.
Lokasinya hanya berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat keramaian Kecamatan Rogojampi. Dengan sepeda motor, perjalanan bisa ditempuh sekitar 15 menit.
Sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhi pemandangan hamparan sawah hijau yang membentang luas, berpadu dengan pepohonan rindang khas pedesaan Banyuwangi barat.
Dari arah Rogojampi, pengunjung cukup mengikuti jalur ke barat menuju Pondok Pesantren Nurut Taqwa di Desa Balak.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berbelok di simpang tiga menuju SMPN 2 Songgon. Tak sampai 100 meter, pengunjung kembali berbelok ke arah timur laut.
Di sana terdapat bekas peternakan ayam yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Di area inilah kendaraan harus diparkir.
Perjalanan menuju Goa Pawon selanjutnya hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Jalur setapak membelah kebun Pepaya Florida hingga mengarah ke tepi sungai.
Di tengah rimbunnya rerumputan dan semak, bibir Goa Pawon yang berada tepat di sempadan Sungai Lungun mulai tampak.
Saat kaki melangkah semakin dekat, dinding goa yang kokoh dan lebar seolah menyambut para pengunjung. Bagi masyarakat sekitar, Goa Pawon bukan tempat sembarangan.
Mereka meyakini, siapa pun yang memasuki goa dengan niat baik bisa mengalami hal-hal di luar nalar manusia.
“Kalau niatnya baik, bisa tahu lorong-lorong rahasia yang menghubungkan goa-goa di Alas Purwo,” ujar Misriyah (60), juru kunci Goa Pawon, saat ditemui di sekitar lokasi.
Menurut Misriyah, Goa Pawon telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Pada masa itu, goa ini digunakan warga sebagai tempat persembunyian saat terjadi pertempuran melawan penjajah.
Berbeda dengan Goa Jepang yang dibuat oleh manusia, Goa Pawon terbentuk secara alami.
“Dulu ini tempat berlindung masyarakat. Terbentuknya alami, bukan buatan manusia,” jelasnya.
Goa Pawon juga dipercaya terhubung dengan sejumlah goa lain di sekitar Dusun Cemoro. Setidaknya ada tujuh goa yang diyakini masyarakat memiliki keterkaitan spiritual dengan Goa Pawon.
“Di antaranya Goa Pasujudan, Goa Sadong, Goa Konferensi, Goa Capil, Goa Sumur, dan Goa Panguripan,” terang Misriyah.
Seluruh goa di kawasan tersebut terbentuk secara alami. Nama Goa Pawon sendiri diberikan karena di dalamnya banyak ditemukan peralatan dapur kuno yang diduga berasal dari era peperangan melawan Belanda.
Warga menyebutnya pawon atau dapur karena fungsinya yang menyerupai tempat memasak dan beraktivitas saat bersembunyi.
Kini, area sekitar Goa Pawon telah dipagari oleh warga. Langkah ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan goa untuk aktivitas negatif yang bisa membahayakan keselamatan.
“Dulu sebelum dipagari, sering dipakai anak-anak muda untuk kumpul-kumpul. Ada juga yang bersemedi di dalam,” ujar Misriyah.
Kepercayaan tentang keterhubungan Goa Pawon dengan goa-goa lain hingga kawasan Alas Purwo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, juga diyakini sebagian warga dari wilayah selatan Banyuwangi.
Ponirin (50), warga Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, mengaku sering mendengar cerita tersebut sejak kecil.
“Cerita mbah-mbah dulu memang begitu. Secara spiritual, goa-goa di Banyuwangi saling terhubung,” katanya.
Meski begitu, Ponirin mengaku belum pernah mendengar kisah langsung dari orang yang benar-benar melakukan perjalanan spiritual hingga menembus goa-goa tersebut.
“Kalau cerita orang bertemu sosok penjaga goa atau makhluk gaib saat semedi, itu sering,” ujarnya.
Hingga kini, Goa Pawon tetap menjadi ruang sunyi yang menyimpan perpaduan keindahan alam, sejarah perjuangan, dan kisah spiritual.
Di tengah geliat wisata alam Banyuwangi, Goa Pawon menjadi pengingat bahwa masih ada tempat-tempat yang dijaga bukan hanya oleh alam, tetapi juga oleh keyakinan dan kearifan lokal masyarakat sekitarnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin