RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, aktivitas berlibur ternyata tetap sulit ditinggalkan.
Liburan kini telah bergeser menjadi kebutuhan sekunder yang dianggap penting untuk menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup. Namun, cara masyarakat berwisata mengalami penyesuaian.
Pilihan pun jatuh pada destinasi yang lebih hemat biaya, termasuk berwisata di dalam kota atau mengunjungi daerah dengan biaya hidup rendah seperti Banyuwangi, Sleman, dan Probolinggo.
Kondisi ekonomi yang dinamis di penghujung tahun membuat banyak warga memutar otak agar tetap bisa menikmati liburan tanpa membuat keuangan jebol.
Strategi wisata hemat menjadi tren, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih tujuan liburan.
Fenomena tersebut turut menjadi perhatian Tim Jurnalisme Data Harian Kompas, yang dikutip di laman banyuwangitourism.com.
Mengutip tayangan YouTube KOMPAS TV, analis data Albertus Krisna memaparkan hasil kajian mendalam terkait pemetaan destinasi wisata paling ramah di kantong namun tetap berkualitas.
Analisis ini tidak semata-mata mengutamakan harga murah, melainkan juga mempertimbangkan kualitas pengelolaan destinasi, kelengkapan atraksi, infrastruktur wisata, serta kemudahan akses transportasi.
Dalam kajian tersebut, terdapat total 15 variabel wisata murah yang terbagi dalam tiga komponen utama.
Komponen pertama adalah pengelolaan destinasi wisata, yang memiliki bobot tertinggi sebesar 40 persen.
Komponen ini mencakup variabel atraksi wisata, aksesibilitas, serta fasilitas dan layanan pendukung seperti akomodasi dan jasa wisata.
“Metodologi penilaian yang digunakan dibagi menjadi tiga komponen utama. Komponen pertama adalah pengelolaan destinasi wisata yang memegang bobot tertinggi, yakni sebesar 40 persen. Di dalamnya mencakup kualitas daya tarik wisata, kemudahan aksesibilitas, hingga ketersediaan fasilitas penunjang seperti hotel dan layanan jasa biro perjalanan berbasis komunitas lokal,” kata Albertus Krisna atau yang akrab disapa Bertus, 24 Desember 2025.
Komponen kedua adalah pertumbuhan ekonomi wisata dengan bobot 30 persen.
Pada komponen ini, terdapat empat variabel yang dianalisis, yakni jumlah wisatawan domestik, rata-rata lama menginap wisatawan domestik, tingkat hunian kamar hotel, serta besaran pengeluaran wisatawan.
Variabel tersebut digunakan untuk mengukur seberapa hidup ekosistem pariwisata di suatu daerah.
“Melalui data ini, kami ingin melihat apakah destinasi tersebut benar-benar aktif dan diminati. Wisatawan tidak hanya mendapatkan harga murah, tetapi juga pengalaman wisata yang dinamis,” jelas Bertus.
Sementara itu, komponen ketiga adalah indeks harga murah dengan bobot 30 persen. Komponen ini melibatkan sejumlah variabel krusial bagi pelancong hemat, seperti rata-rata harga penginapan, ulasan hotel melati di media sosial, jumlah dan peran UMKM lokal, rata-rata tarif sewa motor dan mobil, hingga harga paket wisata.
“Komponen terakhir ini sangat menentukan bagi wisatawan dengan anggaran terbatas. Keberadaan UMKM, tarif transportasi lokal, dan paket wisata menjadi faktor penting dalam menentukan daya tarik sebuah daerah,” imbuhnya.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, Banyuwangi dinilai sebagai salah satu destinasi wisata paling ideal bagi pelancong hemat, khususnya pecinta alam dan wisata petualangan.
Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini dianggap memiliki keseimbangan terbaik antara biaya yang dikeluarkan dengan fasilitas serta pengalaman wisata yang diperoleh.
Keunggulan Banyuwangi terletak pada ragam atraksi alamnya yang lengkap, mulai dari pantai, gunung, hingga kawasan konservasi, dengan dukungan aksesibilitas yang relatif mudah dan biaya hidup yang masih terjangkau.
Selain itu, peran UMKM lokal dalam menyediakan kuliner dan layanan wisata turut menekan biaya pengeluaran wisatawan.
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan bahwa liburan yang menyenangkan tidak selalu identik dengan biaya mahal.
Dengan perencanaan yang cermat dan mempertimbangkan berbagai variabel, mulai dari pengelolaan destinasi hingga keterlibatan ekonomi lokal, masyarakat tetap dapat berwisata secara cerdas.
Meski harga menjadi pertimbangan utama, kualitas pelayanan, kelengkapan fasilitas, serta kemudahan akses tetap menjadi faktor pelengkap yang membuat pengalaman liburan akhir tahun tetap berkesan, meskipun dijalani dengan anggaran terbatas. (*)
Editor : Ali Sodiqin